RADARMAGELANG.ID, Magelang – Pemprov Jateng terus memperkuat kerja sama lintas daerah dalam pengembangan kawasan aglomerasi pariwisata Rawa Pening–Kopeng–Borobudur.
Pegiat pariwisata di Kabupaten Magelang menyambut baik dan mengingatkan masih banyak pekerjaan rumah (PR) yang perlu diperhatikan.
Menurut Ketua Forum Daya Tarik Wisata (DTW) Kabupaten Magelang Edward Alfian, program Gubernur Jateng terkait aglomerasi pariwisata Rawa Pening–Kopeng–Borobudur ini sangat bagus dan positif.
Program ini diharapkan calon wisatawan yang ingin berwisata ke kawasan Kabupaten Semarang, Magelang, dan daerah sekitarnya tidak hanya melulu lewat jalan tol.
“Tapi pemerintah perlu mengoptimalkan dan memaksimalkan jalur aksesnya. Kami berharap adanya sarana transportasi penghubung kawasan. Jadi, nanti dari Rawa Pening, Kopeng, ke Borobudur ada sarana transportasi penunjang. Mungkin bisa penambahan jalur trayek bus Trans Jateng,” katanya saat menghadiri FGD Masterplan Aglomerasi Borobudur - Kopeng - Rawa Pening di Trio Front One Resort Magelang, Rabu (3/12/2025).
Selain akses transportasi, fasilitas penunjang kawasan aglomerasi juga perlu ditingkatkan.
Mulai daya tarik wisata lainnya, penginapan, hingga kuliner harus benar-benar disiapkan secara baik.
“Sehingga jika calon wisatawan mau berkunjung dari Rawa Pening, Kopeng, maupun Borobudur, di tengahnya harus ada daya tariknya. Misalnya, di antara Kopeng ke Borobudur, ada destinasi Ketep Pass, kemudian beraneka ragam tempat wisata alamnya, dan ini perlu disinkronkan juga,” ujarnya.
Dengan begitu, lanjut dia, calon wisatawan tidak merasa jenuh.
Sebab, jika di tengah-tengahnya tidak ada yang menarik, mereka pasti akan kembali memilih akses jalan tol yang lebih cepat.
Alfian mengaku, kawasan ini harus terhubung dan terintegrasi dengan bagus.
Juga fasilitas yang ada harus benar-benar siap.
Karena selama ini, baik transportasi hingga fasilitas penunjang pariwisata, menurutnya masih belum memadai dan perlu ditingkatkan.
“Misalnya, untuk jalan perlu ditingkatkan lebih jauh. Bahkan jalan dari jalur Kopeng ke arah Canguk Kota Magelang juga masih kecil, apalagi kalau malam hari,” terangnya.
Direktur PT Taman Wisata Borobudur (TWB) Mardijono Nugroho juga menyambut baik hadirnya program aglomerasi pariwisata Rawa Pening–Kopeng–Borobudur.
Hal ini, menurutnya, bisa menjadi langkah positif untuk pengembangan kawasan.
“Bagaimana kunjungan itu tidak hanya berfokus di salah satu destinasi, tapi bisa berkembang ke destinasi wisata lainnya,” ujarnya.
Kabid Pengembangan Destinasi Pariwisata Disporapar Jateng Aria Chandra Destianto menyebut kawasan ini memiliki potensi besar sebagai segitiga emas pariwisata yang menghubungkan Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Magelang.
“Pembangunan Tol Bawen–Jogja akan memperkuat konektivitas antardestinasi dan mendorong pemerataan kunjungan wisatawan,” tandasnya.
Menurutnya, Borobudur memang menjadi magnet utama wisatawan, namun potensi kawasan lain, seperti Rawa Pening dan Kopeng perlu diangkat agar manfaat ekonomi pariwisata lebih merata.
Karena itu, Disporapar menekankan model pariwisata berbasis komunitas sebagai ruh utama dalam penyusunan masterplan.
“Keberhasilan pengembangan aglomerasi wisata ini bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Keterlibatan OPD, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas lokal menjadi kunci membangun ekosistem wisata yang inklusif dan berdaya saing,” katanya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto