Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Pahlawan-Pahlawan Terlupakan Dalam Sejarah Kota Magelang Kembali Diangkat Ceritanya  

Magang Radar Magelang • Selasa, 25 November 2025 | 05:37 WIB

Komunitas Kota Toea Magelang menghadirkan pameran Pahlawan Tak Terlupakan di Gedung Loka Budaya, Kota Magelang, Minggu (23/11/2025).
Komunitas Kota Toea Magelang menghadirkan pameran Pahlawan Tak Terlupakan di Gedung Loka Budaya, Kota Magelang, Minggu (23/11/2025).

RADARMAGELANG.ID, Magelang Pameran Pahlawan Tak Terlupakan yang digelar oleh Komunitas Kota Toea Magelang berupaya menyajikan tokoh-tokoh pahlawan yang jarang tersebut dalam sejarah.

Pameran ini mengangkat peran dan kontribusi penting tokoh-tokoh dari berbagai etnis dan negara bagi kemerdekaan bangsa Indonesia. Beberapa tokoh yang diangkat berasal dari etnis Tionghoa, Arab, Jepang, Korea, Jerman, Skotlandia, dan sebagainya.

Koordinator acara, Bagus Priyana mengatakan, Indonesia ini dibangun tidak hanya dari satu kaki, etnis, atau daerah saja. Tetapi dibangun oleh beragam etnis, suku bangsa, latar belakang, agama, dan lainnya.

“Artinya bahwa Indonesia ini berdiri tidak hanya di atas satu kaki, tapi banyak. Itulah yang membuat Indonesia kokoh,” kata Bagus, di sela pameran yang berlangsung di Loka Budaya, Kota Magelang, Minggu (23/11/2025).

Melalui pameran ini, pihaknya menginginkan masyarakat dapat belajar sejarah dari para pahlawan yang “terlupakan”.

Dengan harapan, mereka menjadi jatuh cinta, dan mengenang perjuangan mereka—sebagai bentuk penghormatan anak bangsa kepada pahlawan-pahlawan yang jarang  disebut namanya dalam cerita sejarah.

“Karena dengan seperti itu kita bisa menghargai jasa-jasa mereka, menumbuhkan nasionalisme, menumbuhkan patriotisme, menumbuhkan kecintaan terhadap Indonesia, bahwa sebenarnya Indonesia itu adalah bangsa yang besar, bangsa yang berdiri di atas beragam suku, agama, ras, dan antar golongan,” jelasnya.

Salah satu tokoh pahlawan yang disorot dalam pameran ini adalah Mitsuyuki Tanaka atau dikenal dengan nama Sutoro oleh orang Indonesia pada masanya. Penggantian nama Sutoro menjadi bukti kecintaaan Tanaka terhadap Indonesia. Ia melepaskan diri dari tentara Jepang, dan memilih bergabung dengan Badan Keamanan Rakyat (BKR) di Magelang tahun 1945.

Tanaka kemudian memperistri Suparti, warga pribumi, berasal dari Desa Brengkel, Salaman, Kabupaten Magelang.

Tanaka menjadi sosok penting dalam peristiwa sejarah Kota Magelang saat pengibaran bendera Merah Putih di Gunung Tidar pada 25 September 1945. 

Kala itu, tentara Jepang menembaki para pejuang yang sedang turun dari Gunung Tidar dari markas Ken Pei Tai di Jalan Tidar (kini SMK Wiyasa). Tanaka membalas tentara Jepang itu dengan menembaki mereka demi melindungi para pejuang.

Menariknya, Tanaka juga berperan penting dalam pertempuran di Palagan Magelang pada 31 Oktober 1945. Dua pesawat cocor merah milik Belanda berhasil ditembak jatuh oleh Tanaka dari atas watertoren (menara air minum) di Alun-Alun Kota Magelang. Kedua pesawat itu jatuh di dua lokasi berbeda, yaitu Kaliangkrik dan Sapuran.

Tidak hanya itu, sebagai bukti kepeduliannya terhadap para pejuang kemerdekaan Indonesia, Tanaka berhasil membobol gudang senjata milik Inggris di komplek tangsi militer (Kini Komplek Rindam IV Diponegoro). Saat itu, Tanaka dipercayai Inggris untuk membawa kunci gudang senjata milik mereka, namun ia diam-diam membagikan senjata-senjata untuk para pejuang.

Saat sekutu mengambil alih kekuasaan Jepang di Indonesia, para tentara Jepang menyerah dan mundur kembali ke negaranya akibat pengeboman Amerika Serikat di Hiroshima dan Nagasaki. Sekutu menawarkan para tentara Jepang untuk kembali ke negaranya atau tetap menjadi pasukan di Indonesia, sehingga Tanaka tetap memilih menjadi pasukan yang membantu para pejuang kemerdekaan Indonesia.

Ini menjadi bukti jasa dan kebesaran hati seorang Tanaka yang lahir di Jepang, di mana ia memilih untuk membela kemerdekaan Indonesia, serta hidup dan berkeluarga hingga wafat di Indonesia.

Salah satu pengunjung pameran yang merupakan penikmat sejarah, Shery Adhy, mengaku tertarik dengan pameran ini karena membahas pahlawan yang sebelumnya tidak pernah terpikirkannya.

“Ternyata bukan orang asli Indonesia, tapi banyak yang imigran, yang tadinya mungkin orang tuanya, kakek neneknya datang ke Indonesia lalu lahir di sini. Mereka ingin mewujudkan negara yang merdeka tidak di bawah Belanda lagi. Saya tertarik ke sini untuk mendalami cerita mereka, karena sebelumnya, saya tidak pernah mendapat cerita tentang mereka,” ujar Shery.

Pameran Pahlawan Tak Terlupakan berlangsung dari 21-23 November. Menariknya, pada acara bincang sejarah, Komunitas Kota Toea Magelang menghadirkan salah satu anak Mitsuyuki Tanaka, yaitu Sugiyon Tanaka untuk menjadi narasumber diskusi. (mg1/put)

Editor : H. Arif Riyanto
#pahlwan nasional #loka budaya #Kota Toea Magelang #Bagus Priyana