Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Sani Pottery, Kerajinan Gerabah Sejak Era Mataram Kuno

Magang Radar Magelang • Sabtu, 11 Oktober 2025 | 00:01 WIB
Markoni, pemilik galeri kerajinan gerabah Sani Pottery yang merupakan keturunan asli jaman Kerajaan Mataram Kuno yang masih menjaga kelestarian kerajinan gerabah
Markoni, pemilik galeri kerajinan gerabah Sani Pottery yang merupakan keturunan asli jaman Kerajaan Mataram Kuno yang masih menjaga kelestarian kerajinan gerabah

RADAR MAGELANG.ID - Di tengah era modernisasi, melestarikan budaya menjadi tantangan tersendiri bagi masyarakat lokal. Berkembangnya teknologi serta pola pikir manusia menyebabkan kebudayaan sering dianggap sebagai hal kuno. Namun di sebuah wilayah yang berlokasi di Dusun Klipoh, Borobudur, masih sangat menjaga sekaligus melestarikan jejak peradaban kerajinan tanah liat. Salah satunya adalah Sani Pottery, yakni sebuah galeri pengrajin gerabah yang tidak hanya menjual produk fisik namun juga menyimpan kisah sejarah dibalik setiap bentuk gerabah yang diciptakan.

Sani Pottery didirikan oleh Markoni, 55, pada saat pandemi Covid-19 berakhir. Galeri ini bermula dari pendampingan usaha gerabah milik rekan Markoni yang merupakan pionir pengrajin gerabah Borobudur bernama Supoyo. Melalui pengalaman membersamai temannya tersebut, Markoni kemudian mulai mendirikan usahanya sendiri dengan konsep yang ia kembangkan secara mandiri dan berbeda dari yang lain yakni menjual nilai budaya melalui storytelling. “Kami ingin menjual budaya, bukan hanya sekedar produk,” ujar Markoni saat diwawancarai oleh tim Radar Magelang.

Sejarah Panjang Kerajinan Gerabah Borobudur

Tradisi pembuatan gerabah di Dusun Klipoh memiliki kisah awal yang panjang hingga ke abad-7 Masehi, lebih tepatnya saat wilayah Klipoh menjadi bagian dari Kerajaan Medang atau Mataram Kuno. Pada masa tersebut, Raja Samaratungga dari Wangsa Syailendra abad ke-9, masyarakat lokal diminta untuk membuat peralatan dapur untuk kerajaan, dengan bahan utama yaitu tanah liat. Kaum laki laki pada masa itu mengerjakan pekerjaan kasar, sedangkan perempuanlah yang membuat peralatan masak tersebut dari tanah liat, bukti sejarah ini terukir dalam relief Candi Borobudur.

Dusun Klipoh dipilih karena faktor geografis dan keahlian leluhur mereka dalam membuat gerabah. Nenek moyang warga Klipoh diyakini berasal dari kawasan Ayodya, Prambanan, lalu dipindahkan ke Borobudur untuk memenuhi kebutuhan gerabah pasca pembangunan candi. Kini, para pengrajin di Klipoh merupakan keturunan ke-22 dari pembuat gerabah pada masa itu.

Dusun Klipoh menjadi sentra pengrajin tanah liat karena faktor geografis dan keahlian leluhur dalam membuat kerajinan gerabah. Pada jaman dahulu, nenek moyang warga setempat diyakini berasal dari kawasan bernama Ayodya, Prambanan. Lalu diperintahkan untuk berpindah ke Borobudur dalam rangka memenuhi kebutuhan gerabah pasca pembangunan Candi. Hingga kini pengrajin di Dusun Klipoh merupakan keturunan ke 22 dari pembuat gerabah pada masa itu.

Makna di Balik Nama Sani Poetry

Nama Sani Pottery sendiri memiliki pengertian tersendiri dari Markoni. “Sani” diambil dari nama ibu Markoni, sedangkan “Pottery” diambil dalam bahasa inggris yang berarti gerabah. Markoni berharap usaha gerabahnya akan maju apabila mengharap restu dari ibunya.

Sani Pottery berkembang bukan hanya sebagai tempat pembuatan gerabah, tetapi juga galeri wisata edukatif. Pengunjung yang datang tidak hanya bisa membeli atau membuat gerabah, tetapi juga mendengarkan kisah sejarah Borobudur dan perjalanan budaya tanah liat melalui sesi storytelling langsung dari Markoni. “Storytelling inilah yang membedakan Sani Poetry dengan tempat lain. Semua pengrajin bisa membuat gerabah, tapi tidak semua bisa bercerita tentang sejarahnya,” tambahnya.

Dari Tanah Liat hingga Storytelling yang Hidup

Tahapan pembuatan dan proses produksi di Sani Pottery masih mempertahankan ajaran leluhur. Tanah liat digiling hingga halus, kemudian dibentuk menggunakan meja putar atau jika bentuknya rumit menggunakan cetakan. Lalu dijemur sekitar 10 hari sebelum akhirnya dibakar selama satu hingga 2 hari dan diberi warna menggunakan daun trembesi agar menjadi warna coklat yang alami.

Setiap jenis produk yang dibuat, mulai dari alat dapur, gelas, hingga patung memiliki cerita dan kisah dibalik terciptanya kerajinan tersebut. Misalnya dua patung yang pernah dibuat bernama Ki Surodipo dan Nyai Surodipo yang menggambarkan tokoh likal pada masa Mataram Kuno. “Setiap kerajinan memiliki nama dan kisahnya masing masing, kisah inilah yang menjadi magic sehingga menjadi daya tarik utama Sani Pottery,” ujar Markoni

Pengrajin Perempuan dan Larangan bagi Laki-Laki

Uniknya, semua pengrajin gerabah yang ada di dusun Klipoh khususnya galeri Sani Pottery adalah perempuan. Warga Klipoh masih berpegang teguh dengan kepercayaan leluhurnya bahwa membuat gerabah hanya boleh dilakukan oleh perempuan, sedangkan laki-laki ditugaskan untuk pekerjaan berat saja. Bahkan menurut cerita dari markoni terdapat legenda tentang seorang pria bernama Cokro Tukul yang hidupnya sengsara setelah mencoba membuat gerabah.

Markoni sendiri sebagai pelopor galeri gerabah tidak bisa membuat gerabah, tetapi berperan penting sebagai pengelola dan pengembang usaha. “Saya ini entrepreneur, bukan pengrajin. Tapi saya tahu bagaimana menjual nilai budaya agar tetap hidup,” jelasnya.

Menolak Viral, Mengandalkan Cerita Mulut ke Mulut

Meski media sosial di era sekarang menjadi mesin utama dalam sarana promosi, Markoni lebih memilih jalur yang berbeda, dirinya lebih mengandalkan word of mouth  atau promosi dari mulut ke mulut. Karena baginya, sebuah produk yang viral akibat media sosial tidak akan bertahan lama dan cenderung cepat meredup.

Saat ini, 90 persen penjualan Sani Poetry berasal dari pengunjung langsung. Konsumen datang, belajar, atau sekadar membeli produk, yang kemudian dikirim ke berbagai daerah seperti NTT, Kalimantan Timur, hingga Kepulauan Riau.

Saat ini sekitar 9- persen penjualan yang dihasilkan Sani Pottery berasal dari pengunjung yang datang langsung, ikut belajar, atau hanya sekedar membeli produk. Sani Pottery juga telah mengirimkan barang hingga ke NTT, Kalimantan Timur, hingga Kepulauan Riau

Warisan Budaya yang Terus Bersinar

Setiap hari, Sani Pottery mempekerjakan karyawan sebanyak 3 hingga 4 orang, bahkan terkadang hingga 10 orang apabila dalam kondisi konsumen ramai. Seluruh karyawan yang dimiliki Markoni berasal dari warga lokal. Dari segi pelestarian, warga setempat juga membuat sebuah wadah untuk belajar menjadi pengrajin gerabah yakni komunitas bernama Lemah Urip, sebagai bentuk fasilitas yang diberikan agar budaya kerajinan gerabah yang turun temurun ini tidak hilang termakan modernisasi.

Bagi Markoni, kesuksesan bukan hanya soal material atau keuntungan saja, namun juga tentang sebuah kebebasan untuk berkarya dan hidup tanpa tekanan. “Kesuksesan bagi saya itu ketika saya sudah merasa merdeka, bebas secara finansial walau uang saya tidak sebanyak orang lain, namun batin saya hidup tanpa tekanan,” ujar Markoni menutup perbincangan. (mg5/mg4)

Editor : H. Arif Riyanto
#Syailendra #enterpreneur #teknologi #mataram #galeri #Pottery #borobudur #candi #Sanjaya #Magic #modernisasi #gerabah #prambanan