RADARMAGELANG.ID - Magelang, Komunitas Kota Tua Magelang kembali menggelar kegiatan DJelajah Spoor #7 pada Minggu (21/09/2025) mulai pukul 07.30 hingga 14.00 WIB.
Mengusung tema “Walking Heritage Tour”, kegiatan ini mengajak masyarakat menelusuri jejak sejarah perkeretaapian di Kota Magelang melalui walking tour sejauh 6,5 kilometer, dari Stasiun Magelang Kota hingga Stasiun Payaman.
Titik kumpul peserta ditetapkan di Museum Jenderal Sudirman, Jalan Ade Irma Suryani, Taman Bada'an, Kota Magelang.
Para peserta diajak menyusuri bekas jalur rel kereta yang kini sebagian besar telah hilang atau tertutup pembangunan, sambil mendengarkan penjelasan sejarah dan kisah-kisah menarik seputar masa kejayaan kereta api di wilayah ini.
Kegiatan ini berada di bawah koordinasi Bagus Priyana, yang juga dikenal sebagai pegiat pelestarian sejarah dan budaya di Magelang.
Ia menjelaskan bahwa DJelajah Spoor #7 tidak hanya bertujuan untuk edukasi sejarah, tetapi juga sebagai bentuk peringatan Hari Kereta Api Nasional yang jatuh pada 28 September.
Bagus juga menegaskan bahwa kegiatan ini digelar secara mandiri tanpa sponsor, murni atas dasar semangat kolektif untuk menjaga ingatan masyarakat terhadap jejak rel yang pernah berjaya di masa lalu.
Biaya pendaftaran sebesar Rp50.000 per orang sudah mencakup makan siang, air mineral, kudapan, dan transportasi kembali ke titik awal.
Para peserta disarankan mengenakan pakaian berwarna terang, topi untuk melindungi dari panas, dan sepatu yang nyaman untuk berjalan kaki.
Kegiatan ini mendapat antusiasme tinggi dari masyarakat.
Lebih dari 100 peserta mengikuti acara ini, termasuk dari berbagai komunitas pejalan kaki dan pencinta sejarah.
Salah satu peserta, Ibu Ninik, 60, turut memeriahkan acara ini.
Meski usianya tidak lagi muda, ia tampak bersemangat menelusuri jalur rel tua bersama peserta lainnya.
"Pesertanya ramai, kalau seratusan orang lebih. Dari komunitas kami saja, Teman Sejalan, ada dua puluhan yang ikut," ujar Ninik.
Dengan konsep “Walking Heritage Tour”, DJelajah Spoor #7 menawarkan pengalaman berjalan kaki yang bukan sekadar rekreasi, tetapi juga sarana belajar dan mengenang.
Tema ini dipilih untuk menekankan pentingnya pelestarian sejarah melalui pendekatan langsung di lapangan, menyentuh ruang-ruang yang masih menyimpan jejak masa lalu. (mg6/mg3)
Editor : H. Arif Riyanto