Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Sakato Art Community Tampilkan Pluralisme dalam Pameran Guru Terkembang jadi Bentuk di Museum OHD Magelang

Puput Puspitasari • Kamis, 19 Juni 2025 | 04:04 WIB
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono melihat-lihat karya dari seniman Sakato Art Community yang berpameran di Museum OHD Kota Magelang, Rabu (18/5/2025).
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono melihat-lihat karya dari seniman Sakato Art Community yang berpameran di Museum OHD Kota Magelang, Rabu (18/5/2025).

RADARMAGELANG.ID, Magelang Pameran Guru Terkembang jadi Bentuk menandai kemeriahan perayaan ulang tahun ke-30, Sakato Art Community (SAC).

Mereka menampilkan 70 karya yang menghiasi dinding dan sudut-sudut Museum OHD milik kolektor ternama Dokter Oei Hong Djien.

Dalam catatan sang kurator Asmudjo J Irianto dan Anton Rais Makoginta—tema ini mengacu pada falsafah Minangkabau “Alam Terkembang jadi Guru”.

Sebuah ajaran dan pandangan hidup yang sebenang merah dengan pepatah, petitih, pituah, mamangan, dan percakapan sehari-hari.

Baca Juga: Ke Museum OHD Magelang Bayar Setengahnya Saja, Emang Bisa?

Keberagaman gaya, media, dan pendekatan visual yang ditampilkan pada pameran ini menunjukkan betapa proses sang seniman dirayakan. Mereka murid dari “guru”.

Guru di sini bisa diartikan dalam sebuah pengalaman dan segala yang “hidup” di alam semesta.

Guru bisa terkembang atau hadir dalam rupa tradisi lisan, lanskap perantauan, pergaulan lintas budaya.

Erizal AS, perupa yang juga sebagai dewan pembina Sakato menyebut, di awal kemunculan Sakato pada 1995 silam, kini anggotanya terus bertumbuh mencapai 120 orang.

Dokter Oei Hong Djien (kiri) saat memberikan keterangan pers  pameran karya seniman Sakato Art Community di Museum OHD Kota Magelang.
Dokter Oei Hong Djien (kiri) saat memberikan keterangan pers pameran karya seniman Sakato Art Community di Museum OHD Kota Magelang.

Anggota Sakato merupakan warga Minang, yang betah berkesenian di Jogjakarta.

Kurator dari Sakato, Anton Rais Makoginta menjelaskan, pameran ini menampilkan karya dari 61 perupa.

Ia katakan, karya mereka sangat beragam.

Baik dari sisi material, aliran, dan lainnya.

Karya-karya yang dipamerkan ini merupakan visual dari hasil mereka berguru.

“Karena guru itu bisa berkembang jadi apa saja. Apa yang ada di dunia ini, bisa menjadi guru mereka,” tegas Anton—sapaan akrabnya.

Kurator Asmudjo J Irianto juga berpendapat, medan seni kontemporer di Indonesia menunjukkan pluralitas atau keberagaman.

Baca Juga: Pameran Seni “Merefleksi 100 Tahun Surrealisme Andre Breton” di OHD Museum Magelang

Meski Sakato merupakan kelompok seni yang primordial, mereka memberikan kemerdekaan bagi setiap anggota untuk berekspresi.

“Di pameran ini, kita bisa melihat berbagai karya dengan banyak aliran. Ada geometris formalis, dekoratif, abstrak, dan lainnya,” imbuhnya.

Dokter Oei Hong Djien mengekspresikan kebahagiaannya saat pembukaan pameran tersebut.

Ia bahkan mempersembahkan permainan biola dengan lagu berjudul  Juwita Malam.

Dalam kesempatan itu, Dokter Hong Djien juga menceritakan awal pertemuan dengan Sakato.

“Saya kenal mereka (seniman Sakato) saat senimannya masih mahasiswa. Saya beli karya mereka. Dan sekarang, mereka sudah menjadi seniman top di Indonesia,” ujarnya dengan penuh rasa bangga.

Baca Juga: Museum OHD, Pamerkan 128 Lukisan Karya Gus Mus

Ia menyukai karya-karya dari seniman Sakato, karena karya seni mereka nonfiguratif.

Lebih banyak macamnya.

Wali Kota Magelang Damar Prasetyono yang hadir membuka pameran ini optimistis seni rupa di Kota Magelang akan semakin berkembang.

Ia berkomitmen menghidupkan museum, agar bisa dikunjungi seluruh lapisan masyarakat.

“Museum selain sebagai tempat edukasi untuk masyarakat, ke depan akan kita garap menjadi tujuan-tujuan wisata,” imbuhnya. (put/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#OHD #Pameran Seni Rupa #OEI HONG DJIEN #Wali Kota Magelang Damar Prasetyono