RADARMAGELANG.ID, Magelang—Konsep acara Magelang Tempo Doeloe (MTD) yang ngangeni sukses menghipnotis pengunjung.
Alun-alun disulap menjadi arena permainan tradisional, panggung kesenian, juga dipenuhi ratusan stan kuliner nusantara, beserta pernak-pernik lawasannya.
Pencahayaan lampu dengan nuansa temaram dihadirkan untuk memberi kehangatan dan membangkitkan romansa pengunjung yang sedang bernostalgia.
Di MTD ini, pengujung bisa menemukan barang-barang kuno yang mulai sulit ditemukan di pasaran. Bahkan telah menjadi barang langka.
Kolektor arsip lawasan asal Kota Gethuk, Haris Kertoraharjo menyebut MTD tidak sekadar acara biasa.
Tersirat pesan mendalam agar pengunjung tak hanya mengenang masa-masa lampau, tapi juga menjadi bahan edukasi bagi mereka generasi baru.
"Saya senang melihat pengunjung yang datang tidak hanya melihat-lihat saja, tapi mereka bertanya ini apa dan itu apa. Artinya, mereka memang ingin tau apa saja yang tersaji di lapak-lapak MTD," jelas Haris, salah satu peserta.
Haris yang menyukai barang-barang lawas pun memiliki pendapat. Bahwa MTD mampu membangkitkan "gairah" masyarakat mencintai budaya lokal.
Juga menghargai sejarah-sejarah bangsa.
Wali Kota Magelang Damar Prasetyono juga berpendapat yang sama. MTD mampu membangkitkan semangat perjuangan masyarakat untuk meneruskan kemerdekaan dan menghargai sejarah yang diperjuangkan oleh para leluhur, para pahlawan.
Banyak perlawanan rakyat dan pertempuran yang "berdarah" terjadi di Kota Magelang dalam merebut kemerdekaan.
"Bagi generasi muda, acara ini penting. Bangsa yang besar adalah bangsa yang bisa menghargai budaya," tambahnya.
Ke depan, Pemkot Magelang akan memberikan dukungan yang lebih besar lagi untuk penyelenggaraan MTD.
Acara ini juga menjadi simbol persahabatan dengan daerah lainnya di Kedu Raya dalam mempromosikan pariwisata, karena antara daerah satu dengan yang lainnya memiliki ikatan dalam perjalanan kemerdekaan dan peradaban. (put/aro)
Editor : H. Arif Riyanto