RADARMAGELANG.ID, Magelang – Menyambut hari raya Nyepi pada Sabtu, 29 Maret, umat Hindu di Magelang mengadakan upacara Tawur Kesanga atau Mecaru, Jumat (28/3/2025).
Tujuannya untuk menjaga, melestarikan, serta menyucikan bhuana agung atau alam semesta dan bhuana alit atau manusia. Keesokan harinya, umat Hindu mulai melaksanakan catur brata penyepian.
Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Kabupaten Magelang I Gede Mahardika mengutarakan, rangkaian perayaan Hari Raya Nyepi diawali dengan pengambilan air suci atau Melasti di Tuk Mas, Grabag pada Minggu (23/3/2025).
Barulah pada Jumat (28/3/2024) dilakukan upacara tawur kesanga atau Mecaru di halaman Pura Wira Bhuana.
“Setelah upacara Mecaru ini, dilanjutkan dengan persembahyangan Ngrupuk atau bersih-bersih,” jelas Gede Mahardika.
Ia mengatakan, untuk pelaksanaan upacara kali ini hanya diikuti perwakilan umat saja.
Sebab, sejumlah umah Hindu ada yang berangkat di Candi Prambanan, untuk menjalani upacara Tawur Kesanga.
Selain itu, sebagian besar umat Hindu yang tinggal di Magelang pulang ke kampung halamannya, Bali.
Termasuk para taruna Akademi Militer (Akmil) dan siswa SMA Taruna Nusantara.
“Sehingga untuk rangkaian upacara tahun ini, kita laksanakan secara sederhana, tanpa adanya ogoh-ogoh. Lantaran bertepatan juga dengan Ramadan dan libur Lebaran,” ucapnya.
Lazimnya, ogoh-ogoh menjadi bagian dari rangkaian pelaksanaan Mecaru. Tujuannya untuk menetralisasi sifat-sifat buruk manusia.
Sifat-sifat itu lantas diwujudkan dalam bentuk ogoh-ogoh. “Meskipun tahun ini tidak ada. Semoga tahun depan ada,” harapnya.
Usai upacara Mecaru, kata dia, dilanjutkan dengan persembahyangan Ngrupuk atau bersih-bersih.
Untuk memohon kepada Sang Hyang Widhi agar mendapat berkah keselamatan dalam pelaksanaan catur brata penyepian.
"Umat Hindu melaksanakan pergantian tahun justru dengan sepi, ketenangan," ujarnya di sela upacara.
Kemudian, kata Gede Mahardika, proses topo brata mulai dilakukan Sabtu (29/3/2025) pukul 06.00, sampai Minggu (30/3/2025) pagi pukul 06.00.
Ia menjelaskan, catur brata penyepian terdiri atas empat hal. Di antaranya amati geni atau tidak menyalakan api.
Tidak hanya api saja, termasuk juga api yang ada dalam diri manusia, yakni amarah. Dengan kata lain, setiap umat diminta untuk mengendalikan api hawa nafsu.
Kemudian, amati karya atau tidak bekerja. Umat Hindu tidak diperbolehkan melakukan pekerjaan selama 24 jam agar lebih berkonsentrasi dan instrospeksi diri selama di rumah. Lalu, amati lelungan atau tidak bepergian kemana-mana.
Termasuk di dalamnya menghargai waktu dan kesempatan sebaik-baiknya untuk kebaikan.
Terakhir, amati lelanguan atau tidak berhura-hura maupun bersenang-senang. Namun, bagi umat yang mampu, ada pula mona brata atau tidak berbicara.
"Besok (Sabtu) catur brata penyepian ini berlangsung mulai pukul 06.00 sampai Minggu pukul 06.00, jadi 24 jam. Kami melaksanakan doa dan sembahyang di rumah," paparnya. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo