Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Kwee Giok Yong Bangun Masjid Bergaya Arsitektur Tiongkok di Kota Magelang, Memeluk Islam Sejak 10 Tahun Setelah Salat Tarawih

Puput Puspitasari • Kamis, 21 Maret 2024 | 14:05 WIB
Fasad bangunan Masjid Al-Mahdi bergaya arsitektur Tiongkok. Masjid ini berada di Jalan Delima, Komplek Perumahan Armada Estate, Magelang Utara, Kota Magelang.
Fasad bangunan Masjid Al-Mahdi bergaya arsitektur Tiongkok. Masjid ini berada di Jalan Delima, Komplek Perumahan Armada Estate, Magelang Utara, Kota Magelang.

RADARMAGELANG.ID, Magelang--Warga keturunan Tionghoa, Kwee Giok Yong, membuat Kota Magelang semakin kaya dengan ragam keunikannya.

Ia membangun sebuah masjid bergaya arsitektur Tiongkok yang diberi nama Al-Mahdi.

Masjid ini didirikan di Jalan Delima, Kompleks Perumahan Armada Estate, Magelang Utara.

Penamaan masjid ini pun bersejarah bagi diri Kwee Giok Yong.

Ia bercerita, nama Mahdi dipilih untuk mengabadikan namanya setelah memeluk Islam pada usia 10 tahun.

Nama tersebut merupakan pemberian ustaz Habib Muhammad bin Hasan Alaydrus yang telah menuntunnya mengucapkan dua kalimat Syahadat pada 17 Ramadan, selepas salat tarawih.

Saat ini, ia lebih senang dipanggil Mahdi.

“Karena Mahdi punya arti yang baik. Artinya orang yang mendapat hidayah atau petunjuk,” kata pria 55 tahun itu kepada Jawa Pos Radar Magelang, Selasa (19/3/2024).

Lalu apa yang membuatnya tertarik menjadi seorang muslim?

Ketika kecil dan tinggal di Jakarta, sebagian besar teman-temannya beragama Islam.

Setiap Maghrib, suasana di sekitar rumahnya menjadi sepi.

Teman-temannya telah melaksanakan salat berjamaah dan mengaji di masjid.

“Akhirnya saya ikut ke masjid. Melihat dan mendengarkan mereka mengaji, hati saya terasa lebih tentram,” ungkapnya bercerita.

Ketertarikannya dengan Alquran itu makin membuncah.

Meski masih berstatus umat Konghucu, Mahdi nekat memperdalam Alquran.

Ia semakin terdorong masuk Islam.

Mahdi atau Kwee Giok Yong, pemilik Masjid Al-Mahdi Kota Magelang dijumpai di rumahnya, yang berada di sebelah masjidnya.
Mahdi atau Kwee Giok Yong, pemilik Masjid Al-Mahdi Kota Magelang dijumpai di rumahnya, yang berada di sebelah masjidnya.

Ia sempat menyembunyikan dirinya masuk Islam dari sang Ayah.

Sementara ibunya selalu menjaga Mahdi, ketika dirinya menunaikan salat.

Kemudian saat berbuka puasa, Mahdi diminta menahan 5-15 menit untuk tidak membatalkan puasanya, sampai ayahnya pergi.

“Saya ingat betul, ibu saya selalu melindungi saya,” ucapnya tersenyum, mengenang masa-masa itu.

Begitu juga ketika dirinya khitan atau sunat.

Ia sempat berbohong akan mengikuti pertandingan basket di luar kota.

Selama dua hari, ia bermalam di rumah temannya sambil menunggu masa pemulihan.

Namun ketika pulang, ia justru kesakitan. Ia tidak bisa berjalan normal.

“Jalan saya ngangkang, haha. Supaya nggak ketahuan ayah, ibu saya membuat parem kocok, kaki saya diperban, kalau ditanya kesleo, sampai jalannya pincang, haha,” ujarnya sambil tertawa mengingat peristiwa lucu itu.

Semakin lama, sang ayah mengetahui Mahdi menjadi muslim.

Namun ia ingat betul pesan dari ustaz yang membimbingnya.

Bahwa sebagai umat Islam harus berbakti kepada orang tua, memiliki pribadi yang santun dan menghormati orang tua.

“Seusia saya banyak yang merokok, saya enggak. Banyak yang minum-minuman keras, saya tidak. Dan saya membantu orang tua kerja, berkata baik. Lama-lama ayah saya tahu, oh ternyata orang Islam seperti ini. Bahkan pernah sudah tiba waktu salat, ayah saya yang mengingatkan untuk salat,” kenangnya.

Masjid Al Mahdi didirikan di Jalan Delima, Kompleks Perumahan Armada Estate, Magelang Utara.
Masjid Al Mahdi didirikan di Jalan Delima, Kompleks Perumahan Armada Estate, Magelang Utara.

Ia juga mengungkapkan, sebelum dirinya memeluk Islam, dua kakaknya terlebih dulu mualaf.

Kakak pertamanya mengubah namanya menjadi Taufiq, kakak nomor dua menjadi Hidayat.

Setelah menjadi muslim, pria asal Surabaya ini tidak pernah kepikiran ingin membangun masjid. “Waktu umur 10 tahun, mimpi saya nggak muluk-muluk. Sudah masuk Islam, sudah sangat luar biasa, itu keinginan terbesar saya,” tuturnya.

Bahkan berandai-andai pun tidak.

Bisa dibilang, ekonomi keluarga Mahdi pada saat itu cukup pas-pasan.

Ayahnya seorang sopir bus malam, ibunya tukang jahit.

Ia juga delapan bersaudara.

“Secara ekonomi, memang di bawah. Jangankan bangun masjid, makan saja sulit,” akunya.

Mahdi ingat betul saat mengalami masa-masa sulit.

Ia merasakan lapar, makan nasi hanya sehari sekali.

“Kalau nggak kuat beli beras, makan singkong. Tapi Alhamdulillah, berjalannya waktu dan atas kehendak Allah, saya bisa membangun masjid di sini (Kota Magelang, Red),” ucapnya tersenyum.

Masjid yang dibangun Mahdi pada 1 Agustus 2016 ini memiliki gaya khas arsitektur Tiongkok. Bangunan masjid ini dicat dengan kombinasi warna merah, kuning, dan hijau.

Mirip warna cat kelenteng.

Masjid ini juga dihiasi lampion yang bertuliskan lafal Allah dan nama Nabi Muhammad.

Masjid ini juga memiliki menara pengeras suara setinggi 5 meter.

Salat Dzuhur berjamaah di Masjid Al Mahdi di Jalan Delima, Kompleks Perumahan Armada Estate, Magelang Utara.
Salat Dzuhur berjamaah di Masjid Al Mahdi di Jalan Delima, Kompleks Perumahan Armada Estate, Magelang Utara.

Bentuknya  menyerupai pagoda.

Nuansa Islami pada masjid ini juga sangat terasa, terutama di dalam masjid.

Pada bagian dinding dan mimbar, dihiasi kaligrafi.

Namun demikian, masjid ini hanya mampu menampung 110 jamaah.

Di saat pelaksanaan salat Jumat, jamaahnya mencapai 250 orang, sampai meluber ke jalan.

Karena keunikannya, masjid ini menjadi daya tarik wisata religi di Kota Magelang.

Mahdi mengaku diajak Pemkot Magelang untuk mengembangkan wisata religi di Kota Getuk.

Jauh sebelum keinginan pemkot itu ditawarkan pada dirinya, hal itu sudah berjalan secara alami. 

“Banyak ibu-ibu majelis taklim di Jogja, Boyolali, dan lainnya, datang ke sini untuk wisata religi. Namun tidak sekadar foto-foto, kita berikan kajian 30 menit, setelah itu baru foto-foto dan melaksanakan salat di sini juga,” terangnya.

Ia ingin, masjid ini selalu ramai didatangi masyarakat yang ingin beribadah.

Karena itu, ia selalu menjaga kebersihan masjid, agar jamaah merasa nyaman dan tenang beribadah di masjid.

Selama Ramadan 1445 Hijriah, berbagai kegiatan kajian ilmu diadakan di Masjid Al-Mahdi.

Selain ada kuliah Subuh (Kulsub), ada pula membaca kitab pilihan atau mukhtara’ hadits, 45 menit menjelang berbuka puasa.

Lampion yang bertuliskan lafal Allah dan Nabi Muhammad dalam tulisan Arab di Masjid Al Mahdi Kota Magelang.
Lampion yang bertuliskan lafal Allah dan Nabi Muhammad dalam tulisan Arab di Masjid Al Mahdi Kota Magelang.

“Kitabnya kecil, tapi istimewa,” terang Mahdi.

Ia ingin, masjidnya menjadi pusat menambah hidayah.

Sehingga umat muslim tidak semakin jauh dengan Tuhannya dan agamanya.

Kajian rutin setiap Jumat, Sabtu, Minggu juga tetap dilanjutkan selama Ramadan.

Khusus di hari Selasa, ia memberikan materi kajian fiqih salat.

“Di sini kita tekankan banyak sekali kegiatan pengajian,” ujarnya. (put/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#ramadan #bulan puasa #Mahdi #Lampion #keturunan china #masjid tiongkok #armada #Kota Magelang