Din menyampaikan, umat khususnya warga Muhammadiyah pastinya sudah cerdas untuk memahami ini.
“Memilih bukan menggunakan perasaan, apalagi dengan nafsu syahwat politik, karena calon itu datang pada kita dan memberi bantuan material maupun janji-janji. Tapi pilihlah dengan hati nurani dan didukung akal pikiran, terutama tentang pengetahuan dan hakikat dari calon yang ingin dipilih,” kata Din Syamsudin kepada Jawa Pos Radar Magelang usai mengisi Tabligh Akbar “Dinamika Politik Keumatan” yang digelar di Auditorium Kampus 1 Unimma, Kamis (23/11).
Din juga menyampaikan, khusus untuk umat Islam, pilihlah calon pemimpin yang memperhatikan, memperdulikan aspirasi dan kepentingan umat Islam di Indonesia, tanpa mengabaikan aspirasi umat-umat agama lainnya.
Ia mengaku pernah ditawari masuk di Dewan Penasehat Tim Pemenangan Nasional Anies-Muhaimin (Timnas Amin). Namun, tawaran tersebut ditolak karena ia ingin menegakkan marwah Muhammadiyah bahwa ketua umum (ketum) maupun mantan ketum tidak untuk jabatan-jabatan politik, termasuk di jabatan eksekutif.
Apalagi dirinya juga masih menjabat sebagai Ketua Pimpinan Ranting Muhammadiyah Pondok Labu, Jakarta Selatan.
“Sesuai ketentuan organisasi, jabatan ini juga tidak membolehkan terlibat secara formal dalam politik kekuasaan,” tandasnya.
Din sendiri memberikan dukungan kepada pasangan Amin di Pilpres 2024 mendatang. “Itu pilihan pribadi, bukan dari organisasi,” tegasnya. (mg23/rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto