Memahami Penyebab di Balik  Kebiasaan Mengonsumsi Es Batu

Magang Radar Magelang • Dipublikasikan Kamis, 10 September 2026 | 15:29 WIB
Konsumsi es batu secara terus-menerus dapat berdampak bagi kesehatan. (ISTIMEWA)
Konsumsi es batu secara terus-menerus dapat berdampak bagi kesehatan. (ISTIMEWA)

RADARMAGELANG.ID – Banyak orang menyukai es batu setelah minum atau saat merasa kepanasan.

Mengonsumsi es batu dianggap memberikan sensasi lebih segar dibandingkan air putih biasa.

Namun, kebiasaan sederhana ini ternyata dapat menimbulkan dampak tertentu bagi kesehatan. 

Kebiasaan mengonsumsi es batu secara berlebihan ini dapat ditemukan baik pada anak-anak maupun orang dewasa, dengan latar belakang penyebab yang beragam.

Dalam dunia medis, kebiasaan menyukai es batu ini dikenal dengan istilah pagofagia, yaitu keinginan kuat dan sulit dikendalikan untuk mengunyah es batu, serpihan es, atau mengonsumsi minuman yang sangat dingin secara terus-menerus.

Pagofagia sendiri termasuk dalam kategori pica, yakni kondisi ketika seseorang cenderung mengonsumsi benda-benda yang tidak memiliki nilai gizi. Memahami akar penyebab pagofagia menjadi langkah penting untuk menjaga kondisi tubuh tetap optimal.

Penyebab paling umum yang dialami oleh orang-orang yang gemar mengonsumsi es batu adalah anemia defisiensi besi, yaitu kondisi ketika tubuh kekurangan zat besi sehingga produksi hemoglobin menurun dan jumlah sel darah merah ikut berkurang.

Padahal, hemoglobin memiliki peran krusial dalam mendistribusikan oksigen ke seluruh jaringan tubuh manusia.

Selain faktor fisik, kondisi psikologis juga turut berperan dalam memicu munculnya pagofagia.

Tekanan seperti stres berlebih, rasa cemas, hingga gangguan obsesif-kompulsif dapat mendorong seseorang mencari pelampiasan melalui aktivitas mengunyah.

Es batu kerap menjadi pilihan karena teksturnya yang keras serta sensasi dingin yang dihasilkan, sehingga mampu mengalihkan perhatian sejenak dari beban pikiran yang dirasakan.

Mengonsumsi es batu secara rutin juga dapat menimbulkan dampak negatif bagi kesehatan gigi dan mulut.

Tekstur es batu yang keras dan dingin dapat membuat lapisan enamel atau pelindung gigi terkikis secara bertahap, sehingga gigi menjadi lebih rentan terhadap rangsangan suhu, baik panas maupun dingin yang ekstrem.

Selain itu, konsumsi es batu secara berlebihan turut berisiko mengganggu kinerja sistem pencernaan.

Perubahan suhu yang terlalu dingin secara tiba-tiba dapat memicu kram perut atau menimbulkan rasa tidak nyaman pada saluran pencernaan, khususnya bagi individu yang memiliki sensitivitas tinggi.

Adapun langkah untuk mencegah terjadinya pagofagia dapat dimulai dengan mengidentifikasi penyebab dasarnya melalui pemeriksaan medis.

Apabila hasil tes menunjukkan adanya kekurangan zat besi, dokter umumnya akan menyarankan suplementasi disertai perbaikan pola makan, seperti memperbanyak konsumsi makanan tinggi zat besi, misalnya daging merah, bayam, dan kacang-kacangan, guna mendukung proses pemulihan.

Selain memperhatikan asupan nutrisi, menjaga kesehatan keluarga juga perlu diimbangi dengan ketersediaan obat-obatan dasar di rumah, terutama untuk mengantisipasi gejala gangguan kesehatan ringan pada anak.

Salah satu produk yang dapat disediakan sebagai persediaan medis di rumah adalah Praxion Suspensi 60 ml, yang bermanfaat untuk membantu meredakan demam serta meringankan nyeri ringan pada anak.

Dengan langkah-langkah tersebut, keluarga dapat lebih siap menghadapi berbagai keluhan kesehatan sehari-hari. (mg1)

 

Editor : H. Arif Riyanto
sensasi konsumsi es batu hemoglobin kesehatan oksigen