RADARMAGELANG.ID - Jamu jahe menjadi salah satu minuman tradisional yang masih banyak dikonsumsi masyarakat saat ini.
Sensasi hangat dan rasa khasnya membuat jahe sering dipilih sebagai minuman, terutama saat cuaca dingin atau ketika tubuh terasa kurang nyaman.
Namun, di balik rasa hangat tersebut, jahe ternyata memiliki sejumlah kandungan yang berpotensi memberikan manfaat bagi keesehatan.
Jahe atau Zingiber officinale mengandung senyawa aktif, salah satunya gingerol.
Senyawa ini memberikan rasa pedas khas pada jahe dan memiliki sifat Antioksidan serta antiinflamasi. Kandungan tersebut menjadi salah satu alasan jahe banyak digunakan dalam pengobatan tradisional.
Salah satu manfaat jahe yang cukup dikenal adalah membantu meredakan mual.
Jahe dapat mengurangi beberapa jenis mual, seperti mual mabuk perjalanan maupun mual pada masa kehamilan.
Jahe juga disebut dapat membantu mempercepat pengosongan lambung sehingga berpotensi mengurangi rasa penuh dan kembung.
Selain mual, jahe juga memiliki potensi dalam membantu mengurangi rasa nyeri. Kandungan antiinflamasi pada jahe dikaitkan dengan manfaat untuk membantu meredakan nyeri otot, nyeri haid, dan nyeri sendi.
Meski demikian, manfaat jahe tidak berarti bahwa jamu jahe dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
Konsumsi jahe sebaiknya tetap dilakukan secara wajar.
Pada sebagian orang, konsumsi jahe dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan keluhan seperti sakit perut atau mulas.
Cara mengonsumsi jamu jahe juga perlu diperhatikan.
Jamu yang dibuat dengan tambahan gula dalam jumlah banyak tentu memiliki kandungan gula yang lebih tinggi.
Karena itu, masyarakat perlu memperhatikan bahan tambahan dan jumlah konsumsi agar manfaat minuman herbal tidak justru diikuti dengan asupan gula yang berlebihan.
Dengan berbagai kandungan dan potensi manfaatnya, jamu jahe tidak hanya menjadi minuman penghangat tubuh.
Jahe dapat menjadi salah satu pilihan minuman tradisional dalam pola hidup sehat. Namun, masyarakat tetap perlu membedakan manfaat yang didukung informasi kesehatan dengan klaim yang belum terbukti secara ilmiah. (mg3/aro)
Editor : H. Arif Riyanto