RADARMAGELANG.ID--Suatu hari saya iseng bandingin feed TikTok saya sama punya adik saya. Sama-sama pakai HP di rumah yang sama, wifi yang sama, tapi isinya beda jauh banget.
Punya saya isinya konten masak-masak sama kucing, punya dia isinya konten drama artis dan komedi receh. Dari situ saya baru mikir, oh iya, kita ini sebenarnya nggak pernah lihat "internet yang sama" kayak yang kita kira.
Di balik layar, ada algoritma yang diam-diam nentuin apa yang muncul di feed kita masing-masing. Dan tujuan algoritma ini sebenarnya simpel banget, cuma satu: bikin kita betah scroll selama mungkin. Karena semakin lama kita di aplikasi, semakin banyak iklan yang bisa ditampilin, dan itu artinya duit buat mereka.
Masalahnya, konten yang bikin kita betah scroll itu belum tentu konten yang bener atau penting. Justru seringkali konten yang bikin emosi kepancing, entah marah, kaget, atau penasaran itu yang paling "berhasil" di mata algoritma. Berita netral yang berimbang malah kalah saing sama konten yang provokatif atau dramatis. Jadi tanpa kita sadar, kita jadi lebih sering ketemu hal-hal yang bikin geregetan dibanding yang benar-benar informatif.
Ini yang bikin muncul yang namanya filter bubble, istilah kerennya begitu. Karena algoritma terus nyodorin hal yang mirip sama yang kita suka sebelumnya, lama-lama kita kayak hidup di gelembung sendiri. Orang yang condong ke pandangan tertentu bakal terus dikasih konten yang sejalan sama pandangan itu terus-terusan, sementara sudut pandang lain makin jarang muncul. Efeknya, kita bisa ngerasa "ah ini kan emang pendapat kebanyakan orang", padahal itu cuma karena algoritma sengaja nunjukin apa yang kita udah suka.
Yang bikin agak serem, kita nggak pernah tau persis kenapa suatu konten nongol di feed kita, dan kita juga nggak tau konten apa aja yang "disembunyikan" karena dianggap kurang menarik buat kita secara pribadi. Beda banget sama jaman dulu nonton berita TV, semua orang melihat konten yang sama persis di jam yang sama. Sekarang, dua orang buka aplikasi yang sama di detik yang sama pun bisa lihat dunia yang beda banget.
Saya nggak bilang algoritma ini jahat sepenuhnya sih. Ada untungnya juga, kayak gampang nemu konten yang relevan sama minat kita, atau nemu komunitas yang seru buat diikutin. Tapi ya itu, penting buat sadar kalau apa yang kita lihat di medsos itu bukan potret lengkap dunia, itu cuma hasil seleksi yang udah disesuaikan sama kebiasaan kita sendiri.
Kalau ditanya gimana caranya biar nggak kejebak, jujur saya juga masih belajar. Tapi paling nggak, sekarang saya coba sesekali buka berita langsung dari situs resminya, bukan cuma dari yang muncul di beranda. Sesekali juga saya sengaja follow akun yang sudut pandangnya beda dari kebiasaan saya, biar nggak cuma denger echo dari pikiran sendiri terus-terusan.
Intinya, algoritma medsos itu kayak kacamata yang otomatis mewarnai apa yang kita lihat, tapi kita nggak sadar lagi pakai kacamata itu. Semakin ngerti cara kerjanya, semakin kita bisa mikir dua kali sebelum nganggep apa yang muncul di layar itu sebagai representasi dunia yang sebenarnya. (mg5/aro)
Editor : H. Arif Riyanto