Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Bertepatan Hari Ayah Nasional, Yuk Intip Peran Sosok Ayah Patriarki Dalam Film “Bolehkan Sekali Saja Ku Menangis”

Magang Radar Magelang • Selasa, 12 November 2024 | 20:07 WIB

Poster film bolehkah sekali saja ku menangis dan gambar seorang ayah memarahi anak perempuannya
Poster film bolehkah sekali saja ku menangis dan gambar seorang ayah memarahi anak perempuannya

RADARMAGELANG.ID - Hari ini, 12 November 2024 merupakan peringatan hari ayah nasional. 

Hari ini menjadi momen bagi setiap warga negara indonesia untuk mengingat sosok penting dalam keluarga mereka yaitu sosok ayah. 

Ayah merupakan pemimpin keluarga, dialah sosok yang menjadi tulang punggung utama bagi keluarga dan menentukan yang terbaik untuk jalannya rumah tangga. 

Karena peran ayah yang begitu besar, membuatnya sesuka hati mengekang dan membuat peraturan yang harus dituruti oleh anggota keluarga ditambah lagi, laki-laki memiliki sikap patriarki. 

Apabila peraturan yang dibuat oleh ayah dilanggar dan para anggota keluarga tidak mematuhi aturan tersebut maka akan dicap sebagai pembangkang.

Fenomena seperti ini marak terjadi, sehingga membuatnya diangkat ke film layar lebar terbaru Indonesia berjudul “Bolehkah Sekali Saja Ku Menangis”. 

Secara singkat film ini mengisahkan anak yang berjuang menjalani hidup karena sikap keras dan patriarki dari sang ayah.

Film ini mengisahkan sebuah keluarga kecil terdiri dari Pras(ayah), Dev(ibu), Bunga (anak pertama) dan Tari (anak kedua). 

Untuk mengetahui lebih jelas tentang alur ceritanya, yuk simak sinopsis film “Bolehkan Sekali Saja Ku Menangis” berikut.

Film ini mengisahkan tentang kehidupan sebuah keluarga yang kurang baik-baik saja, dimana bunga telah meninggalkan rumah akibat perlakuan kasar dari ayahnya. 

Dalam rumah tersebut menyisakan Tari, Ibu dan Ayah. 

Ibu dan Tari selalu mendapatkan perlakuan kasar oleh sang ayah mulai dari dibentak hingga kekerasan fisik. 

Tari selalu menyarankan kepada sang ibu untuk meninggalkan rumah, namun sang ibu menolak untuk meninggalkan rumah dan selalu sabar untuk ayah merubah sikapnya yang kasar. 

Pada film ini kita akan diperlihatkan bagaimana Tari berjuang menghidupi dirinya sendiri agar kelak dapat membantu sang ibu keluar dari rumah. 

Tari selalu semangat berjuang memperbaiki kehidupan ditengah masalah yang menimpanya. 

Tari juga mengikuti semacam kelas untuk memperbaiki mentalnya yang berantakan akibat perlakuan dari sang ayah. 

Ibu dan Tari sebenarnya sudah berusaha untuk kabur meskipun akhirnya gagal karena sang ayah menemukan mereka dan kembali kerumah. 

Pada suatu hari, keributan dalam rumah terjadi kembali dan Tari mendapat tamparan keras dari sang ayah yang membuat ibu kehilangan kesabaran. 

Melihat perlakuan tersebut, ibu dan Tari akhirnya pergi meninggalkan ayah seorang diri dan memulai hidup tanpa kekangan bersama.

Hari ayah bukan hanya sebagai momentum untuk mengagumi sosok ayah, tetapi sebagai ayah juga harus evaluasi diri agar keluarga yang dibina tidak mengalami kehancuran. 

Pekerjaan ayah tak soal memberikan uang dan tempat tinggal, tetapi ayah adalah teman dan harus memberikan kasih sayang serta kebebasan yang terarah pada anggota keluarganya. 

Patriarki memang sesuatu yang dasar dan hampir dimiliki oleh laki-laki karena sejarah yang panjang. 

Menjadi laki-laki tak harus diselimuti oleh budaya patriarki, berpikirlah untuk terbuka seperti jika ingin didengarkan, maka mendengarkan dan jika ingin dituruti, maka turuti dahulu keinginan anggota keluarga. (mg26/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#patriarki #Sinopsis Bolehkah Sekali Saja Kumenangis #hari ayah