Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

AI Jadi Senjata Masa Depan? Ilmuwan Dunia Peringatkan Ancaman Kecerdasan Buatan Terhadap Kelangsungan Hidup Manusia

Magang Radar Magelang • Rabu, 30 Oktober 2024 | 00:21 WIB
AI yang semakin cerdas dapat mengancam profesi manusia di masa depan
AI yang semakin cerdas dapat mengancam profesi manusia di masa depan

RADARMAGELANG.ID - Kecerdasan buatan (AI) kian menunjukkan potensinya sebagai teknologi revolusioner.

Namun semakin banyak ilmuwan yang menyuarakan kekhawatiran serius tentang bahaya yang mungkin ditimbulkan jika teknologi ini tidak diawasi dengan ketat.

Para ahli mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengambil langkah konkret guna mengendalikan AI, mengingat risiko yang dapat berdampak besar, mulai dari peretasan hingga potensi senjata biologis.

Profesor Philip Torr dari Universitas Oxford menegaskan bahwa dunia tak bisa lagi hanya bergantung pada proposal umum untuk menangani AI.

Menurut Torr, sudah saatnya semua pihak beralih pada komitmen nyata agar AI tidak berkembang di luar kendali manusia.

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan baru-baru ini, para ilmuwan menyatakan bahwa jika AI jatuh ke tangan yang salah, teknologi ini dapat menjadi alat yang mampu menciptakan bencana berskala besar, termasuk senjata biokimia dan perang siber yang menghancurkan.

Tidak hanya itu, laporan tersebut juga menyoroti kecenderungan AI dalam mengambil alih berbagai peran manusia, sering kali dengan cara yang memanipulasi emosi dan keputusan publik.

Ilmuwan memperingatkan bahwa AI yang lebih canggih berpotensi meniru algoritma di berbagai server di seluruh dunia, yang membuatnya sulit untuk dihentikan atau dikendalikan.

AI dapat memicu konsekuensi yang lebih luas selain menjadi ancaman bagi profesi manusia.

Jika dibiarkan AI bisa menyebabkan hilangnya nyawa dan bahkan kepunahan umat manusia.

Para ahli sepakat bahwa regulasi yang ketat dan tegas harus segera dirancang oleh pemerintah, bukan sekadar kode etik dari perusahaan teknologi yang membangun AI itu sendiri.

Stuart Russell, Profesor Ilmu Komputer di Universitas California, menegaskan bahwa AI bukanlah mainan dan eksperimen dalam pengembangan teknologi ini harus dilakukan dengan sangat hati-hati.

Menurutnya, perusahaan teknologi yang menghindari regulasi dengan alasan bisa menghambat inovasi adalah tindakan yang tak bertanggung jawab.

“Kita memiliki lebih banyak aturan untuk toko sandwich daripada untuk perusahaan AI,” ujar Russell, yang menilai bahwa perusahaan harus berhenti menganggap AI sebagai komoditas tanpa dampak serius bagi masa depan manusia.

Laporan ini didukung oleh 25 pakar AI terkemuka dunia, termasuk Geoffrey Hinton, yang juga dikenal sebagai “Bapak Pembelajaran Mesin”.

Para ilmuwan terus mendesak agar teknologi AI tidak dikembangkan tanpa panduan keamanan yang ketat, mengingat dampaknya yang bisa berujung pada situasi tak terkendali jika AI mencapai titik kemampuan yang tidak bisa lagi diatasi manusia. (mg20/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#perang siber #universitas oxford #biokimia #kecerdasan buatan #ai