Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Jadi Kota Tertua Nomor Empat di Indonesia, Berikut Tempat-Tempat Bersejarah di Kota Magelang

H. Arif Riyanto • Minggu, 28 Januari 2024 | 00:09 WIB

 

Menara air atau yang biasa orang sebut sebagai water toren ini terletak di sisi barat Alun-alun Magelang.  Menara air ini dibangun pada tahun 1916-1920 oleh Genie atau Zeni dari militer Belanda.
Menara air atau yang biasa orang sebut sebagai water toren ini terletak di sisi barat Alun-alun Magelang. Menara air ini dibangun pada tahun 1916-1920 oleh Genie atau Zeni dari militer Belanda.

RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kota Magelang merupakan kota tertua nomor empat di Indonesia, setelah Palembang, Salatiga, dan Kediri.

Tanggal 11 April 907 M ditetapkan sebagai hari jadi Kota Magelang, atau 2024 ini sudah berusia 1.117 tahun.

Dengan usia Kota Magelang yang mencapai lebih dari 1 milenium, membuatnya memiliki banyak tempat-tempat bersejarah.

Tempat-tempat bersejarah di Kota Magelang pasti tidak lepas dari campur tangan Belanda.

Maka dari itu, banyak bangunan bersejarah dengan bentuk arsitektur Belanda.

Kunjungan ke tempat-tempat bersejarah ini tidak hanya memberikan pengalaman berharga tentang sejarah Magelang dan Indonesia.

Tetapi juga memperkaya pemahaman mengenai warisan budaya dan kekayaan arsitektural di kawasan ini.

Jawa Pos Radar Magelang merangkum delapan tempat bersejarah di Kota Magelang yang masih eksis hingga saat ini.

  1. Kompleks Pemakaman Pa Vander Steur, Gerbang Kerkhof

Kompleks pemakaman ini terletak tidak jauh dari Alun-Alun Kota Magelang, yaitu di Jalan Al Ikhlas, Magersari, Magelang Selatan, Kota Magelang.

Kompleks pemakamannya terletak tersembunyi antara deratan toko.

Jalan masuk menuju pemakaman tersebut berupa gang kecil.

Masyarakat yang melintas menuju Kota Magelang, tepatnya di Jalan Jenderal Sudirman akan melihat pintu Gerbang Kerkhof yang dibangun  tahun 1906.

Sedangkan dalam kompleks pemakaman, terdapat 24 makam dan 1 monumen dengan puluhan jenazah di dalamnya.

  1. Kampung Meteseh atau Desa Mantyasih

Kota Magelang mengawali sejarahnya di Kampung Meteseh, atau yang dikenal sebagai Desa Mantyasih.

Nama Mantyasih berarti “beriman dalam cinta kasih”.

Pada 11 April 907 M, raja yang bertahta kala itu menetapkan Desa Mantyasih sebagai desa perdikan atau daerah bebas pajak.

Di Desa Mantyasih memiliki salah satu prasasti peninggalan zaman Mataram Hindu, bernama Prasasti Mantyasih. Dalam prasasti ini disebut bahwa nama Desa Mantyasih berubah menjadi Kampung Meteseh, dan nama Desa Glanggang yang kemudian berubah menjadi Magelang.

  1. Museum BPK RI

Museum BPK RI bukan tempatnya yang bersejarah, namun isi museum dan cerita di baliknya yang bersejarah dan berhubungan dengan Pangeran Diponegoro.

Museum ini diresmikan pada 4 Desember 1997 oleh Ketua BPK RI Prof DR JB Sumarlin.

Museum ini terletak di Jalan Pangeran Diponegoro, Magelang Tengah, Kota Magelang.

Museum BPK RI merupakan tempat yang berisi barang-barang peninggalan dari Pangeran Diponegoro.

Di tempat ini juga menjadi tempat ditangkapnya Pangeran Dipenogoro oleh Belanda, yang kemudian diasingkan ke Manado.

Di area Museum BPK RI, terdapat bangun yang merupakan bekas kampus UGM Cabang Magelang.

  1. Kampung Kwarasan

Kampung Kwarasan merupakan perumahan dengan bangunan peninggalan dari Belanda yang masih aktif hingga saat ini.

Kampung ini berlokasi di Kelurahan Cacaban, Kota Magelang.

Nama Kwarasan diambil dari kata Bahasa Jawa, yaitu kewarasan, yang artinya kesehatan.

Pembangunan perumahan atau kampung ini bertujuan untuk mengisolasi masyarakat dan pejabat dari penyakit Pes, wabah penyakit yang menyerang Kota Magelang pada awal 1930 yang disebarkan oleh tikus.

Saat ini, kegiatan di Kampung Kwarasan masih aktif, namun ada beberapa rumah kosong yang tidak dihuni oleh pemiliknya.

  1. Menara Air, Alun-Alun Kota Magelang

Menara air atau yang biasa orang sebut sebagai water toren ini terletak di sisi barat Alun-alun Magelang.

Menara air ini dibangun pada tahun 1916-1920 oleh Genie atau Zeni dari militer Belanda.

Konon, menara air dibangun karena adanya bencana dan wabah penyakit.

Menara ini berbentuk menyerupai kompor minyak besar berwarna biru, dengan tinggi 26,140 meter, diameter bak airnya 22,46 meter, dan dapat menampung 1.750 meter kubik air.

Bangunan menara air masih berdiri kokoh hingga saat ini, tak terkikis meski usianya sudah lebih dari 100 tahun.

  1. Kelenteng Liong Hok Bio

Kelenteng Liong Hok Bio merupakan tempat beribadah bagi masyarakat Tionghoa yang dibangun oleh Kapiten Be Koen Wie atau Be Tjok Lok pada 1864.

Kelenteng ini terletak sangat dekat dengan Alun-Alun Magelang, yaitu di sisi tenggaranya atau di pintu gerbang masuk ke kawasan Pecinan.

Setelah perang Diponegoro tahun 1830, seorang Tionghoa pindah ke Magelang bernama Be Koen Wie atau Be Tjok Lok.

Ia berjasa saat perang, dan diangkat menjadi letnan oleh Belanda.

Letnan Be Tjok Lok memiliki tanah yang terletak di sisi utara atau tenggara Alun-alun Kota Magelang, kemudian didirikan menjadi kelenteng.

Kelenteng ini sempat mengalami kebakaran pada 2014, kemudian kembali dibangun dengan megah seperti sekarang.

  1. Gereja Santo Ignatius

Gereja Katolik ini berdiri pada 31 Juli 1899 oleh Romo F.Voogel SJ.

Gereja ini terletak di Jalan Yos Sudarso, Magelang Tengah, Kota Magelang.

Saat ini, usia gereja ini sudah mencapai 125 tahun.

Dengan usia yang lebih dari 100 tahun, bangunan ini masih kokoh berdiri di atas lahan seluas 13.000 meter persegi.

Setahun setelah Gereja Santo Ignatius berdiri, pada 22 Agustus 1890, di tempat itu diadakan Misa Kudus untuk pertama kalinya.

Kehadiran gereja ini, semakin memperkuat penyebaran agama Katolik di wilayah Kedu, khususnya Kota Magelang.

  1. Hoogere Kweekschoolvoor

Hoogere Kweekschoolvoor berdiri pada 1850-an.

Bertujuan untuk memenuhi kekurangan guru yang dapat menggunakan Bahasa Belanda di Hindia Belanda.

Saat ini, usia bangunan sudah mencapai satu abad lebih.

Namun masih berdiri kokoh di pusat Kota Magelang.

Walaupun warna cat putihnya sudah memudar, nuansa Kolonial Belanda masih begitu terasa di setiap sudutnya.

Pada awal abad ke-20, eksistensi Hoogere Kweekschool menurun.

Karena jabatan guru kurang diminati.

Hoogere Kweekschool di Kota Magelang tutup pada 1875, dan saat ini bangunannya digunakan sebagai Kantor Disdukcapil Kabupaten Magelang.

Itulah delapan tempat bersejarah di Kota Magelang yang masih eksis hingga saat ini. (mg3/aro)

Editor : H. Arif Riyanto
#Museum BPK Kota Magelang #water toren #Alun alun kota Magelang #bersejarah #Kota Magelang