RADARMAGELANG.ID, Purworejo--- Suasana seminar pendidikan di Purworejo, Jumat (7/11/2015), mendadak cair dan penuh tawa ketika para guru madrasah diminta mempraktikkan ekspresi “guru tanpa cinta” dan “guru penuh cinta”.
Wajah-wajah serius seketika berubah lucu saat para peserta menirukan gaya guru galak yang menatap tajam, lalu berganti menjadi guru penyayang dengan senyum lembut dan tatapan ramah.
“Kalau jadi murid, mau belajar sama yang mana?” tanya Wibowo Prasetyo, Anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan dari Komisi VIII, disambut teriakan kompak para peserta, “Yang senyum, Pak!”
Tawa pun pecah, dan suasana seminar berubah hangat.
Seminar bertajuk Implementasi Kurikulum Berbasis Cinta dan Deep Learning Madrasah yang digelar di Hotel Plaza Purworejo itu diikuti ratusan guru dan tenaga kependidikan madrasah dari berbagai wilayah di Kabupaten Purworejo.
Dalam paparannya, Wibowo menegaskan bahwa cinta bukan sekadar emosi, melainkan energi spiritual yang menghidupkan proses belajar mengajar.
“Guru yang mengajar dengan cinta tidak hanya mentransfer ilmu, tapi juga menanamkan nilai. Ia tidak sekadar mendidik pikiran, tapi juga menumbuhkan hati,” ujar politisi dari Dapil VI Jawa Tengah tersebut.
Menurut mantan wartawan ini, pendidikan di madrasah tidak boleh kehilangan sentuhan kasih sayang, karena di situlah letak kekuatan karakter Islam yang sejati.
“Cinta dalam pendidikan itu bukan kelembekan, tapi kekuatan moral. Ia membuat guru sabar, membuat murid semangat, dan menjadikan ilmu bercahaya,” tambahnya.
Wibowo juga menjelaskan bahwa nilai cinta bisa diintegrasikan di setiap pelajaran, tidak hanya di bidang agama.
“Guru IPA bisa mengajarkan cinta lewat keindahan ciptaan Allah. Guru Matematika bisa menanamkan nilai ketekunan. Cinta itu bisa hadir di mana saja, asal guru mau menghadirkannya,” jelasnya.
Berbeda dari seminar biasa yang kaku, Wibowo mengemas materinya dengan gaya interaktif dan ringan, lengkap dengan sesi permainan dan kuis.
Dalam salah satu sesi “ice breaking”, para peserta dibagi menjadi dua kelompok: guru “galak” dan guru “penuh cinta”.
Masing-masing kelompok diminta menirukan gaya khas mereka saat menegur murid.
Ruangan langsung pecah tawa saat seorang peserta dengan wajah serius menepuk meja dan berkata, “Diam!” lalu berubah menjadi versi lembut: “Siapa yang masih semangat belajar hari ini?”
“Nah, itu bedanya guru marah karena ego dengan guru menegur karena cinta. Tegas boleh, tapi jangan pernah kehilangan kelembutan,” ujar Wibowo menimpali.
Selain permainan, ia juga mengajak peserta mengikuti kuis ringan bertema “Cinta, Ilmu, dan Madrasah”.
Salah satu pertanyaan membuat peserta tertawa terpingkal.
“Kalau guru marah tapi tetap tersenyum, itu tandanya apa?”
Pilihan jawabannya beragam, mulai dari “menahan emosi”, “ingat gaji di tanggal tua”, hingga “menyadari murid adalah amanah Allah.”
Peserta kompak menjawab “ingat gaji di tanggal tua”, dan Wibowo langsung menimpali dengan humor, “Kalau ingat amanah Allah, bonusnya lebih besar, yaitu pahala!”
Dalam sesi refleksi, Wibowo mengajak para guru untuk menjadikan madrasah bukan hanya tempat belajar, tapi juga rumah cinta dan rahmat.
“Kalau suasana madrasah dipenuhi cinta, anak-anak akan datang bukan karena takut, tapi karena rindu belajar,” ujarnya.
Menurutnya, madrasah memiliki keunikan yang tidak dimiliki sekolah lain karena berdiri di atas nilai-nilai spiritualitas Islam.
“Madrasah bukan sekadar lembaga pendidikan, tapi pusat pembentukan akhlak. Kalau di dalamnya tumbuh cinta, maka seluruh ekosistem pendidikan akan hidup, dari kepala madrasah, guru, hingga para murid,” jelasnya.
Wibowo menekankan pentingnya pendidikan berbasis kasih dan moralitas di madrasah.
Menurut dia, integrasi nilai cinta sejalan dengan visi Islam rahmatan lil ‘alamin, yakni menghadirkan kebaikan dan kasih sayang bagi sesama.
“Di era digital yang serba cepat, guru jangan hanya jadi penyampai materi, tapi juga penjaga kemanusiaan. Teknologi bisa menggantikan papan tulis, tapi tidak bisa menggantikan cinta guru,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar guru madrasah tetap bersemangat, tidak kehilangan rasa bahagia dalam mengajar, meski menghadapi berbagai keterbatasan.
“Kalau guru mengajar dengan cinta, setiap keterbatasan akan terasa ringan. Karena cinta membuat pekerjaan kita bernilai ibadah,” pungkasnya. (aro)
Editor : H. Arif Riyanto