Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Drama Bupati Kendal Dico Ganinduto di Ujung Jabatan: Gagal Nyalon Gubernur Jateng dan Wali Kota Semarang, Sekarang Gagal Mendaftar di Pilbup Kendal

Budi Setiyawan • Minggu, 15 September 2024 | 21:25 WIB
Baliho Bupati Kendal Dico M Ganinduto saat mencalon diri dalam Pilgub Jateng dan Pilwalkot Semarang 2024.
Baliho Bupati Kendal Dico M Ganinduto saat mencalon diri dalam Pilgub Jateng dan Pilwalkot Semarang 2024.

RADARMAGELANG.ID, Kendal—Perjalanan politik Bupati Kendal Dico M Ganinduto di ujung jabatannya penuh liku bak cerita drama.

Bupati termuda di Jateng ini sempat hendak maju dalam Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jateng 2024.

Namun di tengah jalan, kemudian berubah.

Padahal baliho yang memajang fotonya dengan tagar #jatenglebihbaik sudah terpasang di 35 kota/kabupaten di Jateng.

Termasuk baliho bersama Raffi Ahmad dengan tulisan “Ngegas Jateng”

Suami artis Chacha Frederica ini berubah pikiran.

Ia gantian membidik calon wali kota Semarang.

Baliho dengan foto Dico hasil AI pun bertebaran di 16 kecamatan dan 177 kelurahan di Kota Semarang.

Kali ini bertuliskan: #MenyalaDicotaSemarang, Bahagia Warganya Menyala Kotanya, Mas Dico Walikotaku dan sebagainya.

Ya, kalimat Menyala abangku selalu identik dengan bupati kelahiran 19 Februari 1990 itu. 

Kalimat penyemangat viral itu beberapa kali selalu tampil di akun Instagram Dico M Ganinduto di @dicoganinduto.

Baik di postingan maupun unggahan ulang dan komentar di setiap unggahannya oleh para netizen.

Menyala abangku merupakan ungkapan kekaguman terhadap seseorang yang dianggap keren dan memiliki bakat gemilang di masa depan.

Tapi, kalimat itu justru berbanding terbalik.

Pasalnya saat ini justru karir politiknya tengah diterpa banyak badai.

Bahkan bisa jadi bisa mengakibatkan Dico meredup dini di usianya yang masih muda.

Terlebih lagi setelah usaha terakhirnya untuk mendaftarkan diri sebagai calon bupati dan wakil bupati (cabup-cawabup) Kendal gagal.

Pasalnya, Majelis Musyawarah Bawaslu Kendal baru saja memutuskan untuk menolak permohonannya sebagai cabup-cawabup Kendal dalam perkara sengketa pendaftaran.

Alasannya, Bawaslu menilai permohonan untuk menjadi cabup-cawabup berpasangan dengan Ketua Dewan Syuro PKB Kendal, KH Ali Nurudin, tidak berdasar.

Pasalnya, PKB telah lebih dulu mendaftarkan paslon lain, yakni Dyah Kartika Permanasari dan  Benny Karnadi bersama PDI Perjuangan Kendal.

Dengan alasan tersebut, menurut Ketua Bawaslu Kendal Hevy Indah Oktaria, PKB tidak bisa mendaftarkan paslon lain dengan cara mencabut dukungan yang telah didaftarkan kepada KPU sebelumnya.

Sebab, sesuai PKPU No 8 Tahun 2024 Pasal 100 telah tegas mengatur mekanisme pendaftaran cabup-cawabup yang diusung oleh parpol maupun gabungan parpol.

Di mana satu parpol hanya bisa mengusulkan, mendukung, dan memberikan rekomendasi kepada satu paslon.

Setelah paslon didaftarkan KPU, parpol tidak dapat mencabut dukungan atau mengalihkan dukungan ke paslon lain.

“Pun termasuk jika Parpol pengusung mencabut dukungan kepada paslon sebelumnya yang telah didaftarkan, maka oleh KPU dalam Pemilu Serentak 2024 ini tetap dianggap mendukung paslon pertama,” jelas Hevy.

Hal tersebut juga berlaku bagi paslon yang mendaftar atau didaftarkan parpol, di mana sejak berkas pendaftaran diterima KPU, maka paslon tidak dapat mundur.

“Jika paslon yang telah didaftarkan mundur, maka parpol pengusung tidak bisa mengusulkan paslon lain,” tegasnya.

Dengan dalil tersebut, menurut Bawaslu telah jelas dan terang benderang bagi KPU untuk menguatkan keputusan KPU sebelumnya untuk menolak pendaftaran Dico-Ali.

Dengan keputusan tersebut, pupus sudah harapan Dico untuk melanggengkan kekuasan politiknya yang telah dibangunnya selama ini.

Penolakan Bawaslu ini justru tidak membuat ‘menyala abangku’, yang terjadi nyatanya justru ‘meredup abangku’.

Pasalnya, 2024 ini, Dico mengalami banyak rintangan di karir politiknya.

Apa saja itu?

Berikut ini ulasannya:

  1. Koyak di Bursa Pilgub Jateng 2024

Meski baru di Jateng, Dico terbilang karirnya cukup melesat, bahkan dengan percaya diri suami artis Chacha Frederica ini memberanikan diri mengikuti bursa bakal calon gubernur di Pemilu Serentak 2024.

Ia membuat banyak manuver dengan memampang gambarnya hampir di seluruh wilayah kabupaten kota di Jateng.

Bahkan, Dico secara aktif menggelar dialog dan podcast dengan Bupati dan Wali Kota yang dikenalnya di Jateng.

Dico semakin percaya diri, ia mulai disegani oleh politisi senior-senior di Jateng.

Dico membuat banyak reklame dengan memasang bertuliskan tagar #JatengLebihBaik.

Dari itulah, sosok Dico dikenal.

Dia dianggap sebagai mercusuar politisi muda yang berhasil.

Tapi ternyata kehendak penguasa politik berkata lain, Dico justru tidak direkomendasi Partai Golkar.

Partai berlambang pohon beringin itu seperti diketahui telah mengeluarkan rekomendasinya kepada eks Kapolda Jateng, Ahmad Luthfi yang berpasangan dengan Taj Yasin.

  1. Kandas di Bursa Pilwalkot Semarang 2024

Pasca tidak berhasil mencalonkan diri di Pilgub Jateng, Dico dengan rasa percaya diri ingin mengikuti bursa Pilwalkot Semarang.

Dico membuat manuver lagi dengan tagar #MenyalaDicotaSemarang.

Dico bahkan telah melakukan deklarasi dan membuat dialog dengan para kaula muda di Kota Atlas.

Dia turun dan menyapa pemuda kota Semarang dengan jargon Majukan Kota Semarang Sama-sama.

Tapi justru kegiatannya itu malah membuat blunder.

Sebab, tanpa alasan jelas Dico menyebut Kota Semarang sebagai daerah yang tertinggal.

Hal itu menuai banyak kritikan pedas kepada Dico.

Banyak Netizen yang mempertanyakan keberhasilan Dico di Kendal.

Pernyataan itu membuat warga asli Kota Semarang geram.

Imbasnya, Dico lagi-lagi harus koyak untuk menjadi calon wali kota Semarang.

Sebab, tak ada parpol yang memberikan rekomendasi kepadanya.

Bahkan Partai Golkar justru memberikan rekomendasi kepada Yoyok Sukawi -Joko Santoso (Joko Joss), Dico kembali patah arang.

  1. Amblas di Pilbup Kendal 2024

Setelah gagal dalam bursa bakal calon di Pilgub Jateng dan Pilwalkot Semarang, Dico berniat kembali ke Kendal.

Alih-alih ingin tetap melanggengkan kekuasaannya, nyatanya Partai Golkar justru merekomendasikan kepada paslon lain, yakni Mirna Annisa-Urike Hidayat yang diusung oleh koalisi Partai Gerindra.

Dico masih mencoba peruntungan dengan bermanuver menggunakan PKB.

Ia mencoba merebut rekomendasi PKB sebagai partai pemenang di Kendal untuk kendaraan politiknya.

Tapi lagi-lagi alam berkata lain.

Meski rekomendasi didapatnya, tapi PKB sudah telanjur mencalonkan pasangan Dyah Kartika Permanasari-Benny Karnadi.

Alhasil, saat menit-menit terakhir pendaftaran Dico bersama KH Ali Nurudin ditolak KPU Kendal.

Dico kembali nyungsep dan mengalami nasib tragis di akhir masa jabatannya sebagai Bupati Kendal.

Nasi sudah menjadi bubur.

Andai saja sejak awal tidak terlalu PeDe untuk maju di Pilgub Jateng atau Pilwalkot Semarang mungkin nasib berkata lain.

Asalkan Dico dari awal fokus untuk menata Kendal lebih dulu, tidak tergesa-gesa ingin karirnya politiknya segera melesat tinggi.

Mimpi yang tinggi, tapi yang didapat justru kini karir politiknya meredup dini di usianya yang masih muda.

Semoga serangkaian peristiwa ini bisa diambil hikmahnya untuk Dico ke depan lebih berhati-hati dalam berpolitik. Sebab, di politik tidak ada kawan dan lawan abadi.

Karena yang abadi hanya kepentingan semata. (budi setiyawan/aro)

 

 

 

Editor : H. Arif Riyanto
#Bawaslu Kendal #kpu kendal #Dico M Ganinduto #Pilgub Jateng 2024 #PILWALKOT SEMARANG #Menyala Abangku #chacha frederica #Pilbup Kendal #bupati kendal