RADARMAGELANG.ID, Semarang-Mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dibuat resah dengan keputusan rektornya ihwal kenaikan Iuran Pengembangan Institusi (IPI) yang tak masuk akal.
Kenaikan IPI yang mencapai empat kali lipat untuk semester depan itu cukup menyengsarakan mayoritas mahasiswa.
Selasa (7/5/2024), lebih dari 700 mahasiswa UNNES menggeruduk gedung rektorat melakukan aksi protes kenaikan IPI.
Setidaknya ada lima tuntutan yang diinginkan para mahasiswa.
Pertama, menolak kenaikan biaya IPI UNNES.
Kedua, menuntut untuk tidak memberatkan mahasiswa dalam biaya UKT.
Ketiga, tolak komersialisasi terhadap Mahasiswa sebagai sumber utama pendapatan biaya kampus.
Keempat, menuntut kebijakan kampus yang Transparansi, Akuntabilitas, Responbilitas dan Berkeadilan.
Kelima, Menuntut MWA (Majelis Wali Amanat) untuk segera menyelesaikan pembatalan kenaikan tarif IP.
Keenam, hentikan represifitas terhadap mahasiswa yang ingin menyampaikan pendapat di muka umum.
Salah satu yang paling disorot adalah mendesak rektor untuk menurunkan IPI yang naik signifikan.
Kenaikan IPI yang mencapai empat kali lipat itu tentu membuat para mahasiswa keberatan. Kenaikan IPI tersebut bervariasi sesuai dengan masing-masing jurusan.
"Angkanya cukup fantastis Rp 100 juta-Rp 250 juta. Padahal IPI tertinggi kategori 5 sebelumnya hanya menyentuh angka senilai Rp 25 juta," ujar Koordinator Lapangan Aksi Abdul Rozaq Salis kepada Jawa Pos Radar Semarang.
Di sisi lain, Abdul Rozaq juga turut prihatin terhadap rekan-rekannya jurusan PGSD.
Selain lokasi kampusnya termarjinalkan di Ngaliyan, fasilitas dan sarpras di sana juga kurang memadai.
Mahasiswa semakin merasa keberatan ketika IPI menembus angka Rp 100 juta.
Sementara itu, jurusan kedokteran menembus hingga Rp 250 juta.
"Yang katanya UNNES itu kampus kerakyatan, tapi hari ini jelas ada upaya komersialisasi yang dilakukan oleh birokrasi kampus. Rata-rata mahasiswa dari Jawa Tengah tentu gak masuk akal biaya IPI segitu, tapi UMP (upah minimal provinsi) masih berkisar Rp 2 juta," jelas Rozaq yang juga Menko Sospol BEM KM UNNES.
Pihaknya juga telah mewawancarai sejumlah calon mahasiswa baru melalui jalur UTBK (Ujian Tulis Berbasis Komputer). Sebagian besar dari mereka menyatakan keberatan jika harus membayar IPI sebanyak ratusan juta rupiah.
Ia juga menilai jika biaya sebesar itu tidak sesuai dengan apa yang akan mahasiswa dapatkan. Terutama dalam hal fasilitas dan prasarana.
"Kalau dilihat tadi juga banyak mahasiswa PGSD yang datang. Mereka bisa dikatakan paling keberatan atas keputusan rektor ini," tandasnya.
Usai berlangsungnya orasi, semua tuntutan yang diajukan mahasiswa dimentahkan oleh Wakil Rektor I yang menemui mahasiswa.
Sementara itu, Rektor UNNES Prof Martono tidak tampak mendatangi mahasiswa.
"Kalau kami dicuekkan begini, akan ada aksi lanjutan yang mungkin akan lebih besar," ancamnya. (mia/aro)
Editor : H. Arif Riyanto