Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Kenaikan Harga Beras Picu Inflasi di Jateng, Kota Tegal Tertinggi Sebesar 0,90 Persen, Begini Penjelasan Plh Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng

Khafifah Arini Putri • Senin, 4 Maret 2024 | 02:47 WIB
Plh Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Nita Rachmenia
Plh Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Nita Rachmenia

RADARMAGELANG.ID, Semarang – Harga beras akhir-akhir ini melambung tinggi.

Kenaikan itu memicu inflasi di Jawa Tengah (Jateng).

Bank Indonesia (BI) Jateng mencatat pada Februari 2024 inflasi gabungan dari 9 kabupaten/kota sebesar 2,98 persen (yoy).

Tingkat inflasi secara month to month (mtm) 0,57 persen.

Sedangkan secara year to date (ytd) sebesar 0,49 persen.

Plh Kepala Kantor Perwakilan BI Jateng Nita Rachmenia mengatakan, inflasi pada Februari 2024 terutama dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas pangan, yaitu beras, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

Secara spasial, seluruh kabupaten/kota Indeks Harga Konsumen (IHK) di Jateng mengalami inflasi.

Kota Tegal mencatatkan inflasi tertertinggi sebesar 0,90 persen (mtm), diikuti oleh Kota Purwokerto, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Kudus, dan Kota Surakarta yang masing-masing sebesar 0,61 persen (mtm).

“Harga beras masih mencatatkan kenaikan seiring dengan sebagian besar wilayah sentra produksi di Jawa Tengah yang belum memasuki masa panen,” jelas Nita.

Sedangkan telur dan daging ayam ras, harga turut meningkat seiring dengan pembengkakan biaya produksi peternak.

Itu akibat kenaikan harga pakan serta penurunan pasokan karena sejumlah peternak melakukan afkir ayam.

Kendati demikian, Nita menyebut harga beras diperkirakan akan turun pada periode berikutnya.

Ditambah beberapa wilayah di Jateng akan masuk masa panen raya.

Selain itu juga adanya sinergi Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) wilayah Jateng melalui Gerakan Pangan Murah (GPM).

Sehingga menjadi salah satu upaya pengendalian harga pangan.

“Harga beras diperkirakan berada pada tren penurunan di periode berikutnya seiring dengan panen yang mulai berlangsung di beberapa wilayah, seperti Kabupaten Purworejo,” imbuhnya.
 
Di sisi lain, peningkatan inflasi tertahan oleh penurunan harga beberapa komoditas hortikultura seperti bawang merah, kol putih atau kubis, dan tomat.

“Penurunan harga tersebut berlangsung seiring dengan kecukupan pasokan di Jawa Tengah,” akunya.

Ia menambahkan, sejumlah petani di Kabupaten Brebes melakukan panen dini untuk komoditas bawang merah.

Dengan perkiraan luas lahan panen 150 hektare. Hal ini dilakukan sebagai antisipasi agar tidak mengalami gagal panen yang menyebabkan kerugian.

“Panen dini dilakukan sebagai dampak dari kekhawatiran petani bawang merah terhadap curah hujan yang tinggi dan banjir area lahan bawang merah, yang berisiko mengganggu hasil panen,” tandasnya.

Nita menyebut IHK diperkirakan akan berada pada sasaran inflasi 2,5 plus minus satu persen.

Untuk menjaga inflasi berada pada rentang sasaran, BI bersinergi dengan TPID Jateng melaksanakan berbagai program pengendalian inflasi untuk menjaga kecukupan pasokan dan kelancaran distribusi barang serta komoditas. (kap/zal)

 

Inflasi di Jateng

 

Editor : H. Arif Riyanto
#harga beras #kota tegal #bank indonesia #inflasi