Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Lifestyle Kecantikan Travel Piknik Makan Enak Viral Pojok Kampung Khazanah Artikel Ilmiah

Raki Faisal Anas dan Begik Roastery: Meracik Kopi dari Rumah hingga ke Kafe-Kafe Magelang

Magang Radar Magelang • Senin, 3 November 2025 | 01:56 WIB
Raki pemilik Begik Roastery bersama mesin penggiling kopi miliknya
Raki pemilik Begik Roastery bersama mesin penggiling kopi miliknya

RADARMAGELANG.ID, Magelang - Nama “Begik Roastery” mungkin terdengar unik di telinga. Namun di balik nama itu, ada kisah sederhana dari pemiliknya, Raki Faisal Anas, warga asli Magelang yang kini dikenal sebagai salah satu pelaku usaha kopi lokal. 

Raki menceritakan bahwa “Begik” sebenarnya adalah nama panggilannya dulu semasa SMA. 

“Dulu waktu SMA ada yang ngasih paraban begik karena zaman dulu kan kalau sama temen suka ngejek nama orang tuanya, nah begik itu dari nama orang tua terus diplesetin, terus tak jadiin nama brand,” ujarnya.

Menariknya, latar belakang Raki sama sekali tidak berkaitan dengan dunia kopi. Ia merupakan lulusan Jurusan Ilmu Perpustakaan Universitas Diponegoro. Dunia kopi baru digelutinya sejak tahun 2017, saat setelah ia bekerja di sebuah proyek. 

Dengan tabungan sekitar Rp500.000, ia mulai membeli kopi mentah untuk dijual kembali. Pada awalnya, proses roasting dilakukan di tempat temannya di Coffeetography, sebelum akhirnya ia membeli mesin sendiri.

“Waktu awal itu saya roasting di tempat teman di Coffeetography, sampai akhirnya saya beli mesin sendiri. Jadi, memang fokusnya jualan biji kopi yang kemasan aja,” katanya.

Mesin penggiling kopi yang digunakan Begik Roastery
Mesin penggiling kopi yang digunakan Begik Roastery

Awalnya, usaha itu hanya sambilan. Namun seiring waktu, minat Raki terhadap kopi semakin besar hingga akhirnya menjadi sumber penghasilan utama. Usahanya yang semula bernama Coffee Doffy berganti menjadi Begik Roastery pada tahun 2019, setelah mendapat saran dari temannya agar nama brand lebih mudah diingat.

Meski tanpa latar belakang di bidang pertanian atau F&B, Raki terus belajar. Di awal perjalanan, ia harus bersaing dengan dua brand kopi lain di Magelang yang sudah lebih dulu terjun di dunia kopi. 

Pemasaran Begik Roastery dimulai secara sederhana. Ia memanfaatkan Facebook dan status WhatsApp, dengan pembeli pertama datang dari teman-teman dekat. Tanpa strategi besar atau iklan gencar, usahanya justru berkembang lewat promosi mulut ke mulut. Raki mengaku lebih mengandalkan pemasaran organik.

Ciri khas Begik Roastery terletak pada hasil roasting-nya. Raki memilih karakter kopi light roast hingga medium roast dengan cita rasa fruity, yang menurutnya lebih sesuai dengan pasar saat ini. 

Untuk bahan baku, ia bermitra dengan petani kopi di Windusari dan Grabag, setelah sebelumnya membeli dari Kaliangkrik. Dari wilayah itu, ia mendapatkan kopi single origin untuk berbagai racikan, terutama V60 dan espresso base, yang kini menjadi produk terlaris.

Kini, Begik Roastery menjadi pemasok bagi sekitar 10 hingga 15 kafe di Magelang, atau sekitar 10 persen dari total kafe yang ada. Meski belum memiliki karyawan, seluruh proses produksi, pengemasan, hingga distribusi masih ditangani langsung oleh Raki. 

“Saya selalu pastikan kopi ready stock, saya nggak pernah kehabisan kopi yang siap diambil sama customer, jadi itu salah satu kekuatan disini.,” jelasnya.

Menurutnya, perkembangan industri kopi di Magelang cukup pesat dalam beberapa tahun terakhir. Munculnya berbagai brand besar seperti Fore, Kopi Kenangan, dan Starbucks menjadi tanda bahwa potensi pasar kopi di Magelang cukup menjanjikan. Ia menilai, semakin banyaknya kafe yang bermunculan di kota ini menjadi bukti nyata bahwa grafik pertumbuhan industri kopi terus meningkat.

Begik Roastery memiliki rencana untuk pindah ke lokasi baru sekaligus melakukan pengembangan usaha. Di tempat baru tersebut, Raki berencana membuka bar dan kafe, sehingga nantinya akan membutuhkan beberapa karyawan untuk membantu operasional.

Raki berharap dunia perkopian di Magelang terus berkembang secara sehat dan berkelanjutan. Ia melihat saat ini masyarakat sudah mulai memahami dan memilih kopi berkualitas, terutama jenis specialty coffee

Semakin banyaknya slow bar di Magelang menjadi bukti bahwa penikmat kopi kini lebih menghargai cita rasa dan proses penyeduhan. 

“Harapannya dunia perkopian di Magelang tetap kondusif, marketnya bagus, orang juga sudah pada milih specialty, terbukti dengan makin banyaknya slow bar disini dan mereka punya market masing-masing, jadi sekarang memang orang lebih melihat kualitas kopi,” ujarnya.

Bagi Raki, kopi bukan sekadar bisnis, tapi sudah menjadi bagian dari hidupnya. “Saya hidup karena kopi dan hidup untuk ngopi. Jalan hidupku memang seperti ini dan patut disyukuri,” pungkasnya.  (mg8/mg10)

Editor : H. Arif Riyanto
#v60 #magelang #espresso #roastery #kopi magelang #Light Roasting #features #Medium roasting #Begik Roastery #Kota Magelang