RADARMAGELANG.ID, Mungkid– Pesta pernikahan menjadi momen sakral dan istimewa.
Karena itu, setiap pasangan menggelarnya pun dengan cara istimewa.
Seperti yang dilakukan pasangan Shah Sema Amukti dan Najla Adjani Mahendra ini.
Keduanya berikrar janji suci dan menggelar pesta pernikahan di Kompleks Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Kamis (20/6/2024).
Pesta pernikahan dihelat dengan adat Jawa.
Mirip dengan pernikahan putri keraton.
Pasangan ini mengenakan busana Jawa lengkap.
Diawali dengan kirab pasukan bregodo yang mengenakan busana warna merah.
Berikutnya tiga kereta kencana yang membawa mempelai putri, orang tua mempelai putri, serta orang tua mempelai pria.
Sedangkan pengantin pria menunggang kuda dengan pengawalan prajurit.
Mereka menuju tempat ijab kabul di Taman Lumbini Kompleks Candi Borobudur.
Pernikahan ala keraton itu pun menyedot perhatian wisatawan yang berkunjung hari itu.
Tampak para wisatawan lokal maupun mancanegara mengabadikan momentum tersebut dengan kamera handphone.
Kirab dilakukan dari Manohara menuju Taman Lumbini yang menjadi lokasi acara pernikahan.
Tempat ijab kabul itu sungguh indah dengan background kemegahan stupa Candi Borobudur.
Dipimpin petugas KUA setempat, Shah Sema Amukti mengucapkan ijab kabul dalam bahasa Jawa dengan lancar.
Pasangan ini pun sah menjadi suami istri.
Setelah ijab kabul, kedua mempelai berganti busana basahan.
Konsep pernikahan di situs bersejarah di Kabupaten Magelang itu dibesut oleh Pengantin Production. Wedding organizer asal Jogjakarta ini juga pernah menggarap acara pernikahan putra bungsu Presiden Joko Widodo, Kaesang Pangarep dan Erina Gudono.
Dani Mukti, owner Pengantin Production mengaku menggelar pesta pernikahan di Candi Borobudur merupakan sebuah tantangan.
Pihaknya harus mengemas acara ini agar bisa berjalan dengan lancar.
Apalagi lokasi tersebut merupakan tempat terbuka. Sehingga harus menyiapkan sebuah tempat yang bisa memberikan kenyamanan untuk tamu undangan.
Selain itu, kata dia, cuaca juga menjadi tantangan.
Sebab, kalau tidak panas sekali ya pasti hujan.
Namun Dani merasa bahagia bisa mengemas pesta pernikahan Sema dan Najla tersebut dengan baik.
“Tidak mudah karena ini adalah tempat terbuka. (Tantangannya) membangun tempat agar tamu undangan nyaman,” ujarnya, Kamis (20/6/2024).
Dani menambahkan, orang tua masing-masing mempelai memang berkeinginan mengemas prosesi pernikahan dengan adat Jawa sebagai bentuk pelestarian.
Ayah mempelai putra, H Kemal Mustofa mengatakan, pemilihan konsep adat Jawa ini karena dirinya ingin mencoba membangkitkan lagi bahwa budaya nusantara sudah saatnya untuk menjadi jati diri bangsa. Khususnya di acara-acara sakral seperti ini.
“Harapan saya kedua mempelai bisa membawa amanah leluhur, untuk mewujudkan harapan-harapan orang tua. Serta mengajarkan bahwa budaya Jawa itu juga indah dan tidak kalah dengan budaya luar,” ucapnya.
Pengantin pria, Sema, mengaku terkesan ketika akad nikah sudah sah, dan pertama kali bertemu Najla setelah berhari-hari dipingit.
Menurutnya, menikah di Candi Borobudur merupakan impiannya sejak kecil.
“Ini impian saya sejak kecil yang mau diwujudkan. Sangat bahagia bisa menikah di sini. Ini melambangkan kecintaan kami pada budaya negeri sendiri,” cetusnya.
Hal senada diungkapkan pengantin putri Najla. Dikatakan, pernikahannya menjadi gerbang untuk mempelajari falsafah-falsafah Jawa.
Terlebih, dia tumbuh di lingkungan budaya Betawi dan Sunda.
“Semoga bisa menjadi inspirasi bagi pasangan-pasangan yang lain juga,” ujarnya. (rofik syarif/aro)
Editor : H. Arif Riyanto