RADARMAGELANG.ID, Semarang- Ini tradisi jelang datangnya bulan suci Ramadan.
Namanya Gebyuran Bustaman.
Digelar di Kampung Bustaman RT 4 -5 RW 3, Kelurahan Purwodinatan, Kecamatan Semarang Tengah, Minggu (3/3/2024.
Tradisi ini diikuti anak-anak, remaja, hingga para orang tua.
Bukan hanya warga Kampung Bustaman, tapi juga pengunjung dari luar kampung.
Pantauan Jawa Pos Radar Semarang, di depam gapura Kampung Butaman atau di Jalan MT Haryono, dekat apotek, terdapat panggung kesenian.
Di sekitarnya terdapat stan UMKM kuliner.
Menjual jajanan tradisional dan produk unggulan Kampung Bustaman.
Saat memasuki Kampung Bustaman, para pengunjung dan warga harus dicoret wajahnya menggunakan warna yang terbuat dari tepung dan pewarna makanan.
Ibu-ibu dan warga lainnya mempersiapkan air warna-warni yang dibungkus plastik.
Para awak media dan fotografer pun membungkus peralatan memotretnya menggunakan plastik.
Juga handphone yang dibawa.
Menghindari risiko basah terkena lemparan air.
Acara gebyuran dimulai setelah salat Ashar.
Diawali kirab budaya yang dipimpin Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Semarang R Wing Wiyarso Poespojoedho.
Disusul para penari tradisional dan kelompok rebana.
Mereka membawakan salawatan.
Berjalan mengarak tujuh anak yang akan dimandikan di area Masjid Barokah, Kampung Bustaman.
Tujuh anak dimandikan dengan air yang sudah didoakan dengan khidmat.
Setelah dimandikan, bunyi petasan dan genderang pun ditabuh.
Pertanda perang air dimulai.
Semuanya basah kuyup karena saling lempar air warna-warni.
Ada juga yang menggebyurkan air dari atas loteng.
Tak sedikit yang mengabadikan foto dan video dari atas musala.
Ketua Panitia Gebyuran Bustaman Fachrizal Efendy, 38, menjelaskan, kegiatan Gebyuran Bustaman dilakukan setiap tahunnya menjelang Bulan Ramadan.
Berbeda dengan tahun sebelumnya yang dilakukan di dalam kampung dan tidak ada stan kuliner.
Gebyuran Bustaman tahun ini terdapat stan kuliner dan hiburan dilakukan di luar kampung.
"Tapi tetap gebyuran dilakukan di dalam kampung," ujarnya.
Tradisi Gebyuran Bustaman dimulai Kamis malam berupa arwah jamak.
Hari Jumat, warga berziarah di Makam Mbah Yai Bustam.
"Sabtunya kita bersih kampung, Minggunya puncak kegiatan," ujarnya.
Diceritakan, Mbah Bustam terbiasa memandikan cucunya menjelang Bulan Ramadan dengan cara menyiram.
"Kita dari panitia memiliki inovasi dengan perang air," ujarnya.
Mbah Bustam merupakan pahlawan Indonesia yang menyambung lidah rakyat Indonesia ke Belanda dan sebaliknya.
"Beliau ini pejuang," tandasnya.
Ia berharap, Kampung Bustaman lebih dikenal, tak hanya sebagai Kampung Gulai dan Kampung Jagal Kurban saja.
"Tetapi di sini ada kulinernya, bahkan saat sahur dan buka puasa juga ramai jajanan tradisonal," harapnya.
Kepala Disbudpar Kota Semarang R Wing Wiyarso Poespojoedho mengapresiasi kelestarian tradisi Gebyuran Busataman yang tetap terjaga.
"Kearifan lokal ini harus terjaga sebagai warisan dari Kiai Bustam menjelang bulan Ramadan, dan kampung ini sebagai salah satu potensi sektor wisata Kota Semarang baik dari lokal maupun mancanegara," jelasnya.
Ia berharap tradisi di Kampung Bustaman bisa diusulkan ke UNESCO sebagai warisan tak benda.
"Karena banyak jejak sejarah Kota Semarang di Kampung Bustaman ini," ujarnya. (fgr/aro)
Editor : H. Arif Riyanto