RADARMAGELANG.ID - Perempuan, cinta, dan perjuangan. Tiga hal itu jadi benang merah dalam sejumlah film Indonesia yang menghadirkan isu kesetaraan gender. Bukan sekadar hiburan, deretan film ini menghadirkan cerita yang dekat dengan realita: perempuan yang harus berjuang melawan stereotip, melawan batasan tradisi, hingga mencari keadilan di tengah budaya patriarki.
Film menjadi medium yang efektif untuk menyampaikan pesan sosial. Lewat kisah yang emosional, sutradara mampu mengajak penonton ikut merasakan perjuangan perempuan yang sering terpinggirkan. Ada yang bikin terharu, ada yang bikin geram, tapi semuanya punya satu tujuan: membuka mata kita tentang pentingnya kesetaraan gender.
Nah, Berikut lima film Indonesia yang mengangkat isu kesetaraan gender. Simak di bawah ini ya!
- Kartini (2017)
Poster Kartini
Film ini mengisahkan perjalanan hidup Raden Adjeng Kartini, tokoh emansipasi perempuan Indonesia. Hidup dalam budaya Jawa yang feodal, Kartini dituntut untuk patuh pada tradisi pingitan dan hanya dipandang dari status sosial keluarga. Namun, ia berani menentang kebiasaan tersebut dengan memperjuangkan hak pendidikan dan kebebasan perempuan. Melalui film ini, penonton diajak memahami bagaimana Kartini melawan batasan gender dan menanamkan gagasan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dalam menempuh pendidikan serta menentukan masa depannya.
- Yuni (2021)
Poster FIlm Yuni
“Yuni” bercerita tentang seorang siswi SMA cerdas yang bercita-cita melanjutkan pendidikan ke universitas. Namun, harapan tersebut terancam pupus ketika ia dihadapkan pada budaya perjodohan. Tekanan sosial dan norma yang membatasi perempuan menjadi isu utama dalam film ini. “Yuni” berhasil memotret dilema banyak remaja perempuan di Indonesia yang harus memilih antara pendidikan, kebebasan pribadi, atau tunduk pada tradisi yang mengekang.
- Gadis Kretek (2023)
Poster FIlm Gadis Kretek
Serial adaptasi dari novel Ratih Kumala ini menyoroti perjuangan perempuan dalam industri kretek pada era 1960-an. Sosok Dasiyah atau Jeng Yah menjadi simbol perempuan yang berusaha menunjukkan kemampuan dan identitasnya di tengah dominasi laki-laki dalam bisnis keluarga. “Gadis Kretek” bukan hanya bercerita soal cinta dan keluarga, tetapi juga menyajikan kritik sosial tentang bagaimana perempuan sering tersingkirkan dari ruang pengambilan keputusan. Dengan latar sejarah politik Indonesia, serial ini semakin memperkuat relevansi isu gender yang diangkat. Lewat sosok Jeng Yah, serial ini menegaskan bahwa perempuan punya kemampuan setara dan pantas mendapat pengakuan dalam dunia kerja maupun masyarakat.
- Habibie & Ainun 3 (2019)
Poster Habibie dan Ainun 3
Habibie & Ainun 3 mengangkat kisah masa muda Hasri Ainun. Saat masih menjadi mahasiswi kedokteran, Ainun digambarkan sebagai sosok cerdas, idealis, dan penuh semangat. Lewat akting Maudy Ayunda, film ini menampilkan keberanian Ainun dalam menempuh pendidikan tinggi di tengah masyarakat yang masih sarat stereotip gender pada era 1960-an. Tak hanya itu, cerita juga memperlihatkan sisi personalnya—dari pertemanan, percintaan, hingga tekanan sosial yang menuntut perempuan untuk segera menikah. Meski begitu, Ainun tetap teguh pada pilihannya untuk mengabdi sebagai dokter dan menjalani hidup sesuai dengan prinsipnya.
- Penyalin Cahaya (2021)
Poster FIlm Penyalin Cahaya
Film Penyalin Cahaya menyoroti kerasnya realitas kekerasan seksual di kampus. Melalui kisah Sur, seorang mahasiswi yang justru disalahkan setelah fotonya tersebar, film ini menyingkap praktik victim-blaming yang masih kuat terhadap perempuan. Alih-alih mendapat perlindungan, Sur kehilangan beasiswa dan harus menghadapi stigma sosial yang menekan. Ketimpangan kuasa juga tergambar jelas, di mana pelaku dilindungi karena punya posisi berpengaruh, sementara korban terpinggirkan. Lewat cerita yang emosional, Penyalin Cahaya mengkritik budaya patriarki dan minimnya ruang aman bagi korban, sekaligus memberi suara bagi mereka yang kerap dibungkam.
Deretan film tadi nunjukin kalau layar lebar Indonesia nggak cuma soal drama atau cinta-cintaan aja, tapi juga bisa jadi cara keren buat ngomongin isu serius kayak kesetaraan gender. Jadi, kapan nih mau coba nonton? (mg9/aro)
Editor : H. Arif Riyanto