Dosen UNTIDAR Dampingi Produsen Keripik Sagu Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, Perkuat Manajamen dan Strategi Pemasa

Devi Khofifatur Rizqi • Dipublikasikan Rabu, 16 September 2026 | 13:08 WIB
Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Tidar (UNTIDAR) menyelenggarakan pendampingan intensif bagi kelompok ibu rumah tangga produsen keripik sagu di Dusun Soka, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta.
Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Tidar (UNTIDAR) menyelenggarakan pendampingan intensif bagi kelompok ibu rumah tangga produsen keripik sagu di Dusun Soka, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta. 

RADARMAGELANG.ID, Bantul - Tim Program Kemitraan Masyarakat (PKM) Universitas Tidar (UNTIDAR) menyelenggarakan pendampingan intensif bagi kelompok ibu rumah tangga produsen keripik sagu di Dusun Soka, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta. 

Kegiatan pengabdian bertajuk “Pengembangan Usaha Mikro Keripik Sagu sebagai Upaya Pemberdayaan Perempuan dan Penguatan Ekonomi Desa di Pundong Bantul” ini difokuskan pada penguatan legalitas usaha, penerapan higienitas produksi, perancangan kemasan profesional, pembukuan keuangan, hingga strategi pemasaran digital untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa secara berkelanjutan.

Keripik sagu produksi warga Dusun Soka, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta.
Keripik sagu produksi warga Dusun Soka, Desa Seloharjo, Pundong, Bantul, DI Yogyakarta. 

Keripik sagu khas Pundong selama ini digemari masyarakat karena memiliki cita rasa otentik dengan bahan dasar kedelai, memiliki tekstur yang renyah, rasa gurih, serta harga yang terjangkau.

Olahan pangan lokal ini dinilai sangat berpeluang menjadi produk oleh-oleh khas unggulan yang diminati para wisatawan di wilayah Bantul dan DI Yogyakarta.

Selain menjadi sajian khas, pengembangan usaha mikro ini menyimpan potensi besar dalam menggerakkan perekonomian berbasis potensi lokal serta membedayakan ibu rumah tangga sebagai pelaku ekonomi aktif.

Meski berpotensi besar, pengelolaan usaha keripik sagu di Dusun Soka semula masih dikelola secara sederhana sebagai usaha sampingan rumah tangga.

Akibatnya, para produsen menghadapi berbagai kendala mendasar, seperti minimnya penerapan standar higienitas produksi, belum tersedianya izin legalitas usaha (NIB dan SPP-PIRT), belum adanya identitas merek dan kemasan yang menjual, pembukuan keuangan yang belum teratur, serta jangkauan pemasaran yang masih terbatas di lingkungan sekitar.

“Pernah produksi keripik, dititipin ke warung-warung sekitar saja. Pencatatan uang keluar masuk ya sekadarnya saja. Kalau diadakan pelatihan dari UNTIDAR kami senang sekali dan sangat berterima kasih,” kata Juminten, Anggota Kelompok Produsen Keripik Sagu Dusun Soka kepada Jawa Pos Radar Magelang.

Merespon kebutuhan mitra, tim pengabdian masyarakat Universitas Tidar hadir memberikan pendampingan terstruktur sejak bulan Juni hingga September 2026.

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat Universitas Tidar Dr. Dra. Mursia Ekawati, M.Hum. menjelaskan, tahapan pendampingan dimulai pada tanggal 27 Juni 2026 melalui survei lokasi dan pemetaan kebutuhan bersama enam orang ibu rumah tangga selaku produsen.

“Hasil pemetaan mengonfirmasi semangat wirausaha yang tinggi dari para ibu, namun masih terkendala oleh keterbatasan literasi berwirausaha, literasi digital, dan literasi keuangan,” katanya.

Ditambahkan, rangkaian pendampingan berlanjut pada 25 Juli 2026 dengan penyusunan dan pendampingan penerapan Standar Operasional Prosedur (SOP) produksi higienis untuk menjamin keamanan pangan.

Tim PKM yang beranggotakan Annisa Cahya Rahina, S.Pd., M.Pd.,Pertiwi Nurfebrianti, S.Pd., M.Pd., Reismaya Wanamertan Nugroho, S.P., M.P., Gilang Pradana Nusa dan Septi Anggraeni juga merancang identitas merek, desain label, dan kemasan produk agar tampil lebih menarik dan profesional di mata konsumen, disusul dengan sosialisasi alur pendaftaran Nomor Induk Berusaha (NIB) dan izin PIRT guna memperluas legalitas usaha.

“Selanjutnya pada 26 Juli 2026, mitra dibekali pelatihan pembukuan keuangan sederhana, metode perhitungan Harga Pokok Produksi (HPP), serta strategi pemasaran langsung dan promosi media sosial,” ujarnya.

Menurut Mursia Ekawati, langkah ini disempurnakan dengan tahap uji coba produksi mandiri oleh mitra yang berlangsung sepanjang bulan Agustus hingga September 2026.

“Keberhasilan program pendampingan ini terbukti secara kuantitatif melalui evaluasi angket pre-test dan post-test yang diisi oleh para peserta,” ucapnya.

Disebutkan, hasil data menunjukkan lonjakan signifikan pada pemahaman dan keterampilan mitra.

Tingkat pemahaman mitra mengenai standar higienis dan keamanan pangan yang semula hanya berada di angka 66,6 persen pada saat pre-test, melonjak drastis mencapai 97 persen setelah mendapatkan pendampingan (post-test). 

Pemahaman mitra terkait strategi pemasaran langsung maupun promosi media sosial meningkat dari 55,6 persen (pre-test) menjadi 75,3 persen pasca-pelatihan (post-test).

Rangkaian Program Kemitraan Masyarakat ini terbukti berhasil mentransformasi usaha keripik sagu di Dusun Soka dari sekadar usaha sampingan rumah tangga menjadi kelompok usaha mikro yang lebih profesional, higienis, dan berlegalitas.

“Melalui penguatan SOP produksi, pengelolaan keuangan yang tertata, serta penguasaan strategi pemasaran digital, kelompok perempuan ini dapat memiliki kemandirian ekonomi yang lebih kokoh,” tandasnya.

Dikatakan, program pendampingan ini tidak hanya meningkatkan daya saing produk lokal di pasar oleh-oleh yang lebih luas, tetapi juga menjadi bukti nyata peran perguruan tinggi dalam memberdayakan masyarakat dan menggerakkan roda perekonomian desa secara berkelanjutan. (dev/aro)

 

Editor : H. Arif Riyanto
Keripik sagu pemasaran digital universitas tidar untidar bantul