RADARMAGELANG.ID--Cuaca malam ini cukup cerah di Kota Pekalongan, Sabtu (27/4/2024).
Bulan terlihat sangat jelas di atas langit.
Tak seperti malam sebelumnya yang hilang ditutupi awan dan hujan deras.
Waktu menunjukkan pukul 21.30 WIB.
Wahyuni, mbah-mbah asli Pekalongan berusia 70 tahun ini baru saja sampai di Alun-Alun Kota Pekalongan.
Ia sedang gowes bersama anak-anak, cucu-cucunya, dan komunitas pesepeda.
Sepeda kecil berwarna biru menemani olahraganya malam ini, dari Lapangan Mataram menuju Alun-Alun Kota Pekalongan.
Jarak yang ditempuh sekitar 4 kilometer.
Sampai alun-alun, Mbah Yuni bersama rombongan duduk dan memarkirkan sepedanya di depan tugu.
Karena malam Minggu, Alun-Alun Kota Pekalongan pun cukup ramai.
Mereka berbaur bersama masyarakat yang menikmati malam Minggu di sana.
Jawa Pos Radar Semarang sudah janjian dengan Mbah Wahyuni di tempatnya finish bersepeda.
Yaitu, Alun-Alun Kota Pekalongan.
Koran ini bertemu pukul 22.00 malam.
Mbah Yuni sedang ngaso bersama di area depan tugu Alun-Alun Kota Pekalongan.
Walaupun sudah gowes lama, ia masih terlihat bugar.
"Tidak begitu ngos-ngosan, karena sudah biasa. Cuma kadang kalau mau naik jembatan di-step (dorong, Red.) sama anak," ujarnya menjawab pertanyaan pembuka dari Jawa Pos Radar Semarang.
Yuni menjelaskan, kegiatan gowes itu sudah menjadi agenda rutin yang dilakukan sebulan sekali tiap malam Minggu terakhir.
Di usianya yang sudah tidak muda lagi, Mbah Yuni masih aktif berolahraga.
Itu yang menjadi salah satu bekalnya untuk sampai di puncak gunung-gunung yang ada di Indonesia.
Sudah 15 gunung ditaklukkan Mbah Yuni. Dia mulai tertarik mendaki pada tahun 2012.
Usianya juga sudah tidak muda lagi, yaitu umur 59 tahun.
Gunung yang pertama didaki adalah Gunung Slamet.
"Awalnya, anak-anak itu seneng naik gunung. Tiga apa empat bulan sekali pasti naik gunung. Lama-lama, anak yang paling kecil sudah besar. Pada naik semua, akune pingin. Di atas ada apanya," tuturnya.
Yuni punya sembilan anak, salah satunya sudah meninggal dunia. Anak-anak itulah yang kerap menemaninya naik ke puncak gunung.
Berbagai gunung di Jawa dan luar Jawa sudah didakinya.
Seperti Sumbing, Prau, Latimojong, Rinjani, Hanoman, Kendalisodo, Cermai, Raung, Slamet dan lainnya.
Awal-awal Yuni sempat pikir-pikir, namun ia percaya pada anak-anaknya yang bisa menemani sampai atas.
Kegiatan keluarga itu biasa dilalui beramai-ramai.
Namun tak jarang hanya beberapa orang saja yang ikut naik.
Perjalanannya naik gunung tidak dilakukan dengan ngoyo, atau tidak memaksakan diri.
Mbah Yuni mendaki beberapa langkah, minum, duduk-duduk dulu.
Lalu melanjutkan perjalanan lagi.
Sampai pos berapapun jika sudah mau malam, Mbah Yuni berhenti dan beristirahat di sana.
Kemudian berangkat besoknya.
Biasanya butuh waktu hingga lima hari untuk sampai ke puncak.
Bahkan lebih lama lagi jika medan dan cuaca ekstrim.
Karena waktu pendakian cukup lama, bekal yang dibawa juga komplit.
Bekal dan logistik lain itu dibawa oleh anak-anaknya.
Seperti beras, mi instan, sayur, ayam, ikan, tempe dan lainnya untuk masak di atas.
"Di atas itu melihat pemandangan. Kalau sudah di atas aku itu nol. Semua milik Allah, tur indah sekali. Alhamdulillah aku sampai di atas sana, awan itu aku di atas awan seperti laut itu," ujarnya takjub melihat alam luas dari ketinggian.
Sekali pendakian, ia bisa menghabiskan uang sampai Rp 7 juta untuk mendaki di Latimojong bersama dua orang.
Jumlah uang ini menentukan banyaknya orang yang ikut mendaki.
Mbah Yuni biasanya mengumpulkan uang dalam beberapa bulan, sampai tahunan untuk mendaki.
Mbah Yuni dahulu merupakan penjual Sego Megono di Jalan Irian.
Sekarang aktivitas jualan itu dilakukan di rumah.
Jualan merupakan salah satu kuncinya menjaga kebugaran.
Tiap pagi ia harus jalan di pasar.
Aktifitas jalan kaki itu sekarang dilakukannya tiap bangun tidur.
Berkenan dengan makanan, warga Jalan Kalimantan, Gang Arjuna, Kelurahan Podosugih, Kecamatan Pekalongan Barat ini lebih suka makan sayuran.
Ia tidak bisa makan daging seperti daging sapi, kambing, dan sejenisnya.
Itulah rutinitas yang dilakukan Mbah Yuni hingga bisa menaklukkan gunung-gunung di Indonesia.
"Paling bagus di Gunung Andong, Magelang. Di bawah lampu-lampu semua, di atas bintang-bintang. Jadi indah sekali. Ya Allah aku bisa melihat seperti ini, alhamdulillah," Mbah Yuni terharu sambil memberi penekanan kata indah sekali.
Saat pendakian, ia selalu senang bertemu pendaki lain.
Banyak pendaki yang mengenal.
Sementara Mbah Yuni tidak tahu siapa orang yang menyapanya itu.
Bahkan saat berbelanja di pasar dekat gunung, ia seringkali tidak diperbolehkan membayar apa yang akan dibeli.
Diberikan cuma-cuma, saat pedagang itu mengetahui bahwa dirinya adalah pendaki
"Ke depan saya pengin ke Gunung Argopuro, kalau Allah mengizinkan. Aku dikasih rezeki yang banyak, dan akunya sehat itu mau ke sana. Uangnya belum nyampe, belum tahu kapan," ucapnya.
Muhammad Menang Susilo, 32, anak ke sembilan yang sering mendampingi Mbah Yuni mendaki mengatakan, banyak orang yang bilang kepadanya.
Sudah tua kok masih diizinkan naik.
Namun demikian, ia berpegang pada persiapan dan kondisi terkini sebelum berangkat.
Apakah bakal kuat atau tidak.
Saat mendaki, ia punya peran membawa perbekalan.
Tas kapasitas 100 liter plus 15 liter biasa dibawanya saat naik ke puncak.
"Saya selalu menjaga tenaga untuk mematangkan persiapan. Karena semua beban itu di saya," tandasnya. (yan/aro)
Editor : H. Arif Riyanto