RADARMAGELANG.ID, Semarang—Jelang datangnya bulan Ramadan, warga menguras air sendang.
Namanya Tradisi Nydran Sendang Gede Pucung.
Tradisi ini dilakukan oleh ratusan warga Pucung RW 8 Kelurahan Pudakpayung, Kecamatan Banyumanik, Kota Semarang.
Warga juga menyembelih 135 ekor ayam dari warga Kelurahan Pudakpayung dan berebut satu kuintal lele yang ditebar di sendang.
Warga berbondong-bondong menuju ke Sendang Gede Pucung dengan membawa makanan berupa nasi, lauk pauk, sayur-sayuran, buah-buahan dan jajan pasar.
Selain itu, mereka juga membawa ember dan peralatan kebersihan lainnya untuk menguras atau tawu sendang.
Sesampainya di area Sendang, ibu-ibu mempersiapkan makanan yang dibawa untuk dimakan bersama setelah didoakan.
Sedangkan para pemuda, anak-anak, dan bapak-bapak melakukan bersih sendang.
Sebelum dilakukan bersih sendang, ada penjamasan pusaka oleh Lurah Pudakpayung dan penyembelihan ayam sebagai pertanda dimulai nyadran.
Menariknya, saat bersih sendang, warga Pudakpayung itu juga berebut satu kuintal ikan lele yang ditebar sebelum prosesi nyadran.
Selain itu, ada 135 ekor ayam yang disembelih untuk dimakan bersama.
Warga sangat antusias melakukan tawu sendang sambil berebut lele dan membersihkan ayam yang telah disembelih.
Pada saat yang bersamaan, para tokoh masyarakat bersama Lurah Pudakpayung dan pihak Kecamatan Banyumanik melakukan ziarah di Makam Mbah Nyi Tayem.
Diketahui, makam tersebut merupakan leluhur dari warga Pucung RW 8 Pudakpayung.
Setelah semua prosesi nyadran, dilakukan doa bersama.
Dilanjutkan dengan makan bersama di area sendang.
Tokoh masyarakat Pucung RW 8 Pudakpayung Ngasri, 62, menjelaskan, tradisi ini dilakukan menjelang puasa, tepatnya setiap Ruwah atau bulan Sya'ban pada hari Jumat Pahing menurut penanggalan Jawa.
Diceritakan, Sendang Gede Pucung merupakan sumber mata air untuk warga Pucung.
Sesepuh bernama Mbah Nyi Tayem dulu memulai aktivitas dengan memanfaatkan sendang tersebut, seperti mencuci, minum dan memasak.
Nyadran Sendang Gede Pucung ini memiliki simbol yang dilakukan sebelum ibadah puasa, yakni mandi atau bersih diri.
"Sehingga badan dan pikirannya bersih semua, kami berharap semua masyarakat di sini menjadi sehat, tidak ada bencana, dan berhasil usahanya," harapnya.
Lurah Pudakpayung Pamirah menambahkan, tradisi nyadran merupakan bentuk kelestarian budaya di Pudakpayung sebagai rasa syukur dan hormat kepada para luhur.
Ia berharap, beberapa area di sekitar Sendang Gede Pucung akan ditambah pendopo dan talut atau saluran air yang masih berlanjut.
"Kami berharap melalui aspirasi yang diajukan ke dinas teknis, Sendang Gede Pucung dapat menjadi budaya religi yang terus lestari, apalagi menjadi wisata religi," harapnya. (mg8/mg9/mg10/mg11/fgr/aro)
Editor : H. Arif Riyanto