Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Guru Mendidik dengan Hati, Bukan Sekadar Nilai Rapor

H. Arif Riyanto • Senin, 29 Juni 2026 | 20:31 WIB
Salma Fiddaraini, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar. (DOKUMEN PRIBADI)
Salma Fiddaraini, Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar. (DOKUMEN PRIBADI)

Oleh: Salma Fiddaraini

RADARMAGELANG.ID--Di tengah tuntutan kurikulum yang semakin kompleks dan target capaian akademik yang terus meningkat, suasana ruang kelas perlahan mulai kehilangan esensinya.

Guru dituntut untuk menyelesaikan materi sesuai jadwal, memastikan seluruh kompetensi tercapai, serta memenuhi berbagai standar penilaian yang telah ditetapkan.

Fokus terhadap pencapaian angka dan hasil akademik sering kali menjadi prioritas utama dalam proses pembelajaran.

Namun, di balik semua tuntutan tersebut, terdapat satu aspek penting yang perlahan terabaikan, yaitu peran guru dalam mendidik dengan hati.

Padahal, pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan siswa yang cerdas secara intelektual, tetapi juga membentuk manusia yang memiliki karakter, empati, dan nilai-nilai kehidupan yang kuat.

Fenomena ini melahirkan sebuah paradoks yang patut menjadi perhatian bersama.

Di satu sisi, sekolah berusaha mencetak peserta didik yang unggul dalam bidang akademik dan mampu meraih prestasi yang membanggakan. 

Namun, di sisi lain, tidak sedikit siswa yang mengalami kesulitan dalam menghadapi persoalan kehidupan sehari-hari yang memerlukan kejujuran, tanggung jawab, kedisiplinan, maupun empati terhadap sesama. 

Oleh karena itu, sudah saatnya guru memahami dan mengakui bahwa mengajar dan mendidik merupakan dua hal yang berbeda.

Mengajar berkaitan dengan proses penyampaian ilmu pengetahuan dan keterampilan kepada peserta didik. Sementara itu, mendidik merupakan proses yang lebih luas karena mencakup pembentukan sikap, nilai, karakter, dan kepribadian seseorang.

Ketika guru hanya berorientasi pada penyampaian materi pelajaran, proses pembelajaran akan berjalan secara mekanis dan kehilangan makna yang lebih mendalam.

Padahal, hakikat pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Pendidikan harus mampu mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki peserta didik, baik dari aspek intelektual, emosional, maupun sosial.

Dalam konteks ini, keseimbangan antara pikiran (head), hati (heart), dan tindakan (hand) menjadi kunci utama keberhasilan pendidikan.

Kehadiran guru yang memberikan teladan, perhatian, serta dukungan emosional sering kali meninggalkan kesan yang lebih mendalam dibandingkan materi pelajaran yang disampaikan.

Banyak siswa yang mengingat bagaimana seorang guru memperlakukan mereka dengan baik, memberikan motivasi saat mengalami kesulitan, atau menjadi pendengar yang tulus ketika mereka menghadapi masalah.

Oleh karena itu, yang perlu dibenahi bukan hanya metode mengajar, tetapi juga orientasi pendidikan yang harus kembali menempatkan manusia sebagai pusat dari seluruh proses pembelajaran.

Selain itu, guru perlu meluangkan waktu untuk mengenal peserta didiknya secara lebih mendalam.

Setiap siswa memiliki latar belakang keluarga, karakter, kemampuan, serta kebutuhan yang berbeda-beda.

Pemahaman terhadap kondisi tersebut dapat membantu guru menciptakan proses pembelajaran yang lebih bermakna dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik. 

Sudah saatnya ruang kelas kembali menjadi tempat tumbuh, bukan sekadar tempat belajar.

Tempat di mana siswa tidak hanya diasah kecerdasannya, tetapi juga ditumbuhkan kepekaan sosial, rasa empati, serta kepedulian terhadap lingkungan sekitar.

Tempat di mana nilai-nilai kehidupan tidak hanya diajarkan melalui teori, tetapi juga dihidupkan melalui keteladanan dan pengalaman nyata.

Dengan pendidikan yang berorientasi pada hati, sekolah dapat melahirkan generasi yang tidak hanya pintar secara akademis, tetapi juga memiliki karakter yang kuat, tanggung jawab, integritas, serta kemampuan untuk menghargai sesama.

Pada akhirnya, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai rapor, melainkan dari bagaimana peserta didik mampu menjadi manusia yang bijaksana, berakhlak mulia, serta memberikan manfaat bagi masyarakat dan lingkungan di sekitarnya.

Dengan cara inilah pendidikan dapat menjalankan fungsinya yang sesungguhnya, yaitu membentuk manusia seutuhnya untuk menghadapi kehidupan di masa depan. (*/aro)

 

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Untidar

Editor : H. Arif Riyanto
#3h Hari wahyono #RAPOR #kurikulum #guru #FKIP Untidar Magelang