Oleh: Ashya Ika Fitriani
RADARMAGELANG.ID--Perkembangan pendidikan modern saat ini menuju pergerakan yang sangat cepat. Mulai dari adanya perubahan inovasi teknologi, kurikulum serta digitalisasi.
Membuktikan bahwa dunia pendidikan sibuk membenahi perkembangan modern. Namun, pendidikan hanya pada pencapaian akademik tanpa melihat kurangnya bentuk nilai, empat, dan sikap. Pada pembelajaran bahasa Indonesia mendukung Kurikulum Merdeka saat ini agar berfokus pada peserta didik, maka memerlukan penerapan teori 3H. Fenomena ini relevan dengan pendapat Dr. Drs. Hari Wahyono, M.Pd. melalui perspektif pendidikan 3H yang menekankan pentingnya keseimbangan head, heart, dan hand dalam proses pembelajaran guru pendidikan.
Perspektif teori 3H dijelaskan bahwa pendidikan tidak cukup hanya menekankan “head”. Pendidikan harus membangun “heart” sebagai pusat nilai, empati, dan moral. Selain itu, “hand” sebagai tindakan nyata dalam kehidupan sehari-hari. Pandangan tersebut, sangat relevan dengan kondisi pendidikan saat ini yang sibuk mengejar angka akademik, tetapi kurang memberi sikap sosial peserta didik. Akibatnya, banyak peserta didik memahami teori, tetapi belum menerapkan nilai kemanusiaan dalam kehidupan nyata. Oleh karena itu, peran guru harus membangun pembentukan karakter 3H.
Mata pelajaran bahasa Indonesia hanya target dari kemampuan kognitif saja. Perangkat pembelajaran, contohnya modul ajar dipakai untuk mengukur kemampuan materi ketika mencapai akhir dari pembelajaran. Kurikulum Merdeka menjadi padat dengan pelaksanaan pendidikan karakter ketika menghadapi berbagai kendala. Mulai dari lingkungan belajar yang kurang mendukung dengan minimnya keteladanan menjadi faktor penghambat utama. Nilai moral pada peserta didik tidak tercantum pada dasar yang sesungguhnya. Dengan adanya deep learning akan membantu peran guru melalui proses lebih lengkap menggunakan penguasaan materi.
Perspektif teori 3H membuktikan pendidikan masih pada “head”. Menurut pandangan penulis, bahwa pendidikan itu tidak selalu mengenai "head", tetapi harus seimbang dengan "heart" and "hand". Jika karakter peserta didik sangat kuat, maka kecerdasan tidak akan hilang. Pendidikan yang baik akan bisa menghasilkan peserta didik yang pintar serta memiliki sikap yang bertanggung jawab.
Fondasi karakter yang tidak dijaga, maka akan membawa risiko di masa yang akan datang. Oleh karena itu, sudah saatnya pendidikan tidak hanya berlari cepat, tetapi juga kembali memastikan bahwa pijakan nilainya kuat. Termasuk pembelajaran bahasa Indonesia, tidak hanya kemampuan literasi, tetapi membentuk generasi yang berkontribusi positif pada masyarakat.
Kecerdasan yang tidak ada nilai empati membuat hasil generasi yang hanya unggul akademik. Peran guru harus mempunyai kontrol keseimbangan proses pembelajaran. Teori 3H menjadi yang utama agar pendidikan bisa menjadi bentuk generasi yang utuh. Perspektif 3H mengingatkan bahwa menuju keberhasilan pendidikan bukan hanya dari nilai akademik, tetapi bagaimana peserta didik mempunyai perasaan yang baik. Keseimbangan head, heart, dan hand menjadi pendidikan Indonesia yang memiliki fondasi kuat agar membentuk generasi cemerlang. Pada pengembangan media pembelajaran dalam Kurikulum Merdeka perlu menggunakan rancangan secara gabungan teori 3H dengan deep learning.
Sudah saatnya, peran guru dan 3H sebagai arah utama pembelajaran. Kurikum Merdeka dengan pendekatan deep learning menjadi upaya menghadirkan pembelajaran yang bermakna. Guru mempunyai peran yang paling penting untuk menumbuhkan nilai kemanusiaan melalui berbagai tindakan pembelajaran saat literasi agar lebih reflektif. Oleh karena itu, penerapan 3H mendukung Kurikulum Merdeka dalam wujud nyata agar proses pembelajaran semakin baik, termasuk pada pelajaran bahasa Indonesia, Peran guru di tengah pendidikan modern agar bisa menciptakan generasi yang cerdas. (*/aro)
Mahasiswi S1- Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP Universitas Tidar Magelang
Editor : H. Arif Riyanto