Oleh : Riyan Prasetyo
Apa jadinya manusia tanpa bahasa? Pertanyaan tersebut tentu akan memberikan jawaban yang beragam.
Yang jelas tidak mungkin manusia hidup tanpa menggunakan bahasa karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk sosial.
Manusia merupakan makhluk yang berinteraksi dan bersosialisasi dengan manusia lainnya.
Bahasa merupakan sarana komunikasi yang digunakan untuk menyampaikan maksud, ide, pikiran, maupun perasaannya kepada orang lain.
Dengan bahasa kita bisa berinteraksi dengan mudah dengan orang lain. Sebaliknya, tanpa bahasa tentu akan menyulitkan seseorang untuk menyampaikan apa yang menjadi keinginan maupun harapannya.
Jadi, penting bagi seseorang untuk menguasai dan terus meningkatkan kemampuan berbahasanya.
Kemampuan berbahasa merupakan kemampuan yang dimiliki manusia dan membedakan manusia dengan makhluk Tuhan lainnya.
Bahasa memungkinkan manusia untuk menyampaikan informasi dan meneruskan informasi tersebut dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui ungkapan secara tertulis.
Bahasa juga dapat memengaruhi arah perilaku manusia. Kemampuan bahasa, pikiran, perasaan, dan penalaran seseorang dapat dirangsang dan dilatih agar fungsi bahasa dapat dirasakan lebih efektif lagi.
Meskipun hubungan bahasa dan budaya sangat berkaitan, namun pengajaran bahasa sering dipisahkan dari pengajaran budaya (culture).
Bahkan ada yang menganggap bahwa bahasa tidak ada hubungannya dengan budaya.
Memang diakui, budaya penting untuk dipahami oleh pembelajar bahasa, namun pengajarannya sering terpisah dari pengajaran bahasa.
Padahal, bahasa bersifat unik dan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan budaya masyarakat pemakainya.
Bahasa merupakan produk budaya sekaligus wadah penyampai kebudayaan dari masyarakat bahasa yang bersangkutan.
Bahasa harus menjadi alat pengembangan kebudayaan bangsa Indonesia.
Bahasa dan budaya memang tidak terpisahkan karena mempunyai hubungan yang sangat berkaitan erat. Bahasa dapat memunculkan kesantunan bagi penggunanya.
Kesantunan merupakan tindakan sadar akan perasaan positif orang lain (Brown & Levinson, 1987).
Tindak tutur seperti perintah dan permohonan dapat menyinggung perasaan orang lain.
Oleh karena itu, mempelajari kesantunan dalam memberikan perintah dan permohonan, baik dari segi teknis maupun sosiokultural, menjadi topik yang menarik bagi banyak ahli bahasa.
Menurut Poerwadarminta (1993) unggah-ungguh adalah tata bahasa yang didasari oleh tata krama (tata pranataning basa mitoeroet loenggoehing tatakrama) atau sudah pada tempatnya, sangat pantas (mungguh, mapan, wis prenah banget, pantes banget).
Bentuk unggah-ungguh adalah kata majemuk, atau bentuk ulang dari kata unggahyang artinya naik; berorientasi pada adanya tata krama, basa-basi, sopan-santun yang bersifat umum.
Dari pengertian di atas, setidaknya konsep unggah-ungguh berkaitan dengan bahasa, berkaitan pula dengan budi pekerti.
Oleh sebab itu, muncul istilah unggah-ungguh basa yang sesungguhnya adalah unggah-ungguh itu sendiri.
Orang Jawa dalam berinteraksi harus mengikuti aturan unggah-ungguh, yaitu berkaitan tentang apa yang tidak atau boleh dilakukan dalam berinteraksi.
Semakin unggah-ungguh itu ditaati atau dipenuhi, semakin dianggap sopan orang yang menaati atau memenuhinya.
Budaya nuwun sewu adalah teori praktik dalam kehidupan sosial masyarakat. Buordieau mengemukakan bahwa jati diri yang muncul dari hati nurani menjadi modal dalam bersikap dan berperilaku dalam kehidupan sosial.
Singkatnya, habitus adalah hasil dari internalisasi struktur dunia sosial atau struktur sosial yang diinternalisasi.
Habitus merupakan produk sejarah yang terbentuk setelah seseorang lahir, dan kemudian berinteraksi dengan masyarakat dalam konteks ruang dan waktu tertentu.
Pembudayaan ungkapan nuwun sewu berfungsi sebagai sarana untuk menghargai dan menghormati sesama melalui kata-kata.
Dalam budaya Jawa, ungkapan nuwun sewu menunjukkan penghormatan sebagai tanda menghargai keberadaan orang lain.
Namun, saat ini, akibat dampak globalisasi, budaya Jawa yang bersifat non-benda seperti ungkapan nuwun sewu masih digunakan tetapi mulai jarang dipraktikkan, terutama oleh generasi milenial.
Seseorang yang memiliki budi pekerti yang baik akan memiliki sifat dan perilaku yang baik pula.
Salah satu cara untuk mencapainya adalah dengan membiasakan ungkapan nuwun sewu dalam kehidupan sehari-hari, yang dapat meningkatkan tatanan masyarakat menjadi lebih baik. (*/lis)
Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar
Editor : Lis Retno Wibowo