Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Pengaruh TikTok Terhadap Eksistensi Bahasa Gaul dalam Kehidupan Sehari-hari

Lis Retno Wibowo • Jumat, 8 Desember 2023 - 17:03 WIB
Farhan Eka Prasetya
Farhan Eka Prasetya

Oleh : Farhan Eka Prasetya  

Bahasa merupakan media yang digunakan manusia untuk berinteraksi dengan sesama dalam kehidupan. Melalui interaksi, manusia dapat berbagi informasi dan menjalin hubungan sosial.

Interaksi verbal dapat berbentuk lisan atau tulisan yang diperoleh berdasarkan kesepakatan manusia dan bersifat manasuka, sehingga bahasa dapat berubah sesuai penutur, lingkungan, dan waktu. Perubahan tersebut yang mendorong terciptanya berbagai bahasa, salah satunya bahasa gaul. 

Bahasa gaul merupakan perwujudan bahasa baru yang digunakan oleh kelompok tertentu untuk bergaul atau berinteraksi dengan sesama dalam konteks informal (kehidupan sehari-hari).

Ciri-ciri bahasa gaul yaitu terdapat pembaruan kosakata dari sebelumnya, hanya terjadi dalam waktu tertentu (ketika sudah tidak populer hilang), serta memerlukan pemahaman mendalam untuk menafsirkan makna dari bahasa tersebut. 

Awalnya bahasa gaul pada tahun 1980-an disebut sebagai bahasa prokem karena digunakan anak jalanan di Jakarta untuk mengungkapkan sesuatu yang tidak sesuai kenyataan sebenarnya.

Kehidupan anak jalanan penuh dengan perilaku kriminal sehingga diciptakan bahasa khas untuk berkomunikasi dengan sesama supaya tidak diketahui oleh orang awam.

Perkembangan teknologi informasi memberikan peran penting terhadap munculnya bahasa gaul yang semakin beragam dan menyebar ke wilayah luas. Media sosial seperti TikTok, menjadi perantara penyebaran bahasa gaul dalam kehidupan remaja masa kini.

TikTok merupakan media sosial yang menyediakan fasilitas untuk seseorang dapat menciptakan video singkat, gambar, didukung dengan musik pengiring, efek video dan fasilitas untuk berkomunikasi antar individu melalui pesan pribadi, like, dan komentar. Semua fasilitas tersebut melibatkan bahasa lisan maupun tulisan sebagai media untuk berinteraksi antar pengguna. 

Bahasa gaul pada aplikasi TikTok dapat berupa akronim (pemendekan kata dari gabungan huruf, suku kata atau unsur lainnya yang dilafalkan satu kata), singkatan (pemendekan kata dari gabungan huruf yang mewakili suatu kata, kemudian dilafalkan huruf per huruf).

Perubahan struktur ejaan, dan munculnya berbagai istilah baru yang dibentuk dari bahasa Inggris, bahasa Jawa, serta bahasa Indonesia. Contoh tujuh bentuk bahasa gaul yang terdapat di TikTok dari tahun 2021 sampai 2023.

Bentuk pertama singkatan dari bahasa Inggris "NT" (nice try) artinya penyebutan bagi seseorang yang sudah berusaha dengan maksimal tetapi gagal dalam percintaan masalah hidup dan lain-lain, "IB" (inspired by) artinya kreator membuat konten terinspirasi dari apa atau siapa.

Kemudian “DC” (dance cover) artinya menari menirukan gaya orang lain,  “YGY” (ya guys ya) sapaan kepada seseorang untuk meyakinkan argumen. Guys mempunyai arti teman-teman. “OTW” (on the way) memberikan informasi sedang berada di perjalanan, “Ootd” (outfit of the day) mempunyai arti menunjuk pada pakaian yang dipakai seseorang. Bentuk kedua akronim bahasa Inggris.

Lalu “fomo” (fear of missing out) dapat diartikan sebagai seseorang yang suka mengikuti tren kekinian (tidak mau ketinggalan zaman).  

Bentuk ketiga akronim bahasa Jawa serapan "Jawir" (Jawa ireng) digunakan untuk menyebut istilah orang Jawa yang berkulit hitam, "jamet” (jajal metal) artinya mencoba menjadi metal atau bergaya seperti model dan artis tetapi tidak sesuai ekspetasi.

Bentuk keempat diklasifikasikan sebagai perubahan struktur penyusunan ejaan "ngab" (penyebutan bang bagi seseorang laki laki yang penulisannya di balik dari belakang).

“Anjir” (penyebutan anjing dalam bahasa baku menunjuk hewan berkaki empat tetapi penyusunannya berubah dari akhiran "ng" menjadi "ir"). Lalu “bestie” (perubahan penulisan dari bahasa Inggris best friend menjadi besti yang artinya teman baik).

"Nolep" (no life) artinya tidak ada kehidupan. Kata tersebut digunakan untuk merendahkan orang lain yang tidak suka bergaul tetapi penulisan akronim terdapat penggantian huruf “f” menjadi “P” .

Bentuk kelima singkatan dari bahasa Indonesia “VT” (video TikTok), “JJ” (jedag jedug) artinya tayangan yang diiringi musik dj, ”TBL” (takut banget loh), “NBL” (ngakak banget loh), “YTTA” (yang tau tau aja).

“Wir” (warga Indonesia raya). Bentuk keenam akronim bahasa Indonesia "tobrut" (toket brutal) artinya menunjuk pada payudara wanita dan brutal artinya sexy, “cegil” (cewek gila) mempunyai makna bukan menunjuk pada cewek yang mempunyai gangguan kejiwaan tetapi mempunyai karakter di luar nalar, susah diatur dan posesif.

Bentuk ketujuh penggunaan istilah baru menggunakan bahasa Inggris untuk memaknai sesuatu, yaitu “red flag” dan “green flag”. Secara umum mempunyai arti bendera merah dan hijau tetapi dalam bahasa gaul dimaknai untuk memberikan label kepada seseorang yang mempunyai sifat baik (green flag) kemudian sifat buruk (red flag).

Penggunaan berbagai istilah bahasa gaul tersebut sudah familiar. Bahkan digunakan dalam percakapan kehidupan sehari-hari. Dampak yang ditimbulkan ketika terbiasa menggunakan istilah bahasa gaul yaitu, dapat memicu miskomunikasi dalam memahami makna ketika terjadi interaksi antar-individu.

Karena bahasa yang digunakan hanya dipahami oleh kalangan tertentu. Dapat merusak kaidah bahasa Indonesia baku ketika diwariskan antargenerasi seperti sekarang ini.

Setiap hari remaja pasti mengakses aplikasi TikTok dan terbiasa menggunakan istilah bahasa kekinian. Hal tersebut sering kali mengakibatkan perilaku seseorang berlawanan dengan norma di masyarakat.

Contohnya ketika mengucapkan atau memberikan komentar di TikTok menggunakan kata jawir, tobrut, jamet, meskipun sifatnya bercanda tetapi dapat menyinggung perasaan orang lain.

Sehingga menimbulkan salah paham yang dapat memicu konflik, serta lunturnya sikap cinta terhadap bahasa bangsa sendiri. Karena terlalu banyak menggunakan bahasa serapan asing. 

Berbagai bahasa baru muncul di TikTok kemudian dipakai dalam kehidupan sehari-hari. Berdasarkan pemaparan di atas, bahasa gaul sebagian besar mengambil dari bahasa Inggris. Hal tersebut jika dibiarkan dapat mengancam eksistensi penggunaan bahasa Indonesia terutama generasi milenial.

Kita sebagai generasi bangsa yang peduli terhadap segala perkembangan zaman wajib memahami bahasa gaul, agar dapat menafsirkan berbagai perubahan bahasa dari masa ke masa.

Tetapi tidak menghilangkan eksistensi bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan serta dapat menggunakannya sesuai dengan norma, etika yang berlaku di masyarakat. (*/lis)

Mahasiswa Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Tidar (Untidar) 

 

 

Editor : Lis Retno Wibowo
#pengaruh tiktok #perubahan struktur #bahasa gaul #media sosial tiktok #eksistensi bahasa indonesia