RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Kondisi Pasar Hewan Wonolelo kini tak seramai biasanya. Wabah penyakit mulut dan kuku (PMK) yang kembali merebak sejak awal tahun membuat pedagang sapi kelimpungan.
Harga anjlok, pembeli enggan datang, dan peternak semakin menjerit. Hermanto, pedagang sapi asal Desa Bumiroso, Kecamatan Watumalang, mengungkapkan dampak besar yang ditimbulkan PMK.
Menurutnya sejak wabah PMK ini kembali merebak membuat banyak pedagang dan peternak mengeluh.
"Sekarang mau jual hewan jadi sulit laku," keluhnya saat ditemui di Pasar Wonolelo, Selasa (14/1/2025).
Menurutnya, wabah ini telah melumpuhkan ekonomi para peternak kecil. Sebab pasar yang biasanya ramai dikunjungi pembeli baik dari warga lokal maupun luar daerah jadi sepi.
“Seperti stroke, semua aktivitas jadi lumpuh total. Pembeli dari luar daerah banyak yang takut. Kerugian kami hampir 99 persen,” tambah Hermanto.
Bisnis yang digelutinya sejak lama itu lesu parah. Bahkan penjualan sapinya turun drastis.
“Biasanya saya bisa jual empat sampai lima ekor per pasaran, sekarang satu ekor pun susah. Harga juga jatuh, dari Rp 18 juta jadi Rp 14 juta,” katanya.
Tak hanya itu, jumlah pedagang yang membawa sapi ke pasar juga jauh berkurang.
Senada dengan Hermanto, Yasir pedagang kambing di pasar tersebut menyebut adanya wabah ini jelas memukul stabilitas ekonomi peternak. Ia menyebut, penurunan penjualan mencapai 60–70 persen dalam dua bulan terakhir.
Menanggapi hal itu, Kepala Bidang Peternakan Dispaperkan Kabupaten Wonosobo, Heri Prasetyo, mengakui tak bisa berbuat lebih selain melakukan upaya desinfeksi dengan pemantauan.
"Jadi kita melakukan pemantauan ke pasar hewan. Kalau ada hewan datang dengan kondisi sakit kita langsung minta pulang," terangnya saat dikonfirmasi melalui sambungan telepon.
Hal ini dilakukan Heri dengan alasan kasus PMK di Wonosobo melonjak tajam pada awal 2025. “Pada 2024 hanya ada 140 kasus, tapi baru setengah bulan Januari 2025 sudah ada 130 kasus,” ujarnya.
Ia menambahkan, wabah ini tak hanya terjadi di Wonosobo, tetapi juga melanda daerah lain seperti Jawa Tengah, Jogjakarta, hingga Jawa Timur. Untuk mengendalikan wabah, pihaknya telah melakukan penyemprotan disinfektan secara rutin di pasar hewan.
“Vaksinasi juga segera kami lakukan. Namun vaksin hanya bisa diberikan kepada ternak yang benar-benar sehat. Jika di kandang sudah ada yang terpapar PMK, vaksin tidak bisa diberikan,” jelas Heri.
Wabah PMK merupakan penyakit hewan menular yang menyerang hewan berjenis ruminansia yang berkaki empat. Seperti sapi, kerbau, hingga kambing. Gejalanya meliputi luka di mulut, air liur berlebihan, demam tinggi, hingga kuku yang lepas pada kondisi parah.
Heri mengimbau peternak untuk lebih disiplin dalam mencegah penyebaran PMK.
“Ternak yang baru dibeli dari luar daerah harus dikarantina 14 hari sebelum dicampur dengan ternak lain. Inkubasi virus ini dua minggu, jadi karantina sangat penting,” jelasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo