RADARMAGELANG.ID - Tren olahraga belakangan ini sedang menjadi perbincangan hangat di Indonesia terutama di media sosial. Belakangan ini sebuah olahraga yang sedang hype di kalangan masyarakat adalah lari.
Mayoritas masyarakat menyebutkan bahwa olahraga ini merupakan olahraga yang paling mudah dan tidak memerlukan biaya yang mahal, alasannya karena dengan bermodalkan sepatu, pakaian olahraga dan langsung berlari sudah mampu membakar banyak kalori. Respon kebahagiaan serta kepuasan yang timbul akibat aktivitas lari yang dihasilkan oleh hormon endorfin yang terus terproduksi. Hormon ini diproduksi oleh tubuh kita mampu mengurangi stres, meredakan nyeri, dan meningkatkan rasa bahagia.
Olahraga lari merupakan aktivitas yang dikatakan murah karena tidak memerlukan banyak perlengkapan, namun apakah benar olahraga ini murah?
Secara pelaksanaan, lari memang tidak banyak memerlukan peralatan tambahan dalam melakukannya. Namun dalam dunia lari belakangan ini, muncul sebuah istilah baru yaitu “kalcer”. Apabila ditinjau dari segi pengertian, kalcer merujuk pada bahasa inggris “culture” yang berarti budaya. Sehingga kalcer diartikan sebagai budaya atau suatu kebiasaan yang dibentuk oleh suatu kelompok atau individu untuk tampil sebagai versi yang terbaik.
Sehingga pelari kalcer merupakan sebuah kelompok atau individu yang melakukan aktivitas lari dengan antusias tinggi namun didukung dengan berbagai aksesoris dan perlengkapan nyentrik, modis, dan mahal.
Style Pelari Kalcer
Para individu yang menganggap dirinya pelari kalcer rela mengeluarkan uang sebesar 3 hingga 5 juta rupiah hanya untuk memenuhi kebutuhan larinya. Misalnya dengan membeli sepatu berteknologi plat karbon yang mampu meningkatkan efisiensi dalam aktivitas lari. Lalu berikutnya adalah penggunaan smartwatch dengan harga kisaran 3,5 hingga 19 juta. Ditambah dengan kebutuhan lain yakni jersey, topi, celana, kacamata yang tentu harganya berkisar antara 200 ribu hingga 2 juta rupiah.
Jika melihat dari harga outfit lari yang digunakan yang bernilai puluhan hingga ratusan juta, tentunya memunculkan tren media sosial “spill outfit lari kamu dong”. Semakin banyak brand mahal yang seseorang pakai, maka ia akan dianggap semakin kalcer. Selain itu kebiasaan lain para pelari kalcer di media sosial adalah membagikan aktivitas larinya melalui aplikasi strava dan berbagai foto estetiknya dalam event event lari bergengsi hingga pada akhirnya banyak dari individu tersebut yang akhirnya menjadi influencer olahraga lari.
Dampak Budaya atau Tren yang Berlebihan
Fenomena pelari kalcer menggambarkan rumitnya kehidupan modern yang dipenuhi oleh kebutuhan fisiologis serta sosial. Namun bukanlah hal yang salah apabila seseorang mampu mencukupi kebutuhan hobinya dengan perlengkapan yang bernilai tinggi serta ketenaran dalam berolahraga, akan tetapi perlu dipertimbangkan juga dari sisi esensi berolahraga itu sendiri. Beberapa orang yang sudah terjun dalam lingkup budaya pelari kalcer terkadang memiliki tekanan untuk selalu tampil dalam event lari bergengsi serta mempostingnya dalam media sosial, sehingga muncul perasaan negatif apabila tidak mampu mencapai target tersebut dan malah menghilangkan tujuan utama dari olahraga itu sendiri.
Aktivitas lari dengan budayanya yang beragam sebenarnya mampu mengubah kebiasaan seseorang dan motivasinya sehingga dapat menjalani hidup secara lebih baik. Namun jangan sampai fenomena ini menciptakan perilaku konsumerisme atau membeli barang atau jasa secara berlebihan hanya untuk mendapat kepuasan serta meningkatkan status sosial. (mg5)
Editor : H. Arif Riyanto