Berita Magelang Mungkid Temanggung Wonosobo Features Entertainment Olahraga Otomotif Kecantikan Khazanah Lifestyle Makan Enak Piknik Pojok Kampung Travel Viral Artikel Ilmiah

Mengenal Prestasi Atlet Trail Run Rachmat Septiyanto, Monster of Endurance Indonesia

Magang Radar Magelang • Selasa, 26 Agustus 2025 | 00:40 WIB
Rachmat Septiyanto berhasil meraih rekor muri setelah berlari  melintasi seven summit Jawa Tengah sejauh 500 kilometer
Rachmat Septiyanto berhasil meraih rekor muri setelah berlari melintasi seven summit Jawa Tengah sejauh 500 kilometer

RADARMAGELANG.ID - Rachmat Septiyanto atlet trail running berprestasi yang pernah berlari sejauh 320 hingga 500 kilometer hingga pecahkan rekor muri, dan jadi satu satunya peserta Indonesia yang finish di Rinjani 162k.

Biasa dipanggil Tyan, ia merupakan kelahiran Jakarta 13 September 1989 dan tinggal di Solo Jawa Tengah.

Dari sisi pendidikan, ia merupakan lulusan Universitas Sebelas Maret (UNS) Prodi Teknik Mesin. Alasan awal dirinya memulai trail running adalah karena kesukaannya terhadap olahraga ini dan dirinya merasa trail running berbeda dengan yang lain.

Pada awalnya ia hanyalah pelari pada umumnya yang mulai masuk dalam olahraga ini pada awal 2016.

Ia memulai track record trail run pada Oktober hingga November 2016. Dirinya mengikuti  race pertama yaitu color run dengan jarak tempuh 5 kilometer hanya bermodalkan sepatu seadanya dan slingbag. 

Dilanjutkan dengan trail run pertamanya yaitu di Bali dalam event Goat Run Gunung Agung 15 kilometer dengan bermodalkan sepatu fitness dan berhasil finish dalam urutan 10 besar.

Motivasi Rachmat Septiyanto pada awalnya menargetkan jarak yang selalu bertambah dalam setiap trail run-nya. Ia pun berlatih tanpa coach dan hanya mengandalkan insting.

Pada race berikutnya yaitu tahun 2017 pada Coast to Coast Run dengan jarak 25 kilometer dengan waktu 5 jam.

Pada 2018 ia melanjutkan pada race berikutnya yaitu  Mesastila di Magelang dengan kategori Ultra 65 kilometer dan mendapat posisi 6 serta BTS Run (Bromo, Tengger, Semeru) 70 kilometer dalam waktu 13 jam

Masih pada tahun yang sama, Rachmat Septiyanto mengikuti Grand Slam Ultra Trail Indonesia yang merupakan sebuah penghargaan bagi pelari yang berhasil menyelesaikan empat series balap lari trail jarak jauh dan terberat di Indonesia dalam satu tahun.

Untuk mendapatkan penghargaan ini peserta harus berlari di race Rinjani 100 kilometer, race Mesastila 100 Kilometer, BTS Run (Bromo, Tengger, Semeru) 170 kilometer dan Gunung Gede Pangrango 100 Kilometer.

Peserta Indonesia yang lolos penghargaan Grand Slam untuk semua race ini pada tahun 2018 hanya terdapat 2 orang.

Salah satunya adalah Rachmat Septiyanto dengan catatan juara yaitu Rinjani 100 kilometer masuk 10 besar, Mesastila 100 kilometer podium 3, BTS Run (Bromo, Tengger, Semeru) 170 kilometer posisi 6 dan Gunung Gede Pangrango 100 kilometer posisi 5 besar.

Pada race berikutnya ia mengikuti Binloop 200 Kilometer dengan kurun waktu 28 jam dan mendapatkan podium 3.

Jeda 4 bulan setelah Binloop, ia mengikuti Transumbawa Race yang merupakan race road terjauh di Indonesia dengan jarak 320 kilometer dan Rachmat Septiyanto terhasil menjadi finisher ke 3 dalam kurun waktu 60 jam.

Tahu 2021 ia mengikuti sebuah lomba ultramaraton lintas alam yang paling kompetitif dan bergengsi di dunia.

Yaitu Ultra-Trail du Mont-Blanc (UTMB) dengan jarak 170 kilometer di pegunungan Alpen Swiss dan melintasi 3 negara yaitu Prancis, Italia, dan Swiss untuk mencari pengalaman dan tidak mengejar juara. Ia pun berhasil menempuh jarak 170 kilometer dengan waktu 40 jam setengah.

Dirinya juga mengatakan ia juga sudah menyelesaikan MANTRA (Malang Trail Runners), namun hanya berfokus pada jarak 116k dengan elevasi 7000 m.

Selain itu Ia juga pernah  dua kali Bandung ultra 100 kilometer hingga 160 kilometer dan berhasil mendapat podium 4 dan 3.

Rachmat Septiyanto mengaku mulai latihan konsisten setelah event lari UTMB (Ultra-Trail du Mont-Blanc) karena dulu ia tidak ingin terlalu jauh dari keluarga di solo. Dan memilih mengorbankan ijazahnya lalu fokus kepada aktivitas lari atau trail yang ia rasa prospeknya bagus untuk ke depan.

Dirinya berlatih fokus pada elevasi dan berlari di gunung. Per minggu ia bisa menempuh total latihan 170 k dan elevasi 2000 meter.

Pencapaian berikutnya adalah Rinjani 162k, tujuannya mengikuti race ini untuk membuat sejarah di hidupnya.

Ia mengatakan sudah mengikuti race ini 3 kali karena sebelumnya pada tahun 2022 hingga 2024 dirinya gagal finish.

Lalu pada tahun 2025 ini dirinya mencoba lagi berlari untuk memperbaiki kesalahan sebelumnya. Ia pun berhasil finish posisi 4 dalam waktu 48 jam dengan jarak 162km, dengan elevasi 13.300 dan menjadi satu satunya finisher asal Indonesia pada tahun ini.

Prestasi paling memukau adalah dirinya pernah berlari dalam project Sikso Rogo di Jawa Tengah dengan berlari di seluruh seven summit Jawa Tengah dan berhasil memecahkan rekor muri.

Dirinya berlari mulai dari perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah Banjar Patroman, berlari menuju Purwokerto lebih tepatnya Baturaden dengan total lari road 100 kilometer lalu naik ke Gunung Slamet.

Kemudian berlari ke Gunung Rogojembangan di perbatasan Banjarnegara dan Pekalongan lalu lari lagi menuju Dieng Kemudian naik Gunung Prau di Wonosobo.

Lanjut  ke Gunung Sindoro, Gunung Sumbing, lalu ke Magelang untuk naik Gunung Merbabu dan lari lagi menuju Gunung Lawu.

Ia berhasil finish di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur selama total 500 kilo dan elevasi 23.000  meter dalam waktu 6 hari 21 jam.

Dalam waktu dekat Rachmat Septiyanto sudah terdaftar dalam TOR (Tor des Géants) dengan jarak 330 kilometer di Pegunungan Alpen, Lembah Aosta, Italia pada bulan September 2025.

Masih sangat banyak prestasi Rachmat Septiyanto dalam setiap tahun.  Tujuan melakukan semua ini untuk memuaskan diri sehingga menjadi kebanggaan tersendiri bagi dirinya.

Selain itu ia juga ingin memajukan trail running dan memotivasi seluruh pelari Indonesia. Rachmat Septiyanto membocorkan jika latihan yang dilakukan adalah fokus pada mental, sehingga apapun caranya dan yang dihadapi dirinya harus finish.

Mengingat pengorbanan yang harus dilakukan dalam setiap race baik itu waktu dan uang, ia juga menegaskan untuk tidak terus terusan memanjakan diri saat latihan maupun saat dalam perlombaan. (mg5/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#gunung semeru #seven summit #gunung sumbing #indonesia #gunung gede pangrango #atlet #gunung merbabu #jakarta #solo #rekor #gunung sindoro #swiss #gunung bromo #rekor muri #Alpen #gunung prau #trail run #Gunung Tengger #running