RADARMAGELANG.ID, Mungkid- Menyambut bulan Ramadan, warga Dusun Dawung, Desa Banjarnegoro, Mertoyudan menggelar tradisi perang air pada Minggu (15/2/2026).
Perang air atau Bajong Banyu ini merupakan tradisi rutin yang digelar setiap tahun. Rangkaian acara diawali dengan pengambilan air oleh tokoh masyarakat di sumber air Dusun Dawung.
Setelah itu, air yang sudah disimpan dalam kendi itu dibawa dengan kirab menuju ke jalan dusun yang merupakan lokasi perang air.
Setelah serangkaian doa, warga langsung pada bergerak mengambil amunisi yakni plastik yang sudah diisi air.
Seketika, aksi saling lempar-melempar plastik berisi air tersebut terjadi. Tidak hanya anak-anak yang bersemangat, tapi orang dewasa juga ikut bermain perang air.
Sekretaris Desa (Sekdes) Banjarnegoro, Sarjoko mengatakan, Bajong Banyu ini merupakan tradisi rutin setiap tahun, menyambut bulan puasa Ramadhan. Yang biasanya disebut dengan padusan.
“Kalau dulu, tradisi ini dilakukan dengan padusan di Sungai Progo atau sungai yang ada di Dawung,” ujarnya.
Berjalannya waktu, para remaja mencoba mengemas tradisi ini menjadi lebih bernilai. Dan muncullah tradisi Bajong Banyu pada 2003 lalu. “Jadi ini sudah ke-23 bajong banyu kita gelar,” ucapnya.
Bajong banyu ini dilaksanakan dengan cara mengambil air dari mata air Sendang Dawung. Kemudian diarak, dan dibawa ke lokasi yang sudah disiapkan.
“Usai didoakan, di lokasi tersebut bajong balang atau melempar air dari mata air sendang tersebut dilakukan,” jelasnya.
Dalam Bajong Banyu, kata Sarjoko, ada makna menghilangkan rasa dendam maupun iri menjelang bulan Ramadan dan seterusnya.
“Jadi dengan cara dilempar ini menjadikan kita tidak dendam, tidak iri. Karena orang yang dilempar itu biasa menaruh rasa iri atau dengki.
Nah, dengan cara itu kita lempar sambil melempar kembali, ini diharapkan bisa menghilangkan rasa dendam, iri hati, yang kemudian bersih diri untuk menyambut bulan puasa,” terangnya lebih lanjut. Gilang, 13, salah satu warga yang ikut tradisi ini mengaku, sangat gembira mengikuti acara. Sudah lima kali ia ikut. (rfk/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo