RADARMAGELANG.ID, Mungkid—Menteri Agama KH Nasaruddin Umar bersilaturahmi ke Pondok Pesantren Asrama Perguruan Islam (API) Tegalrejo, Kabupaten Magelang, Jumat (6/2/2026) sore.
Nasaruddin disambut langsung oleh Pengasuh Ponpes API Tegalrejo KH Muhammad Yusuf Chudlori serta Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Magelang Hanif Hanani.
KH Muhammad Yusuf Chudlori atau akrab disapa Gus Yusuf mengatakan, dalam kunjungan Menteri Agama ini, pihaknya menyampaikan sejumlah keluhan dari para guru agama dan guru honorer sekolah madrasah di Kabupaten Magelang.
“Di antara pembicaraan tadi, saya menyampaikan setelah Kementerian Agama pisah dengan Kementerian Haji, saya ingin agar Pak Menteri bisa lebih memperhatikan sektor pendidikan, terutama nasib para guru agama,” katanya kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Ia mengusulkan, Kementerian Agama bisa membuat regulasi atau peraturan menteri tentang nasib guru madrasah maupun swasta.
Khususnya, yang mengabdi di yayasan swasta.
“Negara ini tidak bisa kalau harus mengelola pendidikan sendiri. Tetap perlu adanya support dari pondok pesantren, sekolah, madrasah maupun yayasan swasta lainnya. Kita berharap ada perhatian khusus kepada guru-guru tersebut,” harapnya.
Menurutnya, apapun pondasi, dasar, moral, akhlak anak-anak itu berada di tangan para guru.
Namun informasi yang diterima dan beredar saat ini, banyak guru yang mengeluhkan masih rendahnya gaji mereka.
“Gaji guru honorer maupun guru agama saat ini masih tidak layak. Apalagi ada yang hanya menerima Rp 400 ribu sampai Rp 500 ribu per bulan. Sehingga banyak guru yang bekerja sampingan. Misalnya, berjualan ataupun ngojek,” ungkapnya.
Kondisi ini membuat peran guru untuk fokus mendidik akan berkurang.
“Dalam hal ini, peran hadirnya negara sangatlah penting,” katanya.
Menteria Agama Nasaruddin Umar mengakui, permasalahan gaji guru honorer tidak hanya disuarakan di Kabupaten Magelang.
“Hampir di sejumlah daerah juga sama mengeluhkan hal ini. Dan jawaban saya tetap sama,” ujarnya.
“Kita berterima kasih kepada Bapak Presiden Prabowo, ada perhatian besar untuk menyelesaikan permasalahan tersebut,” tambahnya.
Ia mengatakan, penyelesaian permasalahan ini tidak bisa sekaligus. Karena jumlah guru agama dan honorer cukup banyak, sekitar 700 ribu hingga 800 ribu guru. “Sehingga hal ini akan kita lakukan secara bertahap,” ungkapnya. (rfk/aro)
Editor : H. Arif Riyanto