RADARMAGELANG.ID, Mungkid–Sanggar Gaboet Wasesa menggelar Gaboet Fest ke-4 di Brengkel, Desa Salaman, Kecamatan Salaman, Kabupaten Magelang, Sabtu (1/11/2025).
Event tahunan ini untuk pertama kalinya berkolaborasi dengan Diskominfo Kabupaten Magelang menghadirkan penampilan dari sembilan sanggar seni lokal.
Ketua Panitia, Eko Susanto, 47, menjelaskan tahun ini merupakan momen perdana Gaboet Fest melakukan kolaborasi dengan FK Metra yang merupakan program kesenian yang digagas oleh Diskominfo Kabupaten Magelang.
“Event Gaboet Fest sudah kami selenggarakan empat kali, namun baru tahun ini bekerja sama dengan FK Metra. Kebetulan Sanggar Gaboet Wasesa memang tergabung dalam FK Metra,” ujarnya.
Menurut Eko, FK Metra menjadi wadah bagi sanggar kesenian di Kabupaten Magelang yang rutin menggelar pergelaran seni setiap tahun.
Namun di balik acara hiburan dan kesenian, terdapat misi edukatif untuk menyampaikan pesan-pesan kebijakan pemerintah yang diekspresikan lewat kesenian.
“Tahun lalu tema yang diangkat adalah rokok ilegal, stunting, dan jangan nyampah. Sedangkan tahun ini mengangkat tema Anyar Gress yang merupakan misi visi Bupati dan Wakil Bupati Magelang,”paparnya.
Eko menuturkan kebijakan pemerintah yang disampaikan melalui media seni dinilai lebih efektif karena masyarakat cenderung dapat menerima pesan secara menarik.
Event yang digelar mulai 1-2 November 2025 ini menyajikan 22 pertunjukkan kesenian.
Sebanyak 9 sanggar seni yang tergabung dengan FK Metra, 5 kesenian kelompok pendamping, dan 8 penampilan kesenian anak-anak binaan Sanggar Gaboet Wasesa.
Mereka menampilkan seni tari, musik, dan kesenian rakyat yang dibumbui dengan pesan edukatif kebijakan Pemerintah Kabupaten Magelang
Warga sekitar antusias menyaksikan acara hingga malam hari. Penonton datang bersama keluarga untuk menikmati hiburan sambil berbelanja di tenant UMKM lokal.
Eko berharap, keberlanjutan acara seperti ini dapat membangun kesadaran masyarakat mengenai pentingnya melestarikan kesenian daerah.
“Kami ingin kesenian tradisional tetap hidup dan menjadi sarana edukasi bagi masyarakat. Dengan cara ini, kebijakan pemerintah bisa diterima lewat seni, bukan hanya lewat aturan formal,” pungkasnya. (mg4/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo