RADARMAGELANG.ID, Magelang – Pemkot Magelang memiliki pekerjaan rumah (PR) untuk menyelesaikan masalah backlog perumahan yang mencapai 4.870 unit. Dalam waktu dekat ini akan dibangun 26 hunian di Kampung Kandang Doro, Kelurahan Wates. Rumah tersebut diperuntukkan bagi warga eks penghuni rumah susun sederhana sewa (rusunawa) dan rumah khusus (rusus).
Kabid Perumahan dan Pertanahan (PP) Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Magelang Heri Pracahyo menjelaskan, pembangunan rumah itu dibiayai APBD Kota Magelang. Anggaran tiap rumah Rp 50 juta. Bangunannya menggunakan konsep rumah unggul sistem panel instan omah panel tingkat milik sederhana (Ruspin Optimis), tipe 36. Rumah tersebut nanti akan menjadi hak milik warga.
“Mereka yang beli tanahnya, kami yang membangunkan rumahnya,” jelas Heri kepada Jawa Pos Radar Magelang.
Dikatakan, program rumah berbasis komunitas itu mengadopsi program Provinsi Jawa Tengah, yakni Tuku Lemah Entuk Omah. Warga membeli tanahnya, pemerintah yang membangunkan rumahnya.
Menurut Heri, ruspin tersebut merupakan rumah tahan gempa. Pengerjaan strukturnya cepat. Karena itu, pembangunannya akan dimulai dalam waktu dekat. Diselesaikan dalam waktu tiga bulan. “Ruspin ini didesain ringkas, cepat, kuat, dan tahan gempa,” tandasnya.
Selain itu, Pemkot Magelang juga berkeinginan kembali membangun rusunawa untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Calon lokasinya ada di Kelurahan Gelangan. Lahan yang tersedia sekitar 8.400 meter persegi. “Kita akan tawarkan kerja sama antara pemerintah dengan badan usaha (KPBU). Kalau tidak dapat bantuan pusat, kita juga akan mencari investor yang mau membangunkan rusun,” tandasnya.
Sampai saat ini, Pemkot Magelang baru memiliki tiga rusunawa dan dua rusus. Total huniannya untuk 329 kepala keluarga. Rinciannya, Rusunawa Potrobangsan 98 hunian, Rusunawa Tidar 98 hunian, Rusunawa Wates 58 hunian. Sedangkan Rusus Wates 50 hunian dan Rusus Kedungsari 25 hunian.
Penghuni Rusunawa Potrobangsan Sajiyah, 60, merasa senang tinggal di rusunawa. Ia bisa tinggal di tempat yang layak dan aman. Biaya sewanya pun murah. Ia menempati rusunawa seorang diri. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan menengok sekali dalam sepekan. “Anak saya banyak, dari pada saya ikut sana-sini, saya memilih di rusunawa saja. Kalau kangen mereka ke sini,” katanya. (put/aro)
Editor : Lis Retno Wibowo