RADARMAGELANG.ID, Magelang – Kota Magelang menjadi “rumah seni” bagi para pelukis sepuh, berusia di atas 60 tahun. Mereka terlibat dalam satu pameran bertajuk Connected, di Lokabudaya, Alun-alun Selatan Kota Magelang (7-14/7). Setidaknya ada 33 karya dari tangan-tangan pelukis Magelang dipajang selama pameran berlangsung.
Pameran ini melibatkan 15 seniman Magelang Raya (Kota Magelang dan Kabupaten Magelang) yang masih hidup maupun yang almarhum. Seolah menjadi bukti, bahwa karya-karya mereka masih hidup dan tetap hidup. Para seniman itu antara lain, Agus Muchtadji, Asadi, Arishart (alm), Bob Waget (alm), Didik Purbadi (alm), Ferdinan Bambang Sugiyarto (alm), H. Widayat (alm). Kemudian Jafar Sodick Ardhani, Kristianto Kwik, Lumijatiningsih, M Djarobi Rusli, Subakdo, Suharto (alm), Untung KS, Untung Sukrisno.
Tema Connected ini mengambil ikon tombol power. Yang memiliki arti keterhubungan atau sebuah koneksi karya-karya masa lalu dan masa kini yang dibuat oleh para pelukis senior.
Penulis pameran, Danu Wiratmoko menjelaskan, pameran ini menyajikan dua gaya dalam seni modern, representatif dan deformatif. Gaya pertama diejawantahkan dalam karya berbentuk romantisme, naturalisme atau realisme. Gaya kedua diwujudkan dalam bentuk surealisme, impresionisme, dan ekspresionisme. Menurutnya, pameran ini adalah pertaruhan eksistensi keduanya, di tengah derasnya arus postmodernisme yang lebih ‘berwarna dan merdeka’. Ide pameran ini pun berangkat dari penghormatan kepada seniman senior di Magelang Raya.
“Saya cukup khawatir, eksistensi mereka perlahan hilang bukan karena berhenti berkarya, tapi jangan-jangan disebabkan tidak adanya peluang dan ruang publikasi,” ucap Danu, Minggu, (9/7)
Karya-karya mereka pun dilacak, dan dijemput bola. Bahkan ada karya milik almarhum Didik Purbadi yang dipinjam dari tangan kolektor Kota Magelang untuk diikutsertakan dalam pameran.
Pelukis, Kristianto Kwik, menyebut pameran ini untuk memasyarakatkan keberadaan pelukis-pelukis di Magelang Raya. Ia bergembira dan mengikutsertakan empat karyanya. Salah satunya berjudul “Stay balance and strong..stay cool” menggambarkan kehidupan yang membutuhkan keseimbangan yang disimbolisasikan dengan satu gerakan yoga.
Di ruang sebelah, wartawan ini melihat pelukis, Agus Muchtadji, 75, dan Subakdo, 83, yang terlihat asyik berbincang. Rupanya, mereka saling bertukar cerita pengalamannya dalam melukis.
Agus Muchtadji adalah pelukis asal Jakarta yang pindah ke kampung halaman almarhumah istrinya di Kalikuto, Kecamatan Grabag, Kabupaten Magelang, pada 2001. Pria ini aktif berpameran di Jawa Tengah dan Jogjakarta. Sebelum istrinya meninggal 2008, ia berpameran sampai ke Pulau Bali.
Ia juga pernah diundang ke Galeri Nasional Indonesia tahun 2020. Di sana juga mengerjakan karya kolaboratif bertajuk “Kami Melawan Covid-19” yang dikerjakan 8 orang. Di pameran Connected ini, Agus—sapaan akrabnya—menghadirkan tiga karya yang memvisualkan warna-warna tropis Indonesia.
Sedangkan Subakdo, membawa empat karyanya. Subakdo, warga Payaman, Kabupaten Magelang, mengaku lukisannya adalah hasil keterampilan dalam melihat contoh gambar yang ditemukan di kalender, maupun poster. Ia memindahkan gambar yang dilihat itu ke dalam media kanvas yang lebih besar. “Jadi saya cuma nurun (mencontek), gambar apa atau foto apa, saya copy, lalu jadi seperti ini,” tutur pensiunan Polri itu.
Ia mengakui, tidak memiliki imajinasi yang tanpa batas seperti pelukis-pelukis lainnya. Ia hanya bisa melukis dari apa yang dilihatnya saja. “Jadi saya sukanya cuma copy, nurun apa adanya. Kalau hasil copy-annya bagus, biasanya hasilnya juga bagus. Kalau copy-annya buram, hasilnya juga buram, jadi agak kurang puas,” akunya. (put/lis)