Wamentan di Untidar Magelang: Saatnya Peternakan dan Pertanian Naik Kelas

RADARMAGELANG.ID, Magelang—Magelang memiliki banyak potensi di sektor peternakan dan pertanian yang perlu dikembangkan.
Dengan wilayah pegunungan dan kearifan lokal, ada sektor yang bisa dilirik dan dikembangkan.
Yakni, menjadi laboratorium sapi perah. Ia mengaku sudah bicara dengan Dirjen Peternakan.
“Karena ada di ketinggian, Magelang cocok untuk sapi perah. Mungkin nanti kita akan jadikan laboratorium juga. Karena sapi perah ini kan sudah ada di masyarakat lokal, sehingga perlu kita tingkatkan, baik dari aspeknya, kualitas sapinya, maupun sistem pemeliharaannya, sampai dengan produksi dan marketingnya,” ujar Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Letnan Jenderal TNI (Purn.) Muhammad Saleh Mustafa saat hadir di kegiatan 3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical, and Food Science (ICANFS 2026) di kampus Universitas Tidar, Kamis (29/10/2026).
Selain ke Untidar, Wamentan juga mengunjungi unit pengolahan susu kambing di Srumbung Kabupaten Magelang. “Saya menilai, pengembangan kambing perah di Magelang berpotensi direplikasi di daerah lain,” katanya.
Ia menyampaikan, masih ada sejumlah hal yang perlu ditingkatkan. Seperti efektivitas produksi, efisiensi pengolahan, serta kepastian pasar dan stabilitas harga harus menjadi perhatian.
Sebagai bentuk dukungan konkret, lanjut dia, pemerintah menyatakan komitmen penuh untuk memperkuat fasilitas pendidikan serta laboratorium pertanian di Untidar. Langkah ini dinilai krusial guna mencetak sumber daya manusia (SDM) unggul yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga adaptif terhadap kebutuhan strategis pangan nasional. Sehingga peternakan dan pertanian naik kelas.
Dekan Faperta Untidar Prof Ir Sutrisno Hadi Purnomo mengatakan, tantangan terbesar sektor pangan saat ini adalah mayoritas petani, peternak, dan pembudidaya yang masih beroperasi secara konvensional, sehingga berdampak pada rendahnya tingkat produktivitas.
“Tantangan utama kita ada di tingkat produsen petani dan peternak kita sebagian besar masih konvensional. Di sinilah kehadiran inovasi, hilirisasi riset, dan pendampingan intensif dari perguruan tinggi menjadi sangat penting untuk menjembatani kesenjangan tersebut," jelas Prof Sutrisno. (rfk/aro)



