RADARMAGELANG.ID, Magelang – Gua Nutty Putty yang ditemukan sekitar tahun 1960 di luar Salt Lake City, Utah, Amerika Serikat ini menjadi destinasi populer warga setempat dan mahasiswa. Setiap tahunnya, sekitar 5000 pengunjung datang untuk melakukan penjelajahan gua. Namun, semuanya berubah ketika tragedi mengerikan menimpa seorang mahasiswa kedokteran bernama John Edward Jones di tahun 2009.
Melansir dari National Geographic Indonesia, John Edward Jones dibesarkan dengan pengalaman yang melekat pada petualangan. Sejak kecil, ia senang dan menikmati berbagai ekspedisi menantang ketika diajak oleh ayahnya bersama saudara laki-lakinya, Josh, terutama dalam melakukan ekspedisi gua di Utah.
“Sejak kecil, mereka (John dan Josh) diajarkan ayahnya sebagai anak laki-laki yang mencintai kedalaman bawah tanah dan merasakan indahnya kegelapan,” kata William DeLong kepada All Thats Interesting (ATI). William DeLong merupakan seorang penulis artikel berjudul “Why Utah’s Nutty Putty Cave Is Sealed Up With One Spelunker Inside” yang dipublikasikan pada 6 November 2021.
Kala itu, John yang berusia 26 tahun telah memiliki istri dan seorang putri berusia satu tahun. Ia juga merupakan seorang mahasiswa kedokteran di Virginia. Pada 24 November 2009, John yang tinggal di Virginia dan sedang berada di Utah memutuskan untuk merayakan Thanksgiving bersama saudaranya dan 10 orang lainnya dengan mengunjungi Gua Nutty Putty.
Melansir dari artikel “Nutty Putty Cave: Before and After the Tragic Death of John Jones” yang ditulis oleh Dave Roos dan Austin Henderson, diceritakan bahwa mereka memulai ekspedisi gua sekitar jam 8 malam. Saat melewati tempat dalam gua yang disebut Big Slide, John, saudara, dan dua temannya memutuskan untuk mencari tempat bernama Birth Canal yang merupakan salah satu tempat tersempit di gua tersebut.
Ekspedisi dilanjutkan untuk mencari salah satu tempat yang terkenal sempit itu. Beberapa saat setelanya, secara tidak sengaja John merangkak masuk ke celah atau lorong sempit yang ia kira Birth Canal tetapi itu merupakan lorong berbahaya yang belum pernah terpetakan sebelumnya. Setelah beberapa menit, John baru menyadari bahwa dia telah melakukan kesalahan besar dengan masuk ke celah yang tidak lebih lebar dari bukaan mesin cuci. John terus merangkak maju dan berharap bahwa lorong itu akan melebar, namun ia tidak menyadari bahwa setiap sentimeter yang ia lalui akan membawanya ke dalam jebakan kematian.
Josh yang mengikuti John dari belakang melihat kaki John yang ditelan oleh batu dan menyadari bahwa adiknya telah terjebak. Awalnya, posisi John yang merangkak horizontal perlahan berubah menjadi vertikal karena ia meluncur ke bawah dengan kepala terlebih dahulu hingga tidak ada ruang lagi untuk dapat bergerak. Melihat adiknya terjebak, Josh mencoba menarik John keluar dengan memegang pada kaki John namun terlepas. Hal ini membuat John meluncur lebih jauh ke dalam celah dan saat itulah Josh menyadari ia perlu meminta bantuan untuk menyelamatkan John yang sedang terjebak di kedalaman 400 kaki di dalam gua.
Mengetahui John terjebak dalam posisi terbalik, tim penyelamat segera bertindak. Salah satu penyelamat yang merupakan seorang penjelajah gua setinggi 160 cm bernama Susie Motola, sedang beres-beres dalam proses pindah rumah. Mendengar hal ini, ia bergegas meninggalkan segalanya untuk datang membantu John. Sampai di gua, ia bekerja selama dua jam, mencoba segala cara untuk membebaskan John atau setidaknya membuatnya nyaman. Ketika ia beristirahat, penyelamat lain menggantikannya.
Setelah mempertimbangkan berbagai pilihan, para penyelamat mulai membangun sistem katrol. Ketika penyelamat lain bernama Ryan Shurtz menghampiri John, ia menyadari bahwa dengan bertanya kepada John tentang keluarganya membantunya kembali fokus. Mereka bahkan memberi John cara untuk berkomunikasi dengan istrinya, yang memintanya untuk terus berjuang.
Saat sistem katrol telah siap, John telah tergantung terbalik selama 19 jam. Saat mereka berusaha secara perlahan menariknya, talinya malah putus karena berat Jones dan kekuatan para penyelamat. Hal ini membuat sebuah karabiner mengenai wajah Ryan dan ia pingsan. Ketika ia sadar, Ryan mengatakan seseorang harus menemani Jones. Jadi, ayah Ryan, Dave Shurtz, naik ke atas. Pada akhirnya, John berhenti berbicara.
Dave terus berusaha membebaskan John, tetapi ia sendiri terjebak. Ia harus mendorongnya untuk keluar dari gua. Ketika ia muncul kembali, Dave memberi tahu seorang sheriff Utah County dengan mengatakan "Ia (John) sedang sekarat sekarang, detak jantungnya masih ada, tetapi ia kesulitan bernapas sebelum saya tiba di sana. Kita tidak bisa membawa seseorang ke sana sebelum ia meninggal," kata Dave kepada sheriff ketika sampai di permukaan.
Seorang penyelamat terakhir yang melihat John masih hidup adalah Brandon Kowallis.
"Saya akhirnya menjadi orang terakhir yang melihatnya hidup, meskipun saat saya tiba, ia hampir tidak sadarkan diri," tulis Kowallis pada laman situs pribadinya ketika menceritakan misi penyelamatan John.
Ketika Kowallis tiba di lorong utama di pintu masuk Birth Canal, tim penyelamat sedang mengerjakan sistem katrol 4 banding 1 yang telah mereka pasang. Kowallis membantu selama sekitar 5 menit, sampai akhirnya diputuskan bahwa sistem tersebut tampaknya tidak berfungsi dan orang-orang yang berada di dekat John perlu istirahat. Hal ini membuat para penjelajah gua yang bekerja bersama John pun berangkat.
Saat tim penyelamat lain keluar untuk beristirahat, Kowallis berbicara dengan salah satu tim penyelamat bernama Andy Armstrong. Ia bertanya mengenai bagaimana keadaan John dan Andy menjawab bahwa kondisinya memburuk dengan cepat, ia sering hilang kesadaran, dan mulai berbicara tentang melihat malaikat dan setan di sekelilingnya.
Mendengar hal itu, Kowallis dan timnya bergegas dan memutuskan untuk masuk terlebih dahulu dengan tujuan menilai situasi dan melihat apakah dirinya punya ide untuk membawa John. Kemudian, seorang teman dekat John bernama Debbie akan bekerja sama dengan Kowallis, karena dia telah menghabiskan waktu bersama John untuk mengenalnya dan dia pikir John akan merasa lebih nyaman dengannya.
Selanjutnya, Kowallis menjelaskan bagaimana ia mencoba mengebor dan meminta alat yang lebih ringan untuk membantunya menyelesaikan pekerjaan, tetapi tidak ada yang berhasil. Terlebih lagi, John yang sedang tidak sadarkan diri, membuat penyelamatan jauh lebih sulit, bahkan mustahil untuk membebaskannya.
"Sekalipun kami bisa membuatnya dalam posisi horizontal, ia tetap harus bermanuver di bagian tersulit dari lorong tempat ia terjebak," tulisnya. Menurut Kowallis, jika John sadar dan memiliki kekuatan penuh, ada kemungkinan kecil ia bisa melakukannya. Namun, meskipun demikian, situasinya tampak suram. Bahkan bagi Kowallis, yang beratnya 125 pon atau 56,7 kg sulit untuk keluar.
“Di tikungan tempat pembatas itu berada, saya harus memutar tubuh saya secara kreatif agar bisa lolos. Jadi, mengeluarkan orang seberat 210 pon atau 95,2 kg yang tidak sadarkan diri itu terasa hampir mustahil," tulis Kowallis di artikelnya.
Kowallis dan seorang paramedis yang bertubuh kecil akhirnya turun untuk memeriksa tanda-tanda vital John. Paramedis tersebut memberi penjelasan kepada Kowallis cara menggunakan stetoskop dan termometer jika ia tidak dapat menemui John. Kowallis pergi lebih dulu dan menggunakan alat-alat tersebut.
"Saya tidak mendengar detak jantung yang jelas, hanya suara-suara berderak dan bergetar yang mungkin disebabkan oleh gemetaran saya saat mencoba menyeimbangkan diri di lokasi yang canggung," tulis Kowallis di artikelnya.
"Lalu saya menjepit tangan saya di antara batu dan menekannya sejauh mungkin ke tubuhnya untuk merasakan napasnya. Saya rasa saya tidak merasakan apa-apa. Dadanya, yang menempel di batu, terasa lebih hangat daripada bagian tubuhnya yang lain dan berkeringat, tetapi di bagian lain suhu tubuhnya mendekati suhu batu di dinding gua," tulis Kowallis di artikelnya saat mencoba menyelamatkan John.
Akhirnya Kowallis berhasil mengecek kondisi terakhir vital John, saat itulah Kowallis keluar ke permukaan untuk memberi tahu paramedis apa yang ia ketahui. Paramedis menyatakan Jones telah meninggal.
Setelah 27 hingga 28 jam berada dalam posisi terbalik, jantung John tidak lagi bisa bertahan. Tekanan yang luar biasa pada tubuhnya menyebabkan serangan jantung yang fatal. John dinyatakan meninggal di dalam gua, di mana ia terjebak.
Beberapa hari upaya penyelamatan yang tak kenal lelah, para tim penyelamat menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa mereka lakukan untuk mengambil jasad John. Pada akhirnya, jasad John tidak dapat dievakuasi. Sejak tragedi itu, Gua Nutty Putty ditutup dan karena jenazah Jones tidak dapat dipindahkan, situs tersebut kini dianggap sebagai makam bagi John. Saat ini, para pengunjung di pintu masuk Gua Nutty Putty hanya akan menemukan plakat yang didedikasikan untuk Jones dan segel beton cor di atas pintu masuk gua. Gua Nutty Putty ditutup untuk selamanya dan menjadi makam bagi John Edward Jones. (mg1)
Editor : H. Arif Riyanto