Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Membangun Generasi Anti-Bullying

Lis Retno Wibowo • Rabu, 17 Desember 2025 | 16:45 WIB

 

dr. Carla Yudhitya
dr. Carla Yudhitya

Oleh : dr. Carla Yudhitya

Fenomena bullying atau perundungan di Indonesia terus meningkat. Bullying memberikan dampak negatif pada kesehatan fisik dan mental, baik bagi korban, pelaku, maupun orang yang menyaksikan bullying.

Bullying adalah bentuk kekerasan yang dilakukan seseorang atau sekelompok orang kepada individu yang tidak berdaya, baik secara fisik, verbal, maupun melalui dunia digital (cyberbullying).

Dampak bullying sangat signifikan terhadap perkembangan otak anak. Dampak bullying bagi mental bisa berupa kecemasan, depresi, bahkan depresi berat yang berujung pada keinginan untuk mengakhiri hidup.

Faktor yang menjadi penyebab bullying adalah faktor individu dan faktor lingkungan.

Dimana faktor individu seperti temperamen, emosi dan kognitif problem solving yang rendah.

Faktor lingkungan seperti pola asuh orangtua, lingkungan keluarga, sekolah, Masyarakat dan media.

Program pencegahan bullying di sekolah dengan sekolah memiliki peraturan sanksi kepada siswa yang melakukan bullying.

Sekolah melakukan sosialisasi anti-bullying, dan menciptakan iklim saling menghormati dan menghargai sesama. Program pencegahan ini perlu keterlibatan antara sekolah dan orangtua murid.

Peran keluarga dalam pencegahan bullying seperti memberikan kenyamanan keharmonisan dan kepercayaan pada anak, mengadakan diskusi mengenai empati, sensitivitas, dan nilai-nilai keluarga.

Kemudian, mengajarkan anak cara memvalidasi emosi dan mengekspresikan rasa marah dengan tepat, berdiskusi mengenai fenomena bullying dari media massa. Juga mengajarkan anak maaf, minta maaf dan berbuat baik terhadap orang lain.

Anak perlu diajarkan untuk menanamkan konsep diri positif, self esteem positif, regulasi emosi dan empati, menghargai personal boundaries diri sendiri maupun orang lain.

Selain itu, melatih anak untuk mempunyai keterampilan menyelesaikan masalah dengan baik.

Beberapa hal yang harus dilakukan orangtua apabila anak menjadi korban bully adalah tetap tenang dan berusaha mencari tahu detail kejadian. Kemudian, memvalidasi perasaan anak ketika menjadi korban bullying.

Perlu mengajak anak mendiskusikan kejadian bullying yang dia alami (siapa, apa, di mana). Lalu,  observasi fisik-kognitif emosi dan perilaku anak.

Tak kalah penting adalah melaporkan tindak kekerasan kepada sekolah dan berkonsultasi dengan psikiater/psikolog. (*/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
#bullying #perundungan #verbal #kekerasan