Artikel Ilmiah Berita Entertainment Features Jateng Kecantikan Khazanah Lifestyle Magelang Makan Enak Mungkid Nasional Olahraga Otomotif Piknik Pojok Kampung Semarang Temanggung Travel Viral Wonosobo

Transformasi Kelistrikan Menuju Energi Bersih

H. Arif Riyanto • Rabu, 12 November 2025 | 03:26 WIB
Diska Zaena Wulandari, Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar
Diska Zaena Wulandari, Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar

Oleh: Diska Zaena Wulandari

RADARMAGELANG.ID--Pemerintah Indonesia menargetkan pencapaian Net Zero Emission (NZE) pada tahun 2060. Komitmen NZE ini sangat penting karena sektor kelistrikan masih menjadi penyumbang utama emisi karbon. Dominasi pembangkit berbasis batu bara dan minyak membuat upaya NZE penuh tantangan.

Kondisi tersebut menjadikan emisi karbon terus meningkat dan semakin jauh dari target NZE. Oleh karena itu, transformasi kelistrikan menjadi langkah utama untuk mewujudkan NZE. Transformasi NZE hanya dapat dicapai jika energi baru terbarukan dimanfaatkan secara optimal.

Pengembangan energi baru terbarukan menjadi kunci dalam mendukung tercapainya target energi bersih. Potensi energi baru terbarukan di Indonesia sangat melimpah karena kaya sinar matahari, angin, air, dan panas bumi.

Pembangkit listrik berbasis energi baru terbarukan meliputi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS), Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB), Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA), hingga Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTPB).

Meskipun besar, pemanfaatan energi baru terbarukan masih terbatas akibat kendala biaya, teknologi, dan kebijakan. Jika digarap serius, energi baru terbarukan dapat menekan ketergantungan pada energi fosil secara signifikan.

Selain itu, pengembangan energi baru terbarukan bisa diperkuat dengan inovasi energi alternatif seperti (Pembangkit Listrik Tenaga Sampah) PLTSa. Salah satu inovasi energi terbarukan yang menjanjikan adalah PLTSa. Teknologi PLTSa mampu mengubah sampah rumah tangga menjadi energi listrik yang bermanfaat.

Proses konversi PLTSa dapat dilakukan dengan metode termal maupun biogas sesuai kebutuhan. Beberapa kota besar, seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung memiliki potensi besar untuk membangun PLTSa. Dengan demikian, PLTSa tidak hanya berfungsi sebagai penghasil listrik, tetapi juga sebagai solusi lingkungan. Keberhasilan PLTSa sangat erat kaitannya  dengan persoalan sampah yang semakin mendesak untuk diatasi.

Masalah sampah di kota-kota besar semakin sulit dikendalikan seiring pertumbuhan penduduk. Penumpukan sampah sering menimbulkan bau tidak sedap dan mencemari lingkungan. Jika tidak dikelola, sampah dapat menghasilkan emisi karbon yang memperparah perubahan iklim. Dengan adanya teknologi pengolahan, sampah justru bisa diubah menjadi sumber energi bersih. Artinya, sampah tidak lagi dilihat sebagai masalah, melainkan sebagai peluang bagi penyediaan energi. Pemanfaatan sampah untuk energi tentu memerlukan peran aktif pemerintah sebagai pembuat kebijakan.

Peran pemerintah sangat penting dalam mendorong pengembangan teknologi energi bersih. Melalui regulasi yang jelas, pemerintah dapat mempercepat investasi pembangunan PLTSa. Selain itu, pemerintah perlu memberikan insentif agar sektor swasta tertarik mengelola sampah menjadi energi.

Dalam praktiknya, kebijakan pemerintah akan lebih efektif jika didukung partisipasi masyarakat luas. Dukungan pemerintah yang konsisten akan memperkuat langkah menuju sistem energi yang berkelanjutan. Namun, keberhasilan kebijakan pemerintah juga membutuhkan peran aktif mahasiswa sebagai agen perubahan.

Keterlibatan mahasiswa menjadi kunci dalam mendukung pengembangan energi bersih. Sebagai generasi muda, mahasiswa memiliki kepedulian tinggi terhadap isu lingkungan dan keberlanjutan. Melalui penelitian, mahasiswa dapat mengembangkan inovasi teknologi untuk meningkatkan efektivitas PLTSa.

Dengan edukasi, mahasiswa mampu membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya memilah sampah. Gerakan sosial yang dilakukan mahasiswa juga dapat menjadi jembatan antara masyarakat dan pemerintah. Oleh karena itu, kolaborasi yang melibatkan mahasiswa akan memperkuat transformasi kelistrikan menuju energi bersih. (*/aro)

Mahasiswa Program Studi S1 Teknik Elektro, Fakultas Teknik, Universitas Tidar

Editor : H. Arif Riyanto
#Fakultas Teknik #teknik elektro #Net zero emission #Universitas Tidar Magelang