Ubah Nilai Filosofis Asketisme Manuskrip Kuno Jadi Karya Audio Visual Inklusif

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Selasa, 29 September 2026 | 17:32 WIB
Diseminasi Karya Internal di Ndalem Kenyo, Gang Sukoyoso, Kramatan, Wonosobo, Senin (28/9/2026) malam. (Istimewa)
Diseminasi Karya Internal di Ndalem Kenyo, Gang Sukoyoso, Kramatan, Wonosobo, Senin (28/9/2026) malam. (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Eksplorasi gagasan kreatif generasi muda di daerah terus melahirkan karya sarat makna.

Salah satunya ditunjukkan Markandeya Project, wadah kreatif independen asal Wonosobo.

Komunitas riset budaya dan musik ini membedah nilai filosofis asketisme melalui sajian film drama musikal bertajuk Berhenti Meminta.

Karya tersebut diperkenalkan ke publik dalam ajang Diseminasi Karya Internal di Ndalem Kenyo, Gang Sukoyoso, Kramatan, Wonosobo, Senin (28/9/2026) malam.

Tidak sekadar pemutaran film, gelaran malam itu juga diisi diskusi kurasi bersama ilustrator Doni Singadikrama serta pendiri Sekitar Kita Kreativa (SKK) Moch Alvi.

Penulis naskah, pencipta lagu, sekaligus editor film Berhenti Meminta, Ahmad Ervan Muzaki, mengungkapkan gagasan film tersebut berawal dari penelusuran tim terhadap manuskrip kuno figur Markandeya.

Meski begitu, sosok Markandeya tidak diangkat secara langsung untuk menjaga kesakralan ajaran Hindu.

Baca Juga: Pemkab Temanggung Gelar Anugerah Kebudayaan 2026 untuk Dua Kategori Insan Seni Budaya

”Kami menyerap esensi ajaran asketisme. Pesan utamanya mengajak kita mengontrol ego, berhenti memburu validasi eksternal, dan menjalani hidup dengan lebih pasrah atau legowo,” papar Ervan di sela acara.

Film yang mendapat dukungan program Dana Indonesiana dari Kementerian Kebudayaan bekerja sama dengan LPDP Kementerian Keuangan ini diproduksi selama enam bulan.

Menariknya, proses kreatif Berhenti Meminta mengusung semangat kolaborasi inklusif lintas disiplin.

Sineas, seniman tari, pelukis, hingga kelompok musik tradisi saling bahu-membahu.

Komunitas ini menggamit Hengki yang memainkan instrumen musik khas Wonosobo Bundengan, Mak Wiwin sebagai pesinden, serta Abian Dafa yang memamerkan seni lukis abstrak.

Bahkan, siswa-siswi SLB C Budi Asih Wonosobo dilibatkan langsung dalam bagian musik gamelan sekaligus pameran karya Batik Grahita.

Ervan, lulusan STMM MMTC Yogyakarta yang juga berprofesi sebagai programmer berharap hadirnya Markandeya Project mampu mendorong tumbuh kembangnya ruang ekspresi bagi milenial dan gen Z di daerah.

”Ruang komunitas itu krusial agar keresahan dan gagasan anak muda bisa tersalurkan menjadi karya nyata. Tidak perlu takut dianggap 'aneh' atau merasa insecure. Setiap orang punya keunikannya sendiri, yang terpenting terus berkarya,” pungkas Ervan. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
drama musikal berhenti meminta Markandeya Project