RADARMAGELANG.ID, Temanggung- Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan pegunungan Temanggung terus menghantui.
Dalam dua hari berturut-turut, kebakaran terjadi di lereng Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing. Total luasan lahan terdampak mencapai 1,93 hektare.
Kalak BPBD Temanggung, Totok Nursetyanto menerangkan, kebakaran pertama terjadi di kawasan hutan Gunung Sindoro, Sabtu (5/9/2026).
Api muncul di Petak 11 J Blok Seceker, RPH Kwadungan, BKPH Temanggung, KPH Kedu Utara, wilayah Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo.
Dua titik api ditemukan di lokasi dengan luasan masing-masing sekitar 0,17 hektare dan 0,04 hektare. Total area yang terbakar mencapai sekitar 0,21 hektare.
Berkat respons cepat tim gabungan, api berhasil dipadamkan kurang dari satu jam.
Baca Juga: Hutan Pinus Perhutani Kalikajar Seluas 1,2 Hekhate Terbakar
“Pas di kawasan hutan Sindoro memang pemadaman dilakukan dengan membuat sekat bakar serta memukul titik-titik api secara manual,” katanya saat diwawancara, Kamis (10/9/2026).
Namun, karhutla di lereng gunung tidak berhenti. Sehari berselang, giliran lereng Gunung Sumbing yang terbakar.
Si jago merah mengamuk di kawasan Perum Perhutani Petak 15-4 Blok Prantean, RPH Kecepit, BKPH Temanggung, KPH Kedu Utara, Desa Batursari, Kecamatan Kledung.
Kebakaran yang dilaporkan pada Minggu (6/9/2026), menghanguskan sekitar 1,72 hektare vegetasi hutan.
Api berhasil dikendalikan setelah petugas gabungan melakukan pemadaman hingga Minggu petang.
Kejadian beruntun tersebut menjadi perhatian serius. Karena kondisi vegetasi di sejumlah kawasan pegunungan di Temanggung mulai mengering.
"Kalau posisi di atas, terutama sekitar pos 4, sudah cokelat semua dan kering. Sekali kena pemicu api bisa cepat habis," ujar Totok.
Menurutnya, kondisi di kawasan Sindoro dan Sumbing saat ini cukup rentan. Rerumputan dan ilalang mulai mengering. Sementara angin di kawasan pegunungan juga berpotensi membawa bara api ke lokasi lain.
Karena itu, masyarakat yang beraktivitas di sekitar hutan diminta tidak menggunakan api untuk membersihkan lahan.
Penggunaan api dikhawatirkan memicu kebakaran apabila bara terbawa angin.
"Sebisa mungkin tidak menggunakan api. Angin yang cukup kencang bisa membawa bara dan menimbulkan titik api baru," tegas Totok.
BPBD belum dapat memastikan penyebab dua kebakaran di kawasan gunung tersebut. Saat ini, peristiwa itu masih dalam proses penyelidikan kepolisian.
"Kalau penyebabnya kami belum tahu. Masih proses dari kepolisian. Yang jelas ada unsur api, entah disengaja atau tidak," jelasnya.
BPBD mengingatkan masyarakat untuk segera melaporkan apabila melihat kepulan asap atau titik api di kawasan hutan.
Deteksi dan penanganan sejak dini dinilai penting agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.
Selain warga, imbauan juga ditujukan kepada para pendaki. Dalam kondisi kawasan yang mulai kering, pendaki diminta tidak membuat api unggun.
Untuk kondisi darurat, seperti mengalami kedinginan atau hipotermia, pendaki diminta segera berkomunikasi dengan pengelola basecamp. Supaya mendapatkan pertolongan tanpa harus membuat api.
"Jangan sekali-kali membuat api karena kondisi gunung sekarang cukup kering. Sedikit saja kena bara api, apalagi api yang masih menyala, sangat berbahaya," tegas Totok. (dev/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo