Pemkab Wonosobo Perkuat Tiga Sentra Pangan Utama

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Senin, 7 September 2026 | 21:15 WIB
High level meeting yang diadakan Pemkab Wonosobo bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Pendopo Bupati, Jumat (4/9/2026). (Dok Diskominfo Wonosobo)
High level meeting yang diadakan Pemkab Wonosobo bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Pendopo Bupati, Jumat (4/9/2026). (Dok Diskominfo Wonosobo)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Pemkab Wonosobo terus mematangkan strategi menjaga stabilitas harga dan pasokan pangan.

Tak sekadar memantau pergerakan harga di pasar, skema penguatan ekosistem pangan dari hulu ke hilir kini dipacu secara menyeluruh. 

Mulai dari produksi di tingkat petani, kelancaran distribusi, kepastian pasar melalui offtaker, hingga digitalisasi akses pangan bagi konsumen.

Sekretaris Daerah Wonosobo One Andang Wardoyo menegaskan, fokus Pemkab saat ini adalah memperkuat tiga kluster sentra pangan utama yakni beras, hortikultura, dan bawang.

"Sentra beras di Selomerto, Wadaslintang, Kertek, Kaliwiro, dan Kalikajar sejauh ini mampu menyuplai lebih dari 66 persen kebutuhan daerah.

Sedangkan Kalikajar menjadi tulang punggung kluster bawang dengan menyumbang lebih dari 97 persen produksi lokal," papar Andang pekan lalu (4/9/2026) dalam acara high level meeting.

Baca Juga: Pemkab Wonosobo Gelar High Level Meeting: Jaga Daya Beli, Perkuat Deteksi Dini Gejolak Harga

Namun, penguatan produksi di lapangan terganjal lonjakan biaya input pertanian. Kenaikan harga pupuk non-subsidi sejak awal 2025 menjadi tekanan berat bagi petani hortikultura.

Harga NPK plus melambung hingga 61,9 persen, Nitrea melonjak 97,4 persen, dan ZA naik 68,9 persen. Kondisi ini mengancam margin petani serta keberlanjutan produksi.

Menyikapi hal itu, intervensi infrastruktur hulu dan hilir mulai digenjot. Pemkab bersama Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) membenahi jaringan irigasi seluas 21.050 hektare.

Fasilitas cold storage, penyediaan benih tahan cuaca, serta keandalan rantai distribusi juga masuk dalam skala prioritas.

Sektor logistik turut mendapat perhatian serius. Menyusul penurunan alokasi anggaran pemeliharaan jalan dari Rp 188,8 miliar pada 2022 menjadi Rp 63,4 miliar tahun ini, pembatasan tonase angkutan ketat diberlakukan agar jalur distribusi tidak rusak.

Di kawasan perkotaan, penataan arus bongkar muat di Pasar Induk Wonosobo dan penguraian titik kemacetan di Simpang Kertek, Selomerto, serta Garung dipacu.

Pengawasan rantai pasok ini dinilai krusial untuk menekan biaya logistik agar harga komoditas di tingkat konsumen tetap aman. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
sentra pangan utama One Andang Wardoyo pangan inflasi