Pemkab Wonosobo Gelar High Level Meeting: Jaga Daya Beli, Perkuat Deteksi Dini Gejolak Harga

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 17:20 WIB
High level meeting yang diadakan Pemkab Wonosobo dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Pendopo Bupati, Kamis (3/9/2026). (Diskominfo Wonosobo for Jawa Pos Radar Magelang)
High level meeting yang diadakan Pemkab Wonosobo dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah di Pendopo Bupati, Kamis (3/9/2026). (Diskominfo Wonosobo for Jawa Pos Radar Magelang)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Wonosobo berkolaborasi dengan Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Tengah mengadakan High Level Meeting (HLM) Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID). 

Langkah krusial ini mendudukkan seluruh pemangku kepentingan dalam satu meja. Mulai dari lintas perangkat daerah, BI, Badan Pusat Statistik (BPS), pelaku usaha, hingga perwakilan petani, peternak, dan pedagang.

Fokus utamanya adalah mengunci ketersediaan pasokan, menjamin kelancaran distribusi, dan menjaga keterjangkauan harga komoditas pokok di pasar.

Bupati Wonosobo Afif Nurhidayat menegaskan, stabilisasi harga pangan tak boleh sekadar dipandang sebagai angka statistik inflasi di atas kertas. Karena gejolak harga berdampak langsung pada urusan dapur dan kesejahteraan warga.

Baca Juga: Jawa Tengah Terbaik Nasional Kendalikan Inflasi, Ahmad Luthfi Andalkan Kolaborasi hingga Desa

"Menjaga ketersediaan pangan dan keterjangkauan harga bukan sekadar menjaga angka inflasi, tetapi menjaga daya beli dan kesejahteraan masyarakat. Inilah yang perlu terus kita kerjakan bersama melalui sinergi dan kolaborasi yang kuat," tegas Afif di hadapan peserta HLM yang digelar pada Jumat (4/9/2026) lalu. 

Afif menyoroti sensitivitas komoditas strategis seperti beras, cabai, dan daging. Menurutnya, lonjakan harga yang tak terkendali pada komoditas tersebut bakal langsung menggerus daya beli rumah tangga secara signifikan.

Karena itu, penanganan inflasi tidak bisa lagi memakai pola pemadam kebakaran yang baru bergerak saat harga telanjur melambung. Pemkab mendorong pendekatan preventif berbasis data terintegrasi.

Kepala Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho menyampaikan, secara tahunan inflasi Wonosobo masih berada dalam kondisi terkendali.

Namun, perkembangan inflasi bulanan perlu mendapat perhatian karena tercatat sedikit lebih tinggi dibandingkan Jawa Tengah.

Pada Agustus 2026, inflasi Wonosobo tercatat 0,49 persen secara bulanan (mtm) dan 3,01 persen secara tahunan (yoy).

Angka inflasi tahunan tersebut masih berada di bawah inflasi Jawa Tengah sebesar 3,08 persen dan inflasi nasional sebesar 3,19 persen.

“Inflasi bulanan Wonosobo yang sedikit lebih tinggi daripada Jawa Tengah ini yang perlu menjadi perhatian kita bersama. Khususnya karena tekanan masih ada dan berasal dari komoditas pangan,” kata Noor.

Ia menegaskan pangan tetap menjadi salah satu kunci pengendalian inflasi di Wonosobo. Dalam beberapa periode terakhir, komoditas seperti aneka cabai, bawang merah, beras, dan bawang putih turut memberikan tekanan terhadap perkembangan harga.

Perhatian tersebut semakin penting karena Wonosobo memiliki kontribusi yang cukup besar terhadap inflasi Jawa Tengah, yakni sekitar 8,12 persen. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
kantor perwakilan bank indonesia jawa tengah M Noor Nugroho High Level Meeting BUpati Wonosobo afif Nurhidayat tim pengendali inflasi daerah