Pemurnian Tembakau Didukung DBHCHT : Sobo, Markotop, dan Jatong Varietas Unggulan Wonosobo

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Jumat, 4 September 2026 | 18:53 WIB
Kegiatan pemurnian varietas tahap uji multi lokasi Kelompok Tani Semangat Karya Desa Kapencar, Kecamatan Kertek. (Dok Diskominfo Wonosobo)

 
Kegiatan pemurnian varietas tahap uji multi lokasi Kelompok Tani Semangat Karya Desa Kapencar, Kecamatan Kertek. (Dok Diskominfo Wonosobo)  

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Pemerintah Kabupaten Wonosobo bersama petani dan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengembangkan varietas tembakau lokal untuk mendapatkan tanaman unggulan yang memiliki karakter khas daerah serta bernilai ekonomi tinggi.

Pengembangan tersebut, salah satunya dilakukan di Desa Kapencar, Kecamatan Kertek, Wonosobo.

Memasuki tahun ketiga, sebanyak 12 varietas tembakau asli Wonosobo diuji secara bertahap untuk menentukan varietas yang paling potensial dikembangkan dan diajukan dalam proses sertifikasi.

Kegiatan pengembangan tersebut menggunakan anggaran yang bersumber dari Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT).

Pemanfaatan DBHCHT di Wonosobo mencakup berbagai program yang berkaitan dengan peningkatan kesejahteraan masyarakat, termasuk kegiatan yang mendukung penguatan sektor tembakau dan ekonomi masyarakat.

Baca Juga: Menuju Varietas Unggul Melalui DBHCHT Pemkab Cari Tembakau Asli Wonosobo

Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Wendi Fitoyo, A.Md., menyampaikan masing-masing varietas ditanam dengan perlakuan yang sama dan dilakukan dalam tiga kali ulangan.

Metode tersebut dilakukan agar karakter dan perkembangan masing-masing varietas dapat diamati secara lebih objektif.

“Pengamatan tidak hanya melihat produktivitas, tetapi juga kualitas daun, ketahanan terhadap hama dan penyakit, serta kesesuaian dengan kebutuhan pasar,” ujar Wendi.

Menurut dia, proses pengamatan dilakukan bersama BRIN, penyuluh pertanian, dan kelompok tani.

Hasil pengamatan tersebut nantinya menjadi salah satu dasar untuk menentukan varietas yang memiliki performa terbaik sebelum memasuki tahapan sertifikasi.

Setelah melalui proses pendampingan selama tiga tahun, sejumlah varietas mulai menunjukkan hasil yang menjanjikan.

Dari 12 varietas yang diuji, tiga di antaranya, yakni Sobo, Markotop, dan Jatong, dinilai memiliki performa paling menonjol dari sisi kualitas maupun potensi ekonomi.

Hal tersebut, selaras dengan informasi yang disampaikan Ketua Kelompok Tani Semangat Karya Desa Kapencar, Suhardi.

Ketiga varietas tersebut menunjukkan kualitas yang cukup baik. Berdasarkan hasil pengujian laboratorium BRIN, harga jualnya dapat mencapai sekitar Rp70 ribu per kilogram.

Pengamatan tanaman tembakau untuk pemurnian varietas tembakau Kelompok Tani Tegal Makmur. (Dok Diskominfo Wonosobo)
Pengamatan tanaman tembakau untuk pemurnian varietas tembakau Kelompok Tani Tegal Makmur. (Dok Diskominfo Wonosobo)

 

“Ketiga varietas ini menunjukkan hasil yang cukup baik. Harapannya nanti bisa menjadi varietas unggulan Wonosobo,” ucapnya.

Selain kualitas, produktivitas juga menjadi salah satu pertimbangan penting dalam pengembangan tembakau.

Dalam kondisi pertumbuhan normal, satu hektare lahan dapat menghasilkan sekitar sembilan ton tembakau basah. Namun, produktivitas dan kualitas hasil panen sangat dipengaruhi kondisi cuaca.

Curah hujan yang terlalu tinggi menjadi salah satu tantangan bagi petani. Sebaliknya, musim kemarau yang datang pada waktu yang tepat dinilai dapat mendukung kualitas daun sekaligus proses pascapanen.

Saat ini, hasil rajangan tembakau dari Desa Kapencar sebagian besar masih dipasarkan ke wilayah Temanggung dan Magelang.

Para petani berharap pengembangan varietas lokal dapat meningkatkan posisi tawar dan daya saing tembakau Wonosobo.

Dengan adanya varietas yang memiliki karakter jelas dan mendapatkan pengakuan melalui proses resmi, peluang pengembangan pasar diharapkan semakin terbuka.

Tanaman tembakau yang dikembangkan untuk varietas unggulan Wonosobo. (Dok Diskominfo Wonosobo)
Tanaman tembakau yang dikembangkan untuk varietas unggulan Wonosobo. (Dok Diskominfo Wonosobo)

 

Pengembangan varietas tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkuat potensi ekonomi masyarakat di daerah penghasil tembakau.

Pemerintah Kabupaten Wonosobo sendiri terus mengembangkan pemanfaatan DBHCHT sesuai ketentuan yang berlaku.

Regulasi daerah juga menunjukkan bahwa DBHCHT diarahkan untuk mendukung kesejahteraan masyarakat, termasuk petani dan buruh tani tembakau.

Target Diluncurkan 2028

Jika seluruh tahapan penelitian, pemurnian, dan pengujian berjalan sesuai rencana, beberapa varietas terbaik diproyeksikan dapat diluncurkan secara resmi pada 2028.

Kehadiran varietas unggulan tersebut diharapkan menjadi langkah penting bagi Wonosobo untuk memiliki identitas tembakau lokal yang lebih kuat.

Bagi petani, keberadaan varietas unggulan tidak hanya berkaitan dengan identitas daerah, tetapi juga diharapkan memberikan nilai tambah terhadap hasil produksi dan membuka peluang pasar yang lebih luas.

Dari lereng Desa Kapencar, upaya tersebut kini terus berjalan. Dua belas varietas diuji, tiga mulai menunjukkan keunggulan, dan satu harapan besar sedang dibangun, untuk menghadirkan varietas tembakau lokal Wonosobo yang berkualitas.

Memiliki karakter khas, mendapatkan pengakuan secara resmi, serta mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
pengembangan varietas Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau BRIN DBHCHT tembakau