Kemas Tradisi Golek Tholo Desa Slukatan Wonosobo Jadi Paket Wisata Edukasi

Sigit Rahmanto • Dipublikasikan Jumat, 28 Agustus 2026 | 16:29 WIB
Dua remaja membawa boneka dari gulungan jarik yang dikenal dengan golek tholo di Desa Slukatan. (Istimewa)
Dua remaja membawa boneka dari gulungan jarik yang dikenal dengan golek tholo di Desa Slukatan. (Istimewa)

 

RADARMAGELANG.ID, Wonosobo– Pelestarian budaya di Kabupaten Wonosobo bertransformasi menjadi komoditas wisata bernilai tinggi.

Desa Wisata Slukatan, Kecamatan Mojotengah, mengemas tradisi sakral Golek Tholo (boneka tradisional dari gulungan kain jarik) menjadi daya tarik wisata edukasi berbasis pemberdayaan masyarakat.

Langkah ini diambil untuk menyelamatkan seni tradisi lokal yang mulai terancam punah sekaligus memperluas pemahaman publik terkait nilai spiritual di baliknya.

Ketua Penggagas Desa Wisata Slukatan, Ahmad Hafid, mengungkapkan selama ini masyarakat luas hanya mengenal Golek Tholo sebatas piranti ngeneng-ngeneng atau alat menenangkan bayi menangis.

Padahal, pembuatan boneka kain ini menyimpan ritual mendalam yang melibatkan tembang sakral dan tarian khusus.

Baca Juga: Tiga Destinasi Wisata Uji Coba QRIS : Gelanggang Renang Mangli, Kalianget, dan Wisata Bukit Telaga Menjer

"Pemahaman masyarakat sampai sekarang masih sebatas buat ngeneng-ngeneng saja. Padahal ada lagu, tarian, dan makna filosofis kain jarik yang melingkupi fase kehidupan manusia dari pernikahan hingga kematian," ujar Hafid.

Menurutnya, keberadaan Golek Tholo bermula dari keterisolasian wilayah Dusun Silandak di masa lalu.

Kala jalan desa masih berupa tanah dan akses ke kota sulit, warga menciptakan mainan anak dari lipatan kain jarik.

Seiring berjalannya waktu, piranti ini berkembang menjadi bagian dari ritual pengasuhan, penyapihan balita, hingga sarana doa penyembuhan.

Melihat potensi narasi budaya yang kuat tersebut, pengelola Desa Wisata Slukatan mengintegrasikannya ke dalam paket wisata experiential.

Wisatawan yang datang tidak hanya diajak melihat wujud boneka kain, tetapi dipandu mempraktikkan cara pembuatan, melantunkan tembang sakral, hingga memahami filosofi spiritual kain jarik dalam ritus masyarakat Jawa.

Transformasi fungsi dari ritual harian menjadi atraksi budaya ini diharapkan mampu mendongkrak perekonomian warga lokal tanpa merusak nilai kesakralannya.

"Melalui paket wisata ini, kami berupaya menjaga agar tata cara pembuatan, tembang, dan gerakan tarinya tidak hilang ditelan zaman, sekaligus membawa dampak ekonomi bagi warga Slukatan," pungkasnya. 

Upaya pengembangan Golek Tholo melengkapi kekayaan potensi yang dimiliki Desa Slukatan.

Berada di kawasan lereng pegunungan Kecamatan Mojotengah, desa ini populer sebagai pintu gerbang pendakian menuju Gunung Bismo dengan lanskap perkebunan tembakau, kopi dan sayuran warga. 

Slukatan juga menyimpan kekayaan budaya lain berupa keberadaan anak-anak berambut gimbal beserta tradisi pemotongannya yang khas. (git/lis)

Editor : Lis Retno Wibowo
golek tholo desa slukatan tradisi sakral wisata edukasi