RADARMAGELANG.ID, Wonosobo - Apalah arti sebuah nama, yang penting adalah aksi nyata. Pernyataan itu cocok disematkan pada Komunitas Tanpa Nama.
Mereka terus beraksi: menanam bibit pohon, perawatan dan bersih bersih sungai. Kesemuanya, untuk kelestarian lingkungan.
Komunitas Tanpa Nama bermarkas di Desa Bowongso, Kecamatan Kalikajar, Kabupaten Wonosobo. Mereka adalah sekelompok warga yang peduli pada kelestarian lingkungan.
Terus menanam pohon di lereng barat Gunung Sumbing selama bertahun-tahun tanpa ingin dikenal.
Tanpa Nama sebuah nama yang sengaja dipilih agar kerja mereka tidak pernah tercatat sebagai jasa perorangan.
Tanpa Nama lahir dari kegelisahan sederhana: pertambahan penduduk yang terus terjadi setiap tahun, sementara debit air tidak ikut bertambah.
Jika dibiarkan, desa ini diperkirakan akan menghadapi krisis air bersih dalam skala besar.
Dari kegelisahan itulah muncul semangat konservasi air yang kini menjadi inti dari seluruh kegiatan mereka.
Nama "Tanpa Nama" merupakan akronim dari ungkapan berbahasa Jawa, "tanpo ono alam, manungso ajur", tanpa ada alam, manusia akan hancur.
Filosofi ini digagas oleh Sriono Edy Subekti yang akrab disapa Eed, penggerak komunitas tersebut.
Pemikiran itu pula yang mendasari keputusan komunitas ini untuk fokus pada isu konservasi air.
Menurut Eed, air adalah kebutuhan paling dasar bagi seluruh makhluk hidup, namun kini sumber daya tersebut telah banyak diprivatisasi oleh perusahaan-perusahaan air minum kemasan.
Sejak awal berdiri pada 2016, Tanpa Nama sengaja tidak membentuk struktur organisasi formal.
Keputusan ini bukan tanpa alasan. Eed menjelaskan, keikhlasan menjadi nilai yang paling ingin dijaga dari gerakan ini.
"Tanpa Nama tidak punya struktur organisasi, tujuannya untuk menjaga keikhlasan kita untuk sedikit merawat alam.
Kami punya ketakutan, begitu ada struktur organisasi dan menjadi lembaga atau organisasi formal, maka akan membatalkan niat kita untuk berbuat baik terhadap alam, walaupun yang kita lakukan itu kecil dengan dasar rasa ikhlas," ujarnya.
Meski tanpa struktur baku, keanggotaan Tanpa Nama terus berkembang.
Saat ini kegiatan komunitas melibatkan Kelompok Tani Bina Sejahtera, Kelompok Tani Agro Mania, dan Kelompok Tani Mendho Adji. Padahal, cikal bakal gerakan ini bermula dari komitmen pribadi Eed sejak tahun 1993, ketika ia bernazar menanam pohon setiap tahun meski hanya satu bibit.
Komunitas ini menjalankan kegiatan pada hari Minggu, dengan agenda wajib setiap 35 hari sekali (selapan dino).
Rangkaian kegiatan itu meliputi susur sungai, pengukuran debit sumber mata air, pendataan vegetasi, pemetaan potensi sumber mata air.
Lalu pungut sampah di sungai, perawatan pohon yang telah ditanam, hingga penanaman bibit baru pada musim tanam.
Komunikasi antaranggota berjalan cair tanpa mekanisme koordinasi formal. "Kita tiap malam pasti ngopi bareng, dan sekecil apapun kita diskusi terkait alam," ujar Eed.
Untuk kegiatan yang menempuh medan ekstrem, seperti susur sungai menuju empat titik mata air terbaru Kedung Jero, Tegong, Jumbleng, dan Watu Lawon keselamatan tim menjadi prioritas utama.
Tanpa Nama beruntung memiliki anggota yang juga tergabung di Bowongso Rescue, yang berperan sebagai pemandu di lokasi-lokasi berisiko tinggi.
Untuk jenis pohon yang ditanam seperti beringin, bambu petung, gondang, loa, karet kebo, kantil, manglit, dan pule. Pohon beringin memiliki akar yang menyerap dan menyimpan air tanah secara ekstra.
Maka mereka memilih penanaman beringin. Namun sempat menuai penolakan keras dari sebagian warga.
Pohon beringin diyakini sebagai rumah bagi makhluk halus, sehingga sejumlah pohon yang telah ditanam dicabut, dipotong, bahkan digagalkan.
Menghadapi hal itu, Eed dan kawan-kawan memilih tidak larut dalam konflik. "Kita berusaha untuk sosialisasi ke warga terkait pentingnya pohon beringin sebagai penjaga sumber mata air," katanya.
Kerja panjang sejak 2016 itu kini menampakkan hasil. Berdasarkan data yang dihimpun komunitas, ditemukan 41 titik sumber mata air baru di kawasan lereng Sumbing hasil dari rembesan tangkapan air tanah yang terbentuk seiring bertumbuhnya pohon-pohon.
"Kita butuh alam, namun tidak berkebalikan. Bencana itu cuma pilihan diksi manusia, hakikatnya alam sedang 'suksesi'," tandas Eed. (setia adiana/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo