RADARMAGELANG.ID, Wonosobo- Memasuki usia ke-201 tahun, Kabupaten Wonosobo berada di persimpangan jalan sejarah yang krusial.
Di tengah dinamika regulasi nasional dan tantangan ekonomi, daerah berhawa sejuk ini dituntut untuk tidak lagi bergantung penuh pada dana transfer pemerintah pusat. Pilihan strategis yang harus diambil adalah bergerak maju menuju kemandirian pendapatan asli daerah (PAD).
Semangat transformasi tersebut disuarakan oleh Wakil Ketua DPRD Kabupaten Wonosobo, Achmad Faqih. Momen peringatan Hari Jadi ke-201 dinilainya bukan sekadar seremonial tahunan, melainkan titik balik penting untuk meletakkan fondasi ekonomi daerah yang lebih kokoh dan mandiri.
"Di usia ke-201 ini, Wonosobo harus berani bertransformasi. Kita tidak bisa terus-menerus nyaman bergantung pada dana transfer. Kemandirian PAD adalah kunci agar pembangunan kita berdaulat dan hasilnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat di seluruh pelosok," ujar Achmad Faqih.\
Baca Juga: Hari Jadi ke-201 Kabupaten Wonosobo : Momentum Sinergi dan Inovasi di Tengah Tantangan Fiskal
Guna mewujudkan kemandirian anggaran tersebut, Achmad Faqih mendorong pemerintah daerah untuk segera mengeksekusi dua terobosan utama.
Langkah pertama adalah penerapan digitalisasi penuh pada sistem perpajakan dan retribusi daerah untuk menutup celah kebocoran, sekaligus merevisi target penerimaan berbasis potensi riil di lapangan.
Langkah kedua berfokus pada efisiensi aset dan BUMD. Ia menekankan pentingnya inventarisasi serta pemanfaatan ulang aset-aset daerah yang selama ini mangkrak agar kembali produktif.
Di saat yang sama, restrukturisasi BUMD harus dilakukan secara terukur agar mampu memberikan kontribusi deviden yang jelas bagi APBD Wonosobo.
Ia juga menegaskan komitmen DPRD dalam memperketat fungsi pengawasan.
Evaluasi pelaksanaan program tidak lagi hanya mengukur tingkat penyerapan anggaran, melainkan berfokus pada dampak nyata yang diterima oleh masyarakat.
Pendekatan ini diterapkan secara khusus pada dua sektor unggulan daerah, yakni pertanian dan pariwisata.
Melalui konsep agrowisata yang terintegrasi, eksekutif didorong untuk menciptakan sinergi nyata di mana hasil panen petani lokal dapat diserap langsung sebagai rantai pasok industri pariwisata.
Sinergi ini diharapkan tidak hanya menaikkan kelas petani lokal, tetapi juga memperpanjang lama tinggal para wisatawan.
"Di usia 201 tahun ini, saatnya Wonosobo berdaya, mandiri, dan sejahtera. Kemandirian ini bukan sekadar angka di kertas APBD, melainkan harus wujud dalam bentuk jalan yang mulus, kemiskinan yang berkurang, dan kesejahteraan yang hadir nyata di rumah-rumah warga," pungkasnya. (git/lis)
Editor : Lis Retno Wibowo